Untukmu Wahai Pencari Kebaikan, Inilah Saatnya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Tidak asing lagi bagi para pencari kebaikan, bahwasanya bulan Ramadan adalah bulan nan sarat bakal kebaikan-kebaikan. Bagi para pencari kebaikan, bulan Ramadan bukanlah waktu untuk sebatas menunaikan tanggungjawab rukun islam berupa puasa, bukan pula untuk sebatas melepas tanggung jawab saja.

Namun, mereka memandang bulan Ramadan adalah waktu dan momentum nan tepat untuk melakukan ketaatan-ketaatan, meningkatkan keagamaan dan ketakwaan, waktu untuk melangkah di atas ketaatan dan melepaskan segala kemaksiatan. Demikianlah halnya pandangan orang-orang beriman, orang-orang nan mencari kebaikan pada bulan ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, diwajibkan atas Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Anda agar Anda bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menafsirkan ayat di atas dengan berkata,

يَقُوْلُ تَعَالَى مُخَاطِبًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ هَذِهِ الآيَةِ، وَآمِرًا لَهُمْ بِالصِّيَامِ

“Pada ayat ini, Allah Ta’ala berfirman secara langsung kepada orang-orang nan beragama dan memerintahkan mereka untuk berpuasa.”[1]

Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang beragama bahwa Allah telah mewajibkan mereka untuk berpuasa di bulan Ramadan. Sehingga, pantaslah mereka menyambut bulan ini dengan penuh suka cita dan riang gembira. Tidak sampai di situ, terdapat sabda dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau memberikan berita nan membikin ceria para sahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَك، فَرَضَ اللّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أبْوَابُ السَّمَاء، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan nan penuh dengan keberkahan. Allah ‘Azza Wajalla telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa. Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu (neraka) jahim, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadan, Allah mempunyai malam nan lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja nan terhalang untuk mendapatkan kebaikan pada malam itu, maka dia telah merugi.”[2]

Bulan Ramadan ini merupakan bulan nan dapat memberikan kebahagiaan tersendiri bagi pencari kebaikan, bagi mereka nan beriman. Bagaimana tidak? Bulan ini adalah bulan nan penuh dengan keberkahan. Sebagaimana nan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan di atas. Keberkahan Ramadan terus mengalir di setiap saat, di setiap waktu demi waktu, dari jam ke jam. Maka, untukmu para pencari kebaikan di bulan ini, ketahuilah!

Ramadan adalah bulan nan penuh berkah

Di antara nan menunjukkan berkahnya bulan Ramadan adalah dikarenakan:
Pertama: Pada bulan Ramadan, terdapat hukum puasa. Yaitu, dengan menahan diri dari makan, minum, dan berasosiasi suami istri.
Kedua: Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu langit.
Ketiga: Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تُفْتَحُ فِيهِ أبْوَابُ الجَنَّةِ

“Pada bulan Ramadan, dibukakan pintu-pintu surga.”[3]
Keempat: Pada bulan Ramadan, ditutup pintu-pintu neraka.
Kelima: Pada bulan Ramadan, setan-setan dibelenggu.
Keenam: Pada bulan Ramadan, terdapat satu malam nan lebih baik dari pada seribu bulan.

Keberkahan ini begitu spesial, lantaran hanya terdapat pada bulan Ramadan dan tidak ada di bulan-bulan selainnya. Seperti contohnya pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan-setan dibelenggu. Ini semua hanya terdapat pada bulan Ramadan dan ini semua merupakan keberkahan nan begitu besar. Keberkahan nan semestinya dapat mengasah semangat para pencari kebaikan, menyalakan kembali tekad-tekad nan tinggi, dan membangkitkan semangat kaum muslimin untuk kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.[4]

Baca juga: Keutamaan Menunjukkan Kebaikan

Wahai pencari kebaikan! Inilah saatnya untuk bersegera kepada ketaatan

Dalam sabda nan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi rahimahullah (wafat th.279), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Pada malam pertama bulan Ramadan, setan-setan dan jin-jin nan jahat dibelenggu. Pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pun pintu neraka nan terbuka. Dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu surga nan tertutup. Serta, seorang penyeru menyeru, ‘Wahai nan mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan). Wahai nan mengharapkan keburukan/maksiat, berhentilah. Allah mempunyai hamba-hamba nan diselamatkan dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadan.“[5]

Perhatikanlah secara seksama sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ

“Seorang penyeru menyeru, ‘Wahai nan mengharapkan kebaikan, bersegeralah (kepada ketaatan).’”
Maka, bersegeralah! Engkau sudah berada pada musim dan kesempatan nan penuh kebaikan dan ketaatan. Bersegeralah dan bersemangatlah! Jangan engkau sia-siakan kesempatan emas ini! Inilah saatnya kita berada pada waktu nan penuh dengan untung berupa kebaikan nan berlimpah.

وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

“Wahai nan mengharapkan keburukan alias maksiat berhentilah.”

Maksudnya, banget sangat tidak layak bagi seseorang nan mau melakukan perbuatan jelek alias terbesit padanya suatu keburukan, untuk memberikan celah bagi dirinya tenggelam pada keburukan itu, Hanyut dalam kesesatan itu dan terus menerus berada pada kesesatan itu di musim nan mulia dan penuh dengan keberkahan ini.

Jika hatimu tidak tergerak, tidak ada ambisi dan semangat sama sekali untuk melakukan ketaatan di bulan Ramadan ini, tidak ada kemauan untuk menyesali perbuatan buruk, untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala. Pertanyaannya; “Di bulan mana lagi hatimu akan tergerak untuk melakukan ketaatan?.”[6] Maka, inilah momentum nan sangat tepat dan kesempatan terbaik untukmu wahai pencari kebaikan.

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Allah mempunyai hamba-hamba nan diselamatkan dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadan.”
Allah Ta’ala pada setiap malam di antara 2522 malam-malam nan mulia, di bulan Ramadan, membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka jahanam. Seorang muslim hendaknya berupaya untuk memperoleh perihal ini, agar dirinya diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari neraka-Nya. Dan ini merupakan kemenangan nan sesungguhnya.[7]

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Setiap nan bernyawa bakal merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari hariakhir sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan bumi itu tidak lain hanyalah kesenangan nan memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Untukmu wahai pencari kebaikan, berbahagialah dengan hadirnya bulan Ramadan ini. Pancarkanlah sinar-sinar kebahagiaan dalam hatimu, letakkanlah bulan ini di tempat nan tertinggi di dalam hatimu. Pujilah Allah Ta’ala lantaran telah memberikan kepadamu karunia-Nya untuk sampai kembali kepada bulan ini. Bersyukurlah kepada Allah atas nikmat ini. Tentunya di antara corak syukur kepada Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah dan ketaatan di bulan ini, dan jangan lupa untuk menunaikan hak-hak Allah pada bulan Ramadan ini.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saaatnya untuk mengsampingkan dan mengerdilkan ego dan emosimu. Selimutilah dirimu dengan kebaikan dan kesabaran.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya untuk meninggalkan segala perkataan dusta, sumpah serapah, perkataan kasar, dan semisalnya. Kembalilah dan katakanlah perkataan nan mulia.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya untuk kembali kepada Al-Qur’an nan mungkin engkau telah melupakannya selama sebelas bulan belakangan ini. Engkau tinggalkan dia dalam keadaan usang dan berdebu. Ambillah Al-Qur’anmu! Bacalah dan tadaburi makna-maknanya!. Berusahalah untuk membacanya dengan lancar dan sempurna. Kelak engkau bakal mendapatkan syafa’at dan dikumpulkan berbareng para malaikat nan mulia.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya untuk memperbaiki dan berbenah diri. Mungkin di bulan ramadan sebelumnya engkau tenggelam di dalam kelalaian, tenggelam dalam rayu rayu setan untuk tetap bermalas-malasan, tidur-tiduran, menggunakan gadget secara berlebihan. Inilah saatnya untuk memperbaiki itu semua.

Untukmu wahai pencari kebaikan, inilah saatnya.

Wallahul muwaffiq.

Baca juga: 11 Penghapus Amalan Kebaikan

***

Depok, 2 Ramadan 1445 H / 13 Maret 2024

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1:364, Cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah
[2] Lihat Shahih Sunan An Nasa’i, no. 1992 dan Shahih Al-Jami’, no.55. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
[3] Lihat Shahih Sunan An Nasa’i, no. 1993. Hadis ini disahihkan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah.
[4] Lihat kutaib Wa Ja’a Syahru Ramadhan, hal.16, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad hafidzahullah.
[5] Lihat Sunan At-Tirmidzi, no.286. Hadis disahihkan Syekh Al-Albani rahimahullah.
[6] Lihat kutaib Wa Ja’a Syahru Ramadhan, hal.11, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad hafidzahullah.
[7] Lihat kutaib Wa Ja’a Syahru Ramadan, hal.11-12, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad hafidzahullah.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah