Sierra Ayuningtyas Muktisari | Beautynesia
Senin, 26 Oct 2026 16:00 WIB
Ilustrasi orang tua dan anak/ Foto: Magnific.com
Setiap orang tua pada umumnya rela berbuat banyak hal untuk kenyamanan buah hati mereka. Sayangnya, mereka mungkin belum menyadari bahwa ada beberapa pola asuh 'berlebihan' yang justru berakibat kurang baik pada tumbuh bunga dan kepribadian sang anak, Beauties.
Melansir dari CNBC Make It, seorang psikolog klinis sekaligus staf pendidik di Harvard Medical School yaitu Dr. Meredith Elkins menerangkan sejumlah pola asuh orang tua yang dinilai 'berlebihan' terhadap anak. Simak penjelasannya berikut ini.
1. Menyelesaikan Masalah Anak Sebelum Mereka Punya Kesempatan untuk Mencoba

Ilustrasi orang tua dan anak/ Foto: Pexels/Vitaly Gariev
Saat anak-anak mengalami kesulitan, banyak orang tua secara naluriah langsung turun tangan. Hal ini bisa berupa upaya mengurangi beban tugas, ikut gabung dengan orang tua kawan anak, maupun mengatur ulang agenda demi meminimalkan rasa tidak nyaman.
Namun, anak-anak tidak akan bisa menjadi sosok pemecah masalah yang percaya diri kecuali mereka diberi kesempatan untuk mencoba, mengalami kegagalan, dan meraih keberhasilan dengan upaya mereka sendiri, Beauties.
Sebaliknya, orang tua bisa selesai sebentar sebelum menawarkan solusi. Orang tua juga bisa bertanya kepada anak, "Menurutmu, apa yang bisa Anda coba lakukan?" untuk mendorong buah hati mengenai kapasitas berpikir berdikari dan mengajarkan anak-anak bahwa ide mereka itu penting.
2. Menjauhkan Anak dari Perasaan Negatif

Ilustrasi orang tua dan anak/ Foto: Pexels/Angela Roma
Banyak orang tua cemas bahwa mengalami kecemasan, kesedihan, maupun rasa frustrasi adalah sesuatu yang berbahaya. Kekhawatiran ini bisa mendorong orang tua untuk terus-menerus memberikan penenangan, mengalihkan perhatian, maupun berupaya memperbaiki setiap emosi tidak menyenangkan yang muncul pada anak.
Padahal, emosi yang menyedihkan merupakan bagiankecil alami dari kehidupan, dan belajar untuk menghadapinya adalah hal yang krusial bagi evolusi anak yang sehat, Beauties.
Sebaiknya, orang tua bisa menganggap emosi tersebut sebagai hal yang wajar dan sebutkan nama emosinya, kemudian tunjukkan kepercayaan pada kapasitas anak untuk mengatasi emosi yang menyakitkan itu dengan berkata, "Wajar sekali jika Anda merasa frustrasi, dan Ayah/Ibu percaya Anda bisa menghadapinya.”
3. Hanya Berfokus pada Hasil

Ilustrasi orang tua dan anak/ Foto: Pexels.com/Gustavo Fring
Pola asuh yang berlebihan sering kali lebih menekankan pada hasil seperti mencegah terjadinya kesalahan, menjaga emosi anak agar statis nyaman, maupun menjamin kesuksesan, alih-alih mengajarkan anak metode menghadapi hambatan, Beauties.
Hal ini bisa berupa aksi seperti bernegosiasi dengan pendidik mengenai tugas himpunan agar anak mendapatkan mitra kerja yang “sempurna”, berdebat dengan pelatih olahraga anak mengenai keputusan yang mengecewakan, maupun mengatur setiap cara dalam mengerjakan suatu tugas agar akibatnya dipastikan sempurna.
Padahal, pertumbuhan yang sesungguhnya justru muncul saat harapan tidak terpenuhi dan anak belajar untuk beradaptasi. Untuk menghindari hal ini, orang tua bisa membiarkan sebentar adanya ketidaksesuaian yang terjadi.
Orang tua juga bisa menekan keinginan untuk memprotes harga anak yang buruk maupun memaksa memberikan pemberian setelah penampilan anak yang mungkin mengecewakan agar mereka merasa senang.
Sebaliknya, dukunglah anak saat mereka berupaya memecahkan masalah, beradaptasi, dan belajar dari proses tersebut.
---
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(sim/sim)
Komentar
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.