‘urf Dan Adat Dalam Timbangan Syariat

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Pendahuluan

Menyoal tentang ‘urf alias tradisi adalah suatu perihal nan tidak bisa lepas dari perkara hukum lantaran ‘urf termasuk injakan dalam penetapan norma islam. Di dalam pengetahuan ushul fiqih, ‘urf termasuk dalil-dalil isti’nasiyah. Yaitu, sebagai penyempurna dalil-dalil syar’i baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Makna dari isti’nas itu sendiri adalah dalil-dalil nan diambil oleh para ustadz fikih dan ushul untuk mengantarkan kepada dalil-dalil syar’i dan juga untuk men-tarjih (memilih nan paling kuat) di antara beberapa pendapat nan berbeda.

‘Urf di antara dalil isti’nasiyah

Dalil-dalil isti’nasiyah itu sendiri terbagi menjadi enam. Salah satu di antaranya adalah ‘urf alias adat. ‘Urf sendiri menurut para ustadz adalah suatu perihal nan telah ada dan menetap pada kebiasaan masyarakat dan dapat diterima dengan logika nan waras. Adapun budaya adalah suatu perihal nan melangkah terus menerus di antara masyarakat menurut persepsi mereka sehingga masyarakat terus mengulangi perihal itu di kemudian hari. Dari sini, dapat kita ketahui tidak ada bedanya antara ‘urf dan adat. 

Di antara dalil adanya ‘urf adalah firman Allah Ta’ala, 

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَـٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan nan makruf (‘urf), serta berpalinglah daripada orang-orang nan bodoh.” (QS. Al ‘Araf: 199) 

‘Urf secara perbuatan dan ucapan

‘Urf secara perbuatan seperti contohnya adalah praktik transaksi jual beli tanpa mengucapkan janji ijab kabul alias janji jual beli. Terkadang ada kalanya untuk transaksi hanya cukup dengan perbuatan seperti halnya ketika membeli garam dan gula. Pembeli mengambil peralatan nan diinginkan dan memberikan nominal sesuai nilai barang. Penjual menyerahkan peralatan dan menerima sesuai nominal nilai barang. 

Adapun ‘urf secara ucapan adalah seperti kebiasaan masyarakat kita nan sering menggunakan kata “daging” sebagai namalain dari daging sapi. Ketika ada seseorang nan mengucapkan, “Saya mau membeli daging.” Maka, nan dipahami adalah daging sapi. Karena ini sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita. 

‘Urf dilihat dari ruang lingkup terbagi menjadi dua jenis

‘Urf ‘am

Yaitu, suatu kebiasaan umum nan bertindak pada kebanyakan manusia di seluruh negara. Seperti contohnya transaksi jual beli rumah, maka sudah include seluruh apa saja nan ada di dalam rumah, baik pintu, keran, jendela, dan lain sebagainya. Begitu halnya transaksi jual beli mobil, tentu sudah termasuk dengan ban, perkakas, dan lain-lain. Atau contoh nan lebih dekat, ketika kita mau menyewa alias menggunakan bilik mandi umum, tentu tidak ditakar berapa pemisah maksimal air nan kudu digunakan dan berapa lama waktu penggunaannya. 

‘Urf khash

Yaitu, suatu kebiasaan nan berkarakter khusus. Seperti halnya penggunaan lafal salat. Pada asalnya, salat secara bahasa berfaedah doa. Namun, kebiasaan nan ada ketika disebutkan salat, maka maksudnya adalah setiap ucapan dan perbuatan nan dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam. Yakni, ibadah salat. Hal ini dapat diterjemahkan dengan ucapan seseorang kepada anaknya, “Apakah engkau sudah salat?” Tentu ‘urf atau kebiasaan masyarakat kita bakal menerjemahkan kalimat di atas dengan salat berupa ibadah nan ada padanya takbir, rukuk, iktidal, sujud, dan salam. Bukan diterjemahkan dengan makna doa.

Baca juga: Batasan Israf (Berlebih-lebihan) adalah ‘Urf

Syarat-syarat ‘urf untuk digunakan sebagai hujah

Urf bersifat universal alias menyeluruh

Yakni, kebiasaan tersebut banyak dilakukan oleh manusia. Bukan kebiasaan nan diperuntukkan hanya untuk golongan, ormas, maupun golongan tertentu. Seperti contohnya kebiasaan dalam menikah. Di sebagian tempat, mahar diserahkan seluruhnya kepada calon suami. Di sebagian, mahar ditentukan oleh pihak wali dari calon istri. Di sebagian lagi, ada nan menjadikan tanggungan tersebut kepada calon kedua mempelai. Demikianlah ‘urf. 

Hendaknya ‘urf tersebut banyak dilakukan oleh manusia

Sebagai penekanan untuk poin pertama, ‘urf hendaknya tidak hanya dilakukan oleh person tertentu saja. Namun, dilakukan oleh masyarakat luas, setidaknya telah menjadi kebiasaan sebagian besar populasi di negara ini. Sehingga, dari sini dapat difahami, bahwasanya ‘urf tidak boleh bertentangan dengan khalayak umum. 

‘Urf tersebut kudu tetap berlaku

Artinya, ‘urf atau kebiasaan tersebut tetap dianggap dan tetap dilakukan di antara manusia. Karena ada sebagian ‘urf yang sudah antik dan tidak terangkat dan tidak dilakukan lagi di antara masyarakat. Sehingga, di antara syaratnya, ialah ‘urf tersebut kudu tetap bertindak di kalangan masyarakat saat ini. Di antara contoh ‘urf yang tetap bertindak sampai pada saat ini adalah kebiasaan mudik di hari lebaran. 

Urf bersifat suatu keharusan

Di antara syaratnya, kebiasaan tersebut menjadi suatu keharusan dan tanggungjawab dalam pandangan masyarakat untuk dilakukan. Seperti halnya seorang suami nan menikah, maka dia kudu menyiapkan tempat tinggal untuk istrinya. Hal ini kiranya tidak kudu tertulis pada syarat sebelum menikah. Namun, masyarakat kita memandang menjadi suatu keharusan seorang suami memberikan tempat tinggal nan layak untuk istrinya. 

Adapun seorang istri, hendaknya dia membantu suaminya dalam menyiapkan tempat tinggal untuknya. Jika istri tidak bisa, maka bukan menjadi suatu permasalahan. Karena ini merupakan tanggungjawab seorang suami. Demikianlah kebiasaan nan ada pada masyarakat kita. 

Urf tidak bertentangan dengan dalil-dalil syar’i

Inilah di antara syarat nan sangat penting. Yaitu, ‘urf tidak bertentangan dengan dalil-dalil nan ada baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jika bertentangan, maka tidak bisa dilakukan. Di antara kebiasaan nan bertentangan adalah:

Menukar duit baru di hari raya dengan adanya tambahan

Tentu tambahan nan ada merupakan riba. Dan riba telah Allah dan Rasul-Nya larang. Allah berfirman, 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡڪُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَـٰفً۬ا مُّضَـٰعَفَةً۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, janganlah Anda menyantap riba dengan berlipat dobel dan bertakwalah Anda kepada Allah agar Anda mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran : 130) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, tidak kenapa jika dengan takaran nan sama, dan sama berat, serta tunai. Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka hatimu asalkan dengan tunai dan langsung serah terimanya.” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim no.2970.)

Adapun duit nan sekarang itu sama halnya dengan emas di era dahulu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan emas sebagai perangkat tukar di era tersebut. Maka, tidak boleh untuk kita menukar duit baru dengan adanya tambahan. Jika ada tambahan, maka termasuk riba. Dan penukaran kudu dalam corak tunai tidak boleh ada tenggang waktu ataupun utang dari salah satu pihak. 

Bersalaman dan cipika-cipiki dengan nan bukan mahram

Ini tetap sangat banyak terjadi di masyarakat kita. Kebiasaan ini seolah menjadi perihal nan lumrah. Seorang bersalaman dengan wanita nan bukan mahram, apalagi wal’iyadzu billah sampai cipika-cipiki dengan wanita nan bukan mahram. Ketahuilah! Bahwa ditusuknya seseorang dengan besi nan panas, itu lebih baik daripada seseorang bergesekan dengan nan bukan mahram!

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak besi, itu lebih baik daripada dia menyentuh wanita nan tidak legal baginya.” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani) 

Pada sabda di atas, disebutkan hanya sebatas menyentuh, lampau gimana jika sengaja bersalaman, cipika-cipiki, apalagi lebih dari itu? Tentu lebih diharamkan lagi. 

Inilah di antara contoh-contoh dari sekian banyak contoh ‘urf ataupun kebiasaan nan bertentangan dengan syariat. Tentunya perihal ini sudah semestinya kita hindari. 

Ringkasnya, pada pembahasan kali ini, ‘urf merupakan di antara dalil-dalil penopang dalil-dalil syar’i. Urf bisa diamalkan tentunya setelah terpenuhinya syarat-syarat di atas. Dipersilakan untuk mengamalkan kebiasaan nan ada di tengah masyarakat kita, tentunya dengan memperhatikan syarat-syarat nan telah disebutkan. 

Semoga bermanfaat

Wallahu ’alam

Baca juga: Tundukan Hawa Nafsu Demi Ikut Dalil

***

Depok, 28 Ramadan 1445 H / 8 April 2024 

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Referensi :

Diringkas dari pelajaran Syarah Al-Bidayah fi Ushul Fiqh oleh Syekh Dr. Ayman Musa hafidzahullah dengan sedikit tambahan.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah