Gempa megathrust tidak bisa diprediksi kapan terjadi. Kenali daerah berisiko, siapkan tas siaga, dan lindungi family termasuk bayi, anak, dan lansia.
Belakangan ini, istilah gempa megathrust kembali ramai dibicarakan. Wajar jika Mommies kemudian bertanya-tanya: Memangnya bakal terjadi kapan? Apakah rumah kita termasuk daerah yang terdampak? Kalau punya anak kecil, bayi, alias tinggal berbareng lansia, apa yang kudu dilakukan?
Tenang dulu, Mommies. Ada satu perihal krusial yang perlu diluruskan: membicarakan potensi gempa megathrust bukan berfaedah sedang memprediksi gempa bakal terjadi dalam waktu dekat.
BMKG menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi alias pengetahuan pengetahuan yang bisa memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan seberapa besar gempa bakal terjadi. Jadi, info mengenai area megathrust sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan argumen untuk panik.
BACA JUGA: Latih Anak Tanggap Bencana (Gempa & Kebakaran)
Apa Sebenarnya Gempa Megathrust?
Sederhananya, megathrust berangkaian dengan area subduksi, ialah daerah di mana satu lempeng tektonik menunjam di bawah lempeng lainnya. Pergerakan di area ini dapat menghasilkan gempa bumi yang sangat besar.
Indonesia memang berada di area yang aktif secara tektonik. Zona subduksi membentang dari daerah barat Sumatra, sepanjang selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, hingga sejumlah daerah Indonesia bagian timur.
Karena itu, yang perlu kita lakukan bukan menebak “kapan gempa megathrust terjadi?”, tetapi lebih kepada “kalau gempa terjadi, apakah family kita sudah tahu kudu melakukan apa?”

Foto: detikedu (Dok ITS)
Wilayah Indonesia Mana Saja yang Perlu Waspada?
Mommies mungkin sering mendengar nama Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Keduanya memang menjadi perhatian lantaran masuk dalam daerah yang oleh para mahir dikategorikan sebagai seismic gap, ialah area yang sudah lama tidak mengalami gempa besar.
Namun, krusial dicatat: seismic gap bukan berfaedah gempa pasti segera terjadi.
Dalam penjelasannya, BMKG pernah menyebut sejumlah area seismic gap pada area sumber gempa megathrust, antara lain:
- Kepulauan Mentawai dan sekitarnya
- Selat Sunda
- Selatan Bali
- Sulawesi Utara
- Laut Maluku
- Utara Papua
- Laut Banda
Sementara itu, pemetaan segmentasi area subduksi Indonesia juga mencakup area seperti Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Mentawai, Enggano, Selat Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda, Sulawesi Utara, hingga Papua.
Lalu, Apakah Hanya Daerah Tersebut yang Bisa Terdampak?
Besarnya akibat gempa berjuntai pada banyak faktor, termasuk letak sumber gempa, kekuatan dan kedalamannya, kondisi tanah, kualitas bangunan, serta jarak dari sumber gempa.
Untuk daerah pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa di laut, ada potensi tsunami yang juga perlu diperhatikan. Jadi, tinggal di kota yang jauh dari garis pantai bukan berfaedah otomatis bebas dari guncangan gempa, sementara tinggal di pesisir berfaedah perlu mengetahui jalur pemindahan tsunami.
Intinya, Mommies tidak perlu menghafalkan semua nama area megathrust. Yang lebih krusial adalah mengetahui akibat di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
BACA JUGA: Tas Siaga Bencana: Ini Daftar Barang yang Wajib Disiapkan
Jadi, Apa yang Sebaiknya Disiapkan Keluarga?
Nah, ini bagian yang justru bisa kita lakukan mulai sekarang.
BNPB merekomendasikan family mengenali potensi ancaman di sekitar rumah, mengetahui jalur pemindahan dan titik kumpul, serta mendiskusikan respons family ketika musibah terjadi.
1. Buat Rencana Keluarga
Diskusikan berbareng Daddies dan personil keluarga:
- Kalau gempa terjadi saat semua orang berada di rumah, siapa yang melakukan apa?
- Kalau Mommies sedang berbareng bayi sementara Daddies sedang bekerja, gimana langkah berkomunikasi?
- Di mana titik kumpul keluarga?
- Bagaimana jika jaringan telepon terganggu?
- Prosedur pemindahan di sekolah alias daycare anak seperti apa?
- Jika tinggal dekat pantai, ke mana kudu mengungsi jika ada ancaman tsunami?
UNICEF juga merekomendasikan family mempunyai titik pertemuan, daftar kontak yang diperbarui, mengetahui rencana sekolah anak, dan melakukan latihan secara berkala.

Foto: Roger Brown/Pexels
2. Siapkan Tas Siaga
Tidak kudu langsung membeli perlengkapan mahal. Mulai dari kebutuhan dasar yang memang bakal berguna.
Isi tas siaga keluarga, misalnya:
- Air minum
- Makanan tahan lama
- P3K
- Obat-obatan rutin
- Senter dan baterai
- Power bank
- Masker
- Peluit
- Pakaian ganti
- Dokumen krusial alias salinannya
- Uang tunai secukupnya
- Produk kebersihan pribadi
Idealnya, kebutuhan darurat disiapkan untuk setidaknya beberapa hari. UNICEF merekomendasikan emergency kit yang dapat dibawa dan berisi kebutuhan seperti makanan, air, obat, P3K, serta senter dan baterai.
Kalau bingung, Mommies bisa cek detailnya di tulisan ini.
3. Kalau Punya Bayi dan Balita, Buat Tas Khusus Anak
Ini yang kadang luput dari perhatian.
Untuk bayi, sesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari mereka, misalnya:
- Popok
- Tisu basah
- Baju dan selimut
- Susu formula jika memang digunakan
- Botol dan perlengkapannya
- Makanan bayi
- Air
- Obat yang memang rutin digunakan
- Kantong plastik untuk popok alias busana kotor
- Mainan mini alias barang yang familiar bagi anak
Kalau Mommies tetap menyusui, ASI tetap menjadi sumber nutrisi yang krusial dalam situasi darurat. IDAI juga menekankan pentingnya menyusui dalam kondisi darurat.
Untuk balita dan anak yang lebih besar, boleh juga siapkan satu tas mini berisi camilan, botol minum, pakaian, senter kecil, dan satu barang kesayangan mereka.
Tujuannya bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan rasa aman.
BACA JUGA: Jangan Asal Donasi, Ini 7 Jenis Baju Bekas yang Sebaiknya Tidak Didonasikan
4. Jangan Lupa Kebutuhan Lansia
Kalau di rumah ada orang tua alias lansia, buat kebutuhan unik mereka.
Misalnya:
- Obat rutin dan resep/daftar obat
- Kacamata cadangan
- Alat bantu dengar jika digunakan
- Tongkat alias perangkat bantu berjalan
- Popok dewasa jika diperlukan
- Air dan makanan yang sesuai kebutuhan
- Kontak family yang mudah dihubungi
Lansia dapat mempunyai kebutuhan yang berbeda saat kudu bergerak sigap alias mengungsi. Karena itu, rencana pemindahan sebaiknya sudah mempertimbangkan siapa yang bakal mendampingi mereka.
Saat Gempa Terjadi, Jangan Buru-Buru Lari
Kalau berada di dalam gedung dan kondisi memungkinkan, prinsip yang bisa digunakan adalah Drop, Cover, Hold On:
- Drop: merunduk alias menjatuhkan diri agar tidak mudah terjatuh.
- Cover: lindungi kepala dan tubuh, misalnya berlindung di bawah meja yang kokoh.
- Hold On: berpegangan sampai guncangan berhenti.
BNPB dan BMKG sama-sama menganjurkan perlindungan diri saat gempa dan menghindari barang yang dapat jatuh.
Jangan menggunakan lift. Setelah guncangan berhenti, keluar menuju tempat kondusif dengan tetap melindungi kepala dan waspadai gempa susulan.

Foto: Esase/Pexels
Bagaimana Kalau Tinggal Dekat Pantai?
Ini perlu perhatian ekstra.
Jika Mommies berada di area pantai dan merasakan gempa yang kuat alias berjalan lama, jangan menunggu air laut surut alias menunggu info dari media sosial untuk mulai menyelamatkan diri.
Segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sesuai jalur pemindahan setempat. BMKG juga mencantumkan gempa kuat/lama, air laut yang tiba-tiba surut, alias bunyi gemuruh dari laut sebagai tanda yang perlu diwaspadai.
Dengan kata lain: jika berada di area pesisir rawan tsunami, kenali jalur pemindahan sebelum musibah terjadi.
Bagaimana Menjelaskan Gempa kepada Anak Tanpa Membuat Mereka Takut?
Ini juga penting, Mommies dan Daddies.
Anak-anak bisa menangkap kekhawatiran orang dewasa. Jadi, kita tidak perlu mengatakan, “Nanti bakal ada gempa besar, lho!”
Coba gunakan bahasa yang lebih sederhana:
“Gempa adalah salah satu perihal yang bisa terjadi di alam. Kalau kelak rumah bergoyang, kita tahu apa yang kudu dilakukan agar tetap aman.”
Lalu ajak anak berlatih dengan langkah yang menyenangkan. Misalnya, bermain peran mencari tempat kondusif alias membikin permainan sederhana untuk mengingat titik kumpul keluarga.
UNICEF merekomendasikan pembicaraan mengenai gempa yang disesuaikan dengan usia anak, memberikan kesempatan bagi anak untuk bertanya, dan melakukan latihan berbareng keluarga.
Setelah bencana, jangan abaikan perubahan perilaku anak. Anak bisa menjadi lebih clingy, susah tidur, mudah menangis, takut ditinggal, alias kembali menunjukkan perilaku yang sebelumnya sudah ditinggalkan.
Reaksi stres setelah musibah cukup umum dan pada banyak orang dapat membaik seiring waktu. Namun, jika kekhawatiran alias perubahan perilaku berjalan lama alias sangat mengganggu kegiatan sehari-hari, jangan ragu mencari support tenaga kesehatan alias ahli kesehatan mental.
BACA JUGA: Mempersiapkan Anak Menghadapi Bencana Alam
Pada Akhirnya, Bukan Soal Takut tetapi Siap
Mendengar kata megathrust memang bisa membikin kita membayangkan skenario terburuk. Namun, Mommies dan Daddies tidak perlu hidup dalam ketakutan.
Apalagi belakangan kembali beredar info di media sosial yang mengaitkan gempa megathrust dengan tahun 2026. BMKG menegaskan bahwa info mengenai waktu pasti terjadinya gempa tersebut tidak benar.
Gempa tidak bisa diprediksi secara tepat, tetapi kesiapsiagaan bisa dilakukan dari sekarang.
Mulai dari perihal sederhana: tahu titik kondusif di rumah, mengikat furnitur yang berpotensi jatuh, menyiapkan tas siaga, menyimpan obat-obatan penting, tahu jalur evakuasi, dan mengajarkan anak apa yang kudu dilakukan.
Dan satu perihal lagi yang tidak kalah penting: pastikan info yang kita ikuti berasal dari sumber resmi.
Untuk info gempa dan tsunami terkini, Mommies bisa memantau BMKG dan aplikasi Info BMKG. Jangan mudah percaya pada pesan berantai yang menyebut tanggal alias waktu tertentu sebagai waktu terjadinya gempa megathrust, lantaran hingga saat ini gempa belum dapat diprediksi secara akurat.
Kita tidak pernah tahu kapan musibah terjadi. Tapi setidaknya, ketika waktunya tiba, family kita tidak mulai dari nol.
Siap bukan berfaedah takut. Siap berfaedah tahu kudu melakukan apa.