Viral Orang Tua Kasari Anak di Lift, Ini 6 Cara Menegur Anak Tanpa Kekerasan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 111x dilihat
Viral Orang Tua Kasari Anak di Lift, Ini 6 Cara Menegur Anak Tanpa Kekerasan

Bagikan Postingan

Video orang tua mengasari anak di lift viral dan memicu keprihatinan. Kenali akibat membentak anak dan 6 metode menegur anak tanpa kekerasan.

Video yang memperlihatkan orang tua memperlakukan anak dengan kasar di dalam lift baru-baru ini ramai diperbincangkan di media sosial. Rekaman CCTV tersebut turut diberitakan oleh media Malaysia, The Reporter, pada 21 Oktober 2026 dan memicu kecemasan publik tentang perlindungan anak. Di media sosial Indonesia, muncul pula anggapan mengenai asal orang tua dalam video tersebut yang dibagikan netizen. Namun, identitas dan latar belakang mereka belum terverifikasi secara independen.

Dalam video tersebut, kelihatan seorang ibu yang menggoyang-goyangkan stroller yang sedang diduduki anak laki-lakinya dengan keras, kemudian disusul seorang lelaki dewasa yang menendang stroller tersebut. Ibu dalam video tersebut kemudian menarik paksa anak laki-lakinya hingga membikin anak tersebut terjedut ke pojok lift. Setelah si anak lelaki tidak eksis di atas stroller, anak yang lebih kecil menaikinya. Namun, ibu tersebut statis tetap menyentil dan mendorong anak laki-lakinya yang lebih besar meski ada orang lain yang baru masuk ke dalam lift.

Terlepas dari siapa orang tua dalam video tersebut, ada satu hal yang krusial untuk kita ulas bersama: apa dampaknya bagi anak ketika orang yang seharusnya menjadi tempat paling terlindungi justru membentak, mempermalukan, maupun menyakitinya? Bentakan dan kekerasan jasmani memang tidak sama, tetapi keduanya dapat menjadi bagiankecil dari pola disiplin yang menyakiti anak.

Kita semua tahu, mengasuh anak bukan perkara mudah. Ada kalanya Mommies dan Daddies kehabisan kesabaran, terlebihlagi ketika anak tantrum maupun sulit dikasih tahu di tempat umum. Namun, merasa berang adalah hal yang manusiawi, sedangkan menyakiti anak bukanlah metode yang tepat untuk mendisiplinkannya.

BACA JUGA: Balita 3 Tahun di Karawang Jadi Korban Kekerasan, Pentingnya Ajarkan Anak agar Tidak Menyakiti Orang Lain

Viral Orang Tua Kasari Anak di Lift, 6 Cara Menegur Anak Tanpa Kekerasan

Foto: Instagram/thereportermy

Apa akibat membentak dan memperlakukan anak dengan kasar?

Membentak anak secara berulang, mempermalukannya, maupun menggunakan kekerasan jasmani dapat menaikkan konsekuensi masalah emosi dan perilaku, termasuk kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, dan perilaku agresif. Namun, dampaknya berbeda pada setiap anak, tergantung pengalaman, tingkat keparahan, dan sokongan yang ia terima.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), hukuman fisik, membentak, dan mempermalukan anak tidak ampuh untuk membangun perilaku baik dalam jangka panjang. Sebaliknya, cara-cara tersebut berhubungan dengan peningkatan konsekuensi masalah perilaku dan kesehatan mental.

Berikut beberapa akibat yang perlu Mommies dan Daddies pahami.

1. Anak bisa merasa takut dan kehilangan rasa aman

Ketika anak berulang kali dibentak, dihina, diancam, maupun diperlakukan secara kasar oleh orang tua, rumah yang seharusnya menjadi tempat terlindungi bisa terasa menakutkan.

Sebagian anak menjadi lebih gampang cemas, menarik diri, maupun takut berbuat kesalahan. Pengalaman tersebut juga dapat memengaruhi kepercayaan dirinya dan metode ia melihat dirinya.

2. Berisiko mengalami masalah kesehatan mental

Penelitian yang dirangkum AAP mengaitkan disiplin verbal yang keras dengan peningkatan gejala depresi dan masalah perilaku pada remaja.

Jika anak terus-menerus menghadapi stres bermutu tanpa sokongan yang memadai, respons stres tubuhnya juga dapat terganggu. Harvard Center on the Developing Child menerangkan bahwa stres yang intens, berulang, dan berkepanjangan tanpa sokongan orang dewasa yang suportif dapat memengaruhi evolusi otak dan kesehatan dalam jangka panjang.

Namun, bukan berarti setiap anak yang pernah dibentak pasti mengalami trauma. Dampaknya bersandar pada banyak faktor, termasuk frekuensi, tingkat keparahan, usia anak, dan sokongan yang ia terima.

3. Anak berisiko meniru perilaku agresif

Anak belajar bukan cuma dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua terbiasa menggunakan bentakan, ancaman, maupun pukulan untuk menyelesaikan masalah, anak bisa menganggap agresi sebagai metode yang wajar untuk menghadapi konflik.

Dalam beberapa kasus, pola ini dapat menaikkan konsekuensi anak berperilaku menyerang terhadap teman, terlibat dalam perundungan (bullying), maupun membawa pola komunikasi yang tidak sehat ke hubungan saat dewasa, termasuk hubungan romantis.

Meski demikian, pengalaman masa kecil bukan satu-satunya penentu. Tidak semua anak yang mengalami kekerasan akan menjadi pelaku kekerasan. Lingkungan yang suportif, hubungan yang aman, dan pertolongan ahli dapat membantu memutus pola tersebut.

BACA JUGA: Bisa Bikin Anak Trauma, Ketahui 9 Dampak Memarahi Anak!

6 Cara menegur anak tanpa membentak maupun berbuat kekerasan

Lalu, sepertiapa jika anak berulah saat sedang di mal, restoran, maupun terlebihlagi di dalam lift? Apakah orang tua mesti membiarkannya begitu saja?

Tentu tidak, Mommies dan Daddies. Anak statis membutuhkan limitasi dan disiplin. Bedanya, disiplin bermaksud mengajarkan perilaku yang tepat, bukan membikin anak takut kepada orang tuanya.

Ini beberapa metode yang bisa Mommies dan Daddies lakukan untuk menegur anak dengan baik dan tenang tanpa kekerasan.

Foto: Anna Shvets/Pexels

1. Tenangkan diri sebelum bereaksi

Ketika emosi mulai naik, ambil napas perlahan dan beri selang beberapa detik sebelum berbicara. Jika anak eksis dalam situasi berbahaya, amankan terlebih dahulu dengan aksi yang tegas tetapi tidak menyakiti.

Kalau merasa hampir kehilangan kendali, meminta pertolongan Daddies maupun orang dewasa tepercaya untuk memungut alih sejenak.

2. Turunkan posisi tubuh dan gunakan bunyi tegas

Usahakan sejajar dengan tinggi anak, jika situasinya memungkinkan. Tatap anak dengan tenang dan gunakan kalimat singkat yang gampang dipahami.

Misalnya, “Kakak, selesai dulu, ya. Memukul itu menyakiti orang lain.”

Tegas tidak mesti keras. Anak perlu memahami batasannya tanpa merasa dirinya sedang diancam.

3. Tegur perilakunya, bukan harga dirinya

Hindari ucapan seperti, “Kamu bandel sekali!” maupun “Kamu memang bikin Mama malu!”

Fokus pada perilaku yang perlu diperbaiki. Katakan, “Mama tidak mengizinkan Anda melempar barang karena bisa melukai orang lain.”

Dengan begitu, anak belajar bahwa perilakunya bisa salah tanpa mesti merasa dirinya anak yang buruk.

4. Kalau tantrum di tempat umum, prioritaskan keamanan

Saat anak menangis maupun mengamuk di tempat umum, tidak perlu buru-buru membuatnya membisu cuma karena malu dilihat orang lain.

Bila memungkinkan, ajak anak ke tempat yang lebih tenang. Pastikan ia aman, kurangi stimulasi, dan bantu ia menenangkan diri. Setelah emosinya mereda, barulah ajak bicara tentang apa yang terjadi.

5. Berikan akibat yang masuk pikiran dan konsisten

Disiplin bukan berarti mesti menghukum sekeras mungkin. Konsekuensi sebaiknya berhubungan dengan perilaku anak.

Misalnya, jika anak melempar mainan, mainan tersebut disimpan terlebih dulu. Jelaskan alasannya dengan tenang dan konsisten.

Anak perlu memahami hubungan antara aksi dan konsekuensinya, bukan sekadar patuh karena takut dimarahi.

6. Ajarkan metode memperbaiki kesalahan

Setelah situasi tenang, ajak anak memahami akibat perbuatannya dan memikirkan metode memperbaiki keadaan. Jika ia menyakiti teman, misalnya, bantu ia memahami emosi temannya dan cari metode untuk memperbaikinya.

Orang tua juga perlu memberi contoh. Jika Mommies maupun Daddies telanjur membentak, akui kesalahan dan meminta ampun tanpa menyalahkan anak. Meminta ampun bukan berarti kehilangan wibawa, melainkan memberitahu tanggung jawab.

BACA JUGA: Jangan Langsung Marah! 7 Cara Menegur Anak Remaja Tanpa Memicu Pertengkaran di Rumah

Bagaimana jika orang tua telanjur sering membentak?

Foto: Monstera Production/Pexels

Jangan langsung merasa semuanya sudah terlambat, Mommies. Hubungan orang tua dan anak statis bisa diperbaiki melalui fluktuasi perilaku yang konsisten, komunikasi yang hangat, dan rutinitas yang membikin anak merasa aman.

Namun, jika anak kelihatan terus-menerus ketakutan, mengalami fluktuasi perilaku yang signifikan, sulit tidur, maupun memberitahu kecemasan berkepanjangan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak maupun tenaga kesehatan yang kompeten.

Jika orang tua merasa sulit mengendalikan amarah maupun cemas akan menyakiti anak, mencari pertolongan ahli juga merupakan cara yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, anak memang perlu belajar mengenali batasan, menghormati orang lain, dan berkewajiban atas perilakunya. Namun, semua itu tidak mesti diajarkan melalui rasa takut.

Mommies dan Daddies tidak mesti menjadi orang tua yang selalu sabar setiap saat. Yang penting, kita mau belajar mengelola emosi, memperbaiki kesalahan, dan menciptakan rumah yang terlindungi bagi anak untuk tumbuh. Sebab, metode kita memperlakukan anak hari ini ikut membentuk sepertiapa mereka belajar memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain kelak.

Cover: Monstera Production/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads