Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid Dan Akidah (bag. 9)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Faedah 22. Siapa teroris tulen?

Bismillah.

Syekh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah mendapat pertanyaan.

“Banyak orang ketika memandang seorang nan alim dan giat mengaji, maka mereka pun menjulukinya dengan teroris. Bagaimana tanggapan anda? Semoga Allah berikan taufik kepada anda.”

Beliau menjawab,

“Hal ini termasuk perbuatan suuzan/buruk sangka kepada kaum muslimin. Pada diri seorang muslim, pada dasarnya terdapat kebaikan. Oleh karena itu, semestinya bersangka baik padanya. Kecuali, andaikan muncul darinya hal-hal nan menyelisihi kebenaran, maka nan semacam ini memang perlu untuk dibenahi pada momen nan tepat dan langkah nan sesuai.

Adapun andaikan muncul darinya komitmen untuk berpegang-teguh dengan aliran Nabi dan giat melakukan amal-amal saleh lantas dikomentari sebagai teroris, maka sesungguhnya orang nan sering mengucapkan komentar semacam ini dia itulah teroris nan sebenarnya. Orang nan suka menuduh macam-macam kepada hamba-hamba Allah nan saleh dan mengolok-olok mereka disebabkan sikap komitmen mereka kepada sunah, sebenarnya orang itulah nan lebih layak disebut sebagai teroris (penebar rasa takut dan kekacauan, pent).”

(Lihat Majmu’ah Rasa’il Manhajiyah wa Da’awiyah, hal. 27.)

Kaum muslimin nan dirahmati Allah, kejadian semacam ini tidak jarang kita jumpai di tengah masyarakat, jika tidak mau dikatakan banyak terjadi. Tuduhan-tuduhan kepada para pengikut sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai golongan radikal. Padahal, mereka tidak menyerukan kepada pemahaman sesat dan menyimpang. Apalagi membujuk kepada aksi-aksi terorisme dan kekacauan. Bahkan, mereka membujuk manusia untuk alim kepada pemerintah dalam hal-hal nan makruf. Para pengikut sunah pun memandang bahwa ketaatan kepada pemerintah muslim adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ini hanya salah satu contoh gimana kebenaran dan penyeru kebenaran dipojokkan dan dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan dan sumber masalah. Sementara di sisi lain, orang nan siang malam membujuk kepada kesesatan dan kerusakan dinobatkan sebagai sosok penasihat dan para penyebar maksiat justru digelari sebagai kaum nan toleran dan bijaksana. Sesungguhnya perkara ini bukanlah peralatan baru! Sejak dulu kala, kaum musyrikin pun menggelari nabi pembawa petunjuk sebagai tukang sihir alias orang gila. Bahkan, mereka menganggap asing dakwah tauhid serta menuduh para rasul sebagai perusak kepercayaan dan tatanan masyarakat.

Allah mengisahkan ucapan Firaun ketika menentang dakwah Nabi Musa ‘alaihis salam,

ذَرُونِیۤ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡیَدۡعُ رَبَّهُۥۤۖ إِنِّیۤ أَخَافُ أَن یُبَدِّلَ دِینَكُمۡ أَوۡ أَن یُظۡهِرَ فِی ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ

“Biarkanlah aku, bakal kubunuh Musa dan hendaklah dia menyeru kepada Rabbnya. Sesungguhnya saya cemas dia bakal mengganti kepercayaan kalian alias menampakkan di muka bumi ini kerusakan.” (QS. Ghafir: 26)

Orang-orang musyrik pun membalas seruan dakwah tauhid dengan cemoohan dan hinaan kepada para dai tauhid. Allah berfirman mengisahkan ucapan mereka,

أَىِٕنَّا لَتَارِكُوۤا۟ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرࣲ مَّجۡنُونِۭ

“Akankah kami kudu meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara mengikuti perkataan seorang panyair gila.” (QS. Ash-Shaffat: 36)

Mereka pun menilai bahwa dakwah untuk memurnikan ibadah kepada Allah serta meninggalkan syirik adalah seruan nan asing dan nyeleneh. Allah berfirman menceritakan komentar mereka,

أَجَعَلَ ٱلۡـَٔالِهَةَ إِلَـٰهࣰا وَ ٰ⁠حِدًاۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَیۡءٌ عُجَابࣱ

“Apakah dia (Rasul) menjadikan sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja?! Sesungguhnya ini betul-betul sesuatu nan aneh.” (QS. Shad: 5)

Maksudnya, mereka menganggap tauhid sebagai peralatan aneh, sedangkan syirik bukan peralatan aneh?! (Lihat Majmu’ah Rasa’il Manhajiyah wa Da’awiyah, hal. 13 oleh Syekh Shalih Al-Fauzan.)

Semoga sedikit catatan ini berfaedah bagi penulis dan pembaca sekalian.

Faedah 23. Milik Allah timur dan barat

Bismillah.

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ فَأَیۡنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمࣱ

“Dan milik Allah semata, arah timur dan barat. Maka, ke mana pun kalian berpaling/menghadap, maka di sana ada wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 115)

Ayat nan mulia ini menunjukkan tentang sungguh luasnya cakupan kerajaan dan kekuasaan Allah. Di dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan dan karunia-Nya. Seandainya seorang menghadap alias melangkah ke mana pun, maka sesungguhnya Allah meliputi dan mengetahui keadaannya. (Lihat Ahkam minal Qur’an oleh Al-Utsaimin, 1:413.)

Selain itu, ayat ini juga mengandung penetapan salah satu sifat Allah, ialah Allah mempunyai wajah. Maka, wajib bagi kita meyakininya sebagaimana zahirnya/apa adanya. Di mana wajah Allah itu sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya sehingga tidak serupa dengan wajah-wajah makhluk. Maka, demikian pula, sifat-sifat Allah nan lain semacam dua tangan, dua mata. Maka, wajib bagi seorang mukmin untuk menetapkan perihal itu secara hakiki/apa adanya. Akan tetapi, kita tidak boleh menentukan bentuk/kaifiyat sifat itu dan tidak boleh menyerupakan wajah Allah dengan wajah makhluk-Nya. (Lihat Ahkam minal Qur’an, 1:414.)

Ayat nan mulia ini telah ditafsirkan maksudnya dalam sebuah sabda nan dibawakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya Bulughul Maram (hadis ke-166). Ibnu Hajar berkata, “Dari Amir bin Rabi’ah radhiyallahu’anhu, dia berkata, ‘Kami pernah berbareng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam, maka kami pun kesulitan mencari arah kiblat. Kami pun tetap melaksanakan salat. Ketika mentari sudah terbit (siang hari), jelaslah bahwa kami telah melakukan salat tidak menghadap kiblat, maka turunlah ayat,

فَأَیۡنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ

‘Maka, ke mana pun kalian menghadap, maka di sana ada wajah Allah.’ ” (QS. Al-Baqarah: 115)

Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini dikeluarkan oleh Tirmidzi dan dia melemahkannya.” Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa sabda ini berderajat hasan. (Lihat Taudhih Al-Ahkam, 1:516.) Hadis ini juga dinyatakan hasan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah. (Lihat Shahih Sunan Tirmidzi, no. 345.)

Hadis Amir bin Rabi’ah tersebut juga dibawakan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan salah satu maksud nan tercakup di dalam ayat ini. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1:392-393 tahqiq Sami bin Muhammad As-Salamah.)

Syekh Abdullah Al-Bassam rahimahullah mengatakan, “Apabila arah kiblat samar bagi musafir, lampau dia melakukan salat dan rupanya tampak baginya arahnya keliru, maka salatnya tetap sah, sama saja apakah dia mengetahui salahnya pada waktu salat tersebut tetap ada alias sudah berlalu/habis waktu salat itu.” (Lihat Taudhih Al-Ahkam, 1:516.)

Dari sini, kita mengetahui bahwa pada dasarnya salat wajib menghadap kiblat/arah Ka’bah. Akan tetapi, andaikan orang sudah berupaya dan tidak bisa menentukan dengan pasti lampau dia salat ke suatu arah nan dianggap kiblat dan rupanya kemudian terbukti salah, maka salatnya tetap sah dan tidak perlu diulang. Keabsahan itu diisyaratkan oleh kalimat,

فَأَیۡنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ

“Maka, ke mana pun kalian menghadap, maka di sana ada wajah Allah.”

Yang menggambarkan bahwa ke arah mana pun seorang muslim menghadap, maka dia bakal tetap mengabdi kepada Allah sesuai dengan apa nan diperintahkan kepadanya. Dan seandainya dia tersalah alias keliru secara tidak sengaja, maka perihal itu dimaafkan.

Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwasanya menghadap Ka’bah ketika salat merupakan tanggungjawab bagi orang nan bisa memandang Ka’bah, sedangkan bagi orang nan tidak bisa melihatnya secara langsung, maka dia cukup mengerjakan salat ke arahnya. (Lihat Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, hal. 75.)

Oleh karena itu, wajibnya menghadap kiblat ketika salat adalah perkara nan diketahui oleh setiap muslim. Dan nan dimaksud kiblat itu adalah Ka’bah alias ke arahnya. Ibnu Rusyd rahimahullah berkata, “Apa-apa nan dinukil secara mutawatir seperti (wajibnya) menghadap kiblat dan bahwa kiblat itu adalah ke arah Ka’bah, tidak ada nan menolak/membantah perihal ini, selain orang kafir.” (Dinukil dengan perantaraan Taudhih Al-Ahkam, 1:517.)

Di dalam fikih Mazhab Syafi’i juga telah diterangkan bahwa menghadap kiblat termasuk syarat salat, dan boleh tidak menghadap kiblat andaikan dalam keadaan tercekam ketakutan nan sangat luar biasa alias ketika salat sunah pada waktu bersafar dengan naik kendaraan. Begitu pula dibolehkan bagi musafir nan melangkah kaki untuk salat sunah dengan tidak menghadap kiblat. (Lihat Matn Al-Ghayah wa At-Taqrib, hal. 64-65, tahqiq Majid Al-Hamawi.)

Begitu pula dalam fikih Mazhab Hanbali, diterangkan bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sah salat. Dalilnya firman Allah,

وَمِنۡ حَیۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَیۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ

“Dan ke mana pun Anda keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kalian berada, maka hadapkanlah wajahmu (ketika salat) ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Apabila orang tidak bisa memenuhi syarat ini lantaran sakit alias karena lain, maka dia gugur lantaran Allah tidak membebaninya, selain sebatas kemampuannya. (Lihat Ibhajul Mu’minin bi Syarh Manhajis Salikin, 1:133-134.)

Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma berkata, “Diturunkan ayat,

فَأَیۡنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ

‘Maka, ke mana pun kalian berpaling/menghadap, maka di sana ada wajah Allah.’

Maksudnya hendaklah Anda mengerjakan salat ke arah mana hewan tungganganmu menghadap, ialah ketika mengerjakan salat sunah. (Lihat Ad-Durr Al-Mantsur fi At-Tafsir bil Ma’tsur, 1:565.)

Imam Ibnu Abi Syaibah, Bukhari, dan Baihaqi meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhu bahwa dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah salat di atas hewan tunggangannya menghadap ke arah timur. Apabila beliau hendak salat wajib, maka beliau pun turun dan menghadap kiblat lampau mengerjakan salat. (Lihat Ad-Durr Al-Mantsur, 1:565.)

Imam Abdu bin Humaid dan Tirmidzi meriwayatkan dari Qatadah mengenai tafsiran dari ayat ini,

فَأَیۡنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ

‘Maka ke mana pun kalian berpaling/menghadap, maka di sana ada wajah Allah.’

Qatadah berkata, ‘Ayat ini telah di-mansukh/dihapus hukumnya. Yaitu, dihapus dengan ayat,

فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ

‘Maka, palingkanlah wajahmu menghadap ke Masjidil Haram.’ (QS. Al-Baqarah: 144) Yaitu, hendaknya Anda salat menghadap ke arahnya.'” (lihat Ad-Durr Al-Mantsur, 1:568.)

Faedah:

Imam Ibnu Katsir rahimahullah membantah andaikan ada orang nan menafsirkan bahwa kalimat “Maka, ke mana pun kalian berpaling/menghadap, maka di sana ada wajah Allah.” menunjukkan bahwa Allah ada di mana-mana. Sebagian orang berkata, “Dan Allah Ta’ala tidaklah ada satu tempat pun nan kosong dari-Nya.” Ibnu Katsir berkata, “Apabila nan dimaksud (ada dimana-mana) itu adalah pengetahuan Allah, maka itu benar. Karena ilmunya Allah meliputi segala hal. Adapun Zat Allah Ta’ala tidak dibatasi oleh sesuatu pun dari makhluk-Nya. Mahatinggi Allah dari perihal itu dengan ketinggian nan Mahabesar.” (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1:391-392.)

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Lum’atul I’tiqad menegaskan bahwa pengetahuan Allah meliputi segala tempat, tidak ada satu tempat pun nan kosong dari pengetahuan Allah. Dan sebagaimana telah jelas dari dalil-dalil bahwa Allah berada di atas langit menetap tinggi di atas Arsy. Meskipun demikian, tidak ada sesuatu perkara pun nan samar bagi Allah di langit maupun di bumi, pada masa lampau maupun masa depan. Allah telah mengetahui semuanya. Sehingga ada perbedaan antara Zat Allah dengan ilmu-Nya. Zat Allah berada tinggi di atas langit, sedangkan ilmu-Nya Mahaluas meliputi segala sesuatu. (lihat Syarh Lum’atil I’tiqad oleh Syekh Shalih Al-Fauzan, hal. 27.)

Inilah iktikad salaf sebagaimana ditegaskan oleh Imam Malik rahimahullah. Beliau mengatakan, “Allah berada di atas langit, sedangkan ilmu-Nya ada di mana-mana. Tidak ada satu tempat pun nan luput dari pengetahuan Allah…” (Dinukil melalui Al-Jami’ fi ‘Aqa’id wa Rasa’il Ahlis Sunnah, hal. 180.)

Oleh karena itu, ahlusunah meyakini bahwa Allah berada tinggi di atas Arsy-Nya (dan Allah tidak butuh kepada Arsy). Allah berbareng hamba-hamba-Nya dengan ilmu-Nya. Allah mengetahui keadaan makhluk, mendengar ucapan mereka, dan memandang segala perbuatan dan gerak-gerik mereka. (Lihat Syarh Aqidah Ahlis Sunnah oleh Al-Utsaimin, hal. 140 dst.)

Wallahu a’lam.

Kembali ke bagian 8: Untaian 23 Faedah Seputar Tauhid dan Akidah (Bag. 8)

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah