Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid Dan Akidah (bag. 8)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Faedah 19. Batas amalmu

Bismillah.

Allah berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ‘keyakinan’ itu.” (QS. Al-Hijr: 99)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

قال البخاري : قال سالم : الموت
وسالم هذا هو : سالم بن عبد الله بن عمر 

“Imam Bukhari mengatakan, ‘Salim berbicara bahwa nan dimaksud ‘keyakinan’ di sini adalah kematian.’ Salim ini adalah Salim bin Abdullah bin Umar.”

Beliau juga menjelaskan,

عن سالم بن عبد الله : ( واعبد ربك حتى يأتيك اليقين ) قال : الموت
وهكذا قال مجاهد ، والحسن ، وقتادة ، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم ، وغيره

“Dari Salim bin Abdullah mengenai makna firman Allah (yang artinya), ‘Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan.’ Beliau (Salim) mengatakan ‘yaitu kematian’. Demikianlah tafsiran dari Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan ustadz lainnya.”

(lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Hijr ayat 99)

Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan,

ويستدل بها على تخطئة من ذهب من الملاحدة إلى أن المراد باليقين المعرفة ، فمتى وصل أحدهم إلى المعرفة سقط عنه التكليف عندهم . وهذا كفر وضلال وجهل ، فإن الأنبياء – عليهم السلام – كانوا هم وأصحابهم أعلم الناس بالله وأعرفهم بحقوقه وصفاته ، وما يستحق من التعظيم ، وكانوا مع هذا أعبد الناس وأكثر الناس عبادة ومواظبة على فعل الخيرات إلى حين الوفاة . وإنما المراد باليقين هاهنا الموت

“Ayat ini juga menjadi dalil nan menunjukkan kekeliruan sebagian orang mulhid (kaum nan akidahnya menyimpang) nan menyatakan bahwa nan dimaksud kepercayaan (dalam ayat itu) adalah ma’rifah (pengetahuan alias pengetahuan mengenai Allah). Maka, kapan saja seorang di antara mereka (mulhid/sufi ekstrim alias filsuf, pent) sampai pada derajat ma’rifah, gugurlah taklif (kewajiban agama) bagi mereka. Ini adalah kekafiran dan kesesatan sekaligus kebodohan.

Sesungguhnya para nabi ‘alaihimus salam dan para sahabat (murid mereka) adalah orang nan paling berilmu tentang Allah dan paling ma’rifah terhadap hak-hak-Nya dan mengerti keagungan sifat-sifat-Nya serta apa saja nan layak diberikan kepada-Nya berupa pengagungan. Meskipun demikian, mereka adalah orang nan paling tekun beragama dan paling konsisten dalam melakukan kebaikan hingga datangnya kematian. Sesungguhnya nan dimaksud ‘keyakinan’ di dalam ayat ini adalah maut.”

Demikian penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah.

Semoga bermanfaat.

Faedah 20. Dalih pelaku syirik

Bismillah.

Salah satu argumen nan sering dikemukakan oleh para pelaku syirik adalah bahwa mereka menujukan ibadah kepada selain Allah dalam rangka mencari syafaat untuk mereka di sisi Allah. Hal ini telah diterangkan dengan gamblang di dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 18,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka (orang-orang musyrik) itu beragama kepada selain Allah nan tidak bisa mendatangkan ancaman ataupun faedah bagi mereka. Mereka mengatakan/beralasan, ‘Mereka ini adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah dengan sesuatu nan tidak diketahui-Nya di langit maupun di bumi?! Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa-apa nan mereka persekutukan.”

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan,

يعني: أنهم كانوا يعبدونها رجاء شفاعتها عند الله

“Maksudnya adalah mereka itu beragama kepada mereka (sesembahan selain Allah) dengan angan untuk bisa mendapatkan syafaatnya di sisi Allah.” (Tafsir Ath-Thabari, sumber: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura10-aya18.html)

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

وقد يغلط بعض الناس لجهله فيسمى دعوة الأموات والاستغاثة بهم وسيلة، ويظنها جائزة

وهذا غلط عظيم؛ لأن هذا العمل من أعظم الشرك بالله،

وإن سماه بعض الجهلة أو المشركين وسيلة

“Sebagian orang keliru akibat kebodohannya sehingga menamai perbuatan bermohon kepada orang nan sudah meninggal dan memohon support keselamatan kepada mereka sebagai wasilah (perantara). Mereka pun menganggap bahwa perihal itu boleh-boleh saja. Padahal, ini adalah kekeliruan nan sangat besar. Karena perbuatan ini termasuk sebesar-besar syirik kepada Allah, walaupun sebagian orang nan tolol alias kaum musyrik menyebutnya sebagai wasilah.”

وهو دين المشركين الذي ذمهم الله عليه وعابهم به،

وأرسل الرسل وأنزل الكتب لإنكاره والتحذير منه،

وأما الوسيلة المذكورة في قول الله

 : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ [المائدة:35]

فالمراد بها التقرب إليه سبحانه بطاعته،

وهذا هو معناها عند أهل العلم جميعا

“Dan pada hakikatnya adalah seperti inilah kepercayaan nan dianut oleh kaum musyrikin nan dicela oleh Allah. Sebuah aliran nan diingkari dan diperingatkan oleh para rasul dan diterangkan di dalam kitab-kitab suci.

Adapun makna ‘wasilah’ nan disebutkan dalam firman Allah (yang artinya), ‘Wahai orang-orang nan beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk menuju kepada-Nya.’ (QS. Al-Ma’idah: 35), nan dimaksud dengan wasilah di sini adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan kepada-Nya. Inilah makna nan dimaksud oleh ayat menurut para seluruh ulama.”

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas

Dari sini, kita mengetahui bahwa perbuatan sebagian orang nan bermohon dan ber-istighatsah kepada selain Allah berupa hantu alias orang nan sudah meninggal alias orang nan gaib (tidak datang dan tidak terhubung secara langsung dengan sarana telekomunikasi) adalah termasuk syirik besar nan mengeluarkan pelakunya dari kepercayaan Islam. Walaupun mereka berdasar bahwa itu dalam rangka mencari syafaat alias mencari wasilah kepada wali alias orang saleh.

Syekh Faishal Al-Jasim hafizhahullah menyebut 3 keadaan di mana bermohon kepada selain Allah itu dihukumi termasuk perbuatan syirik:

Pertama, apabila dia berdoa/meminta kepada makhluk, sesuatu nan tidak dikuasai, selain oleh Allah, seperti memberi petunjuk ke dalam hati, mengampuni dosa, memberikan keturunan, menurunkan hujan, dan sebagainya.

Kedua, apabila dia bermohon kepada orang nan sudah meninggal dan meminta kepadanya.

Ketiga, andaikan dia bermohon kepada orang nan gaib (tidak datang dan tidak berasosiasi dengannya dengan sarana telekomunikasi). Karena tidak ada nan bisa meliputi semua suara, selain Allah. Tidak ada nan bisa membebaskan dari kesulitan dari jarak jauh, selain Allah. Karena hanya Allah nan bisa mendengar semua bunyi dari mana pun datangnya.

(lihat penjelasan beliau dalam Tajrid At-Tauhid min Daranisy Syirki, hal. 24-26)

Demikian sedikit catatan nan bisa kami sajikan -ldengan taufik dari Allah semata. Semoga berfaedah bagi kita untuk menjauhkan diri dari syirik dan kekafiran. Wallahul musta’an.

Faedah 21. Ajaran pertengahan

Bismillah.

Syekh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak hafizhahullah memaparkan,

دين الإسلام توسط واعتدال، بين الغلو والتقصير. والغلو: مجاوزة الحد. والتقصير: هو نقص فيما يجب القيام به. فهذان مدخلان للشيطان على الإنسان، فالشيطان؛ إما أن يحمل الإنسان على الغلو في الدين؛ فيقع في التجاوز؛ فيبتدع في الدين ما لم يأذن به الله أو يحمله على التقصير بترك واجب، أو فعل محرم.

“Agama Islam adalah aliran nan mengajarkan sikap pertengahan dan proporsional, berada di antara sikap ghuluw/esktrim alias berlebihan dan taqshur/ sikap meremehkan. Ghuluw adalah sikap alias tindakan nan melampaui batas. Taqshir/meremehkan adalah mengurangi apa nan wajib untuk ditunaikan.

Kedua perihal ini merupakan pintu gerbang setan dalam merusak manusia. Setan bisa jadi menggiring manusia untuk bersikap ghuluw dalam berakidah sehingga dia terjerumus dalam perilaku melampaui batas/aturan sehingga membuat-buat sesuatu di dalam kepercayaan ini nan tidak mendapatkan izin dari Allah (bid’ah); alias bisa jadi setan menggiring manusia untuk bersikap taqshir/meremehkan ketaatan dengan langkah meninggalkan nan wajib alias melakukan nan haram.”

Kemudian, beliau melanjutkan,

والواجب الوقوف عند حدود الله، قال تعالى: تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا [البقرة:229] أي: بالتجاوز وهو الغلو.

وقال سبحانه: تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا [البقرة:187] وهي: المحرمات؛ فقربانها تقصير والغلو يجري في مسائل الدين كلها: الاعتقادية والعملية 

“Adapun nan wajib adalah berakhir mengikuti batas dan patokan Allah. Allah berfirman (yang artinya), ‘Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kalian melanggarnya.’ (QS. Al-Baqarah: 229), maksudnya adalah larangan melakukan melampaui batas, ialah ghuluw.

Allah juga berfirman (yang artinya), ‘Itulah batasan-batasan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya.’ (QS. Al-Baqarah: 187), maksudnya adalah jangan mendekati hal-hal nan diharamkan. Mendekati nan haram itu merupakan corak dari sikap taqshir/meremehkan ketaatan.

Adapun perbuatan ghuluw itu bisa menimpa dalam segala bagian urusan agama, baik dalam urusan akidah/ kepercayaan maupun urusan amaliah/ perbuatan.”

Sumber: https://sh-albarrak.com/article/19654

Apabila kita mencermati pengarahan para ulama, niscaya bakal tampaklah bagi kita bahwa segala corak kesesatan dan penyimpangan itu berasal dari dua perihal di atas. Yaitu, sikap ghuluw (melampaui pemisah alias berlebih-lebihan), alias sikap taqshir (meremehkan dan menyepelekan ketaatan). Di antara karena sikap ghuluw itu semakin berkembang (bahkan salah satu karena utamanya) adalah tuduhan syubhat (kerancuan pemahaman). Inilah jenis kesesatan nan menjangkiti orang-orang nan mempunyai semangat berakidah semacam sekte Khawarij di masa lampau maupun Teroris berkedok jihad di masa kini.

Di antara karena sikap taqshir itu semakin merebak dan meledak adalah akibat gelombang tuduhan syahwat (ajakan pada hal-hal nan memuaskan hawa nafsu) dan hanyut dalam keharaman. Inilah jenis penyimpangan nan pada era ini, digerakkan dan diusung oleh mereka nan meneriakkan kebebasan dan kesetaraan dengan membawa baju liberalisme Islam dan sekulerisme. Mereka nan tidak rida dengan patokan Islam dan terkagum-kagum dengan peradaban barat.

Hari ini, kita telah menjumpai masa itu, masa di mana berpegang teguh dengan Sunnah dan hukum Islam dianggap sebagai musuh bangsa dan kemajuan umat. Hari di mana iktikad Islam dituduh sebagai karena pemicu bentrok dan perpecah-belahan masyarakat. Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa memberikan nasihat dan menghendaki kebaikan bagi masyarakat dan bangsanya.

Islam mengajarkan norma ketaatan kepada ulil amri dalam perkara nan makruf. Islam menjaga kewibawaan dan kehormatan penguasa serta menjunjung-tinggi keadilan bagi segenap manusia tanpa membedakan kepercayaan dan ras alias suku bangsa. Inilah perkara nan banyak tidak dipahami oleh manusia, sehingga mereka mengira bahwa Islam mengajarkan radikalisme dan menebarkan kebencian.

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk menjadi muslim nan hakiki, nan tidak terjerumus dalam sikap ghuluw maupun sikap taqshir. Wallahul muwaffiq.

Kembali ke bagian 7: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 7)

Lanjut ke bagian 9: Bersambung

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah