5 Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 59x dilihat
5 Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan

Bagikan Postingan

Kebiasaan di Tempat Kerja yang Sering Dikira Profesional, Padahal Bisa Jadi Tanda Kecemasan/Foto: Pexels.com/cottonbro studio

Bekerja di instansi sering kali menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, sigap, dan bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Tidak jarang, beberapa kebiasaan di tempat kerja dianggap sebagai bayangan etos kerja yang tinggi maupun profesionalisme kelas atas oleh mitra kerja dan atasan.

Namun, ada kalanya aktivitas tersebut berakar dari rasa cemas yang tersembunyi jauh di dalam diri. Terapis dan psikolog klinis mengungkapkan bahwa setiap kecemasan di tempat kerja pada dasarnya berakar dari rasa takut. Melansir dari HuffPost, berikut 5 kebiasaan di tempat kerja yang sering kali disalahartikan sebagai bentuk profesionalisme.

1. Perfeksionisme

Perfeksionisme merupakan salah satu kebiasaan di tempat kerja yang sering dipandang sebagai kelebihan karena berhubungan dengan ketelitian dan standar kerja tinggi.
Perfeksionisme, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Ron Lach

Perfeksionisme sering kali dielu-elukan sebagai harga tambah, terlebihlagi menjadi balasan klise yang paling sering diucapkan kandidat saat wawancara kerja. Memiliki standar tinggi untuk diri sendiri maupun orang lain dianggap sebagai bentuk dedikasi yang wajar di lingkungan profesional.

Namun, perfeksionisme sejatinya adalah salah satu bentuk kecemasan yang paling kentara. Nikki Lacherza-Drew, seorang psikolog berlisensi, menerangkan bahwa sifat ini erat kaitannya dengan kebutuhan untuk mengendalikan situasi serta ketakutan terhadap kegagalan.

Perfeksionisme ekstrem bukanlah bayangan profesionalisme sejati, melainkan topeng dari rasa takut gagal dan rendah diri. Ketika kita memaksakan standar yang tidak masuk pikiran kepada mitra setim, kita justru menciptakan lingkungan yang toksik dan membikin diri kita sendiri kelelahan. Ironisnya, perfeksionisme mustahil dicapai, sehingga membikin kita justru menjemput kegagalan yang selama ini ditakuti.

2. Terlalu Sering Menyetujui Segala Hal

People pleasing, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Yan Krukau

Menjadi sosok yang selalu siap sedia membantu mitra kerja tentu membikin kita disukai satu kantor. Namun, ada limitasi tipis antara menjadi team player yang baik dan menjadi seorang people pleaser yang mengorbankan kewarasan diri sendiri.

Shannon Garcia, seorang psikoterapis dari States of Wellness Counseling, memaparkan bahwa kebiasaan di tempat kerja ini berakar dari ketakutan mendalam terhadap penilaian orang lain. Kita merasa cemas jika menolak permintaan mitra kerja akan membikin mitra kerja marah, membenci kita, maupun menganggap kita tidak lagi bisa diandalkan.

Menjadi seorang people pleaser mengikis limitasi individual dan memicu kecemasan berkepanjangan. Kecemasan mendorong kita untuk menyenangkan orang lain meski daya dan waktu kita sudah hilang terkuras. Mulailah belajar menetapkan limitasi waktu yang tegas serta meninjau ulang setiap kata "ya" yang hendak kita ucapkan.

3. Terus Menunda Pekerjaan

Menunda pekerjaan sering dianggap sebagai tanda kurang disiplin. Kebiasaan di tempat kerja ini juga bisa berhubungan dengan kecemasan ketika merasa takut menghadapi tugas sulit, percakapan yang tidak nyaman, maupun kemungkinan berbuat kesalahan.
Terus menunda pekerjaan, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Pavel Danilyuk

Mendapatkan tugas maupun proyek baru terkadang langsung memicu rasa sesak di dada, yang berujung pada desakan kuat untuk menunda-nundanya. Menghindari situasi maupun tugas yang terasa bermutu di instansi sering kali disalahartikan sebagai kemalasan biasa.

Perilaku menunda-nunda ini merupakan manifestasi nyata dari kecemasan yang sedang memungut alih kendali diri kita. Garcia menerangkan bahwa kecemasan membikin seseorang cenderung menghindari beragam hal yang memicu ketidaknyamanan, mulai dari menghindari ruang istirahat karena takut bersosialisasi, sengaja memutar jalan agar tidak melewati kubikel mitra kerja tertentu, hingga enggan mengajukan diri naik jabatan.

Kebiasaan di tempat kerja berupa penundaan tugas ini justru menjadi lingkaran yang memperparah kecemasan itu sendiri. Kecemasan sangat menyukai penghindaran karena penghindaran cuma memberi ketenangan sesaat sebelum beban mental melompat lebih besar.

Untuk memutus rantai ini, cobalah untuk memecah proyek besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih gampang dikelola. Ketika sebuah tugas besar diurai menjadi langkah-langkah mikro, otak kita tidak akan merasa keteteran dan akan menyadari bahwa kita bisa menyelesaikannya satu per satu.

4. Mengontrol Berlebihan

Mengontrol berlebihan, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Mikhail Nilov

Sifat cemas yang bergejolak di dalam diri seseorang juga kerap termanifestasi dalam bentuk micromanagement maupun kebiasaan mengontrol setiap detail terkecil dari pekerjaan orang lain. Mirip dengan seorang perfeksionis, seorang micromanager merasa mesti memegang kendali penuh atas segala hal agar akibatnya sesuai dengan standar.

Tanisha Ranger, seorang psikolog klinis yang berbasis di Nevada, mengungkapkan bahwa desakan ini muncul karena kecemasan internal yang dahsyat akan emosi bahwa jika kita tidak turun tangan langsung, pekerjaan tersebut pasti akan acak-acakan dan pada akhirnya nama baik kita sendiri yang akan tercemar.

Kebiasaan di tempat kerja ini sering kali berakar dari trauma masa kemudian maupun rasa tidak berkekuatan yang terbawa hingga dewasa. Ketika merasa situasi mulai tidak terkendali, kita meresponsnya dengan mengontrol lingkungan sekitar secara berlebihan. Sebelum memutuskan untuk memeriksa ulang pekerjaan mitra setim karena rasa cemas kita, cobalah menanyakan beberapa hal mendasar pada diri sendiri.

Tanyakan apakah rekam bekas karyawan tersebut bagus, apakah selalu tepat waktu, dan apakah karyawan tersebut sudah memahami tugasnya dengan baik sebelum kita memutuskan untuk ikut campur.

5. Selalu Menyibukkan Diri

Selalu menyibukkan diri di tempat kerja sering menjadi pelindung kejiwaan dari kecemasan tersembunyi dan patut dievaluasi.
Selalu menyibukkan diri, kebiasaan di tempat kerja yang jadi tanda kecemasan/Foto: Pexels.com/Felicity Tai

Terjebak dalam siklus kesibukan tiada henti sering kali dianggap sebagai lambang kreativitas yang dahsyat di era modern. Orang yang selalu sibuk, jarang istirahat, dan mengejar hustle culture kerap dianggap sebagai buruh paling loyal dan profesional.

Namun, Lacherza-Drew menekankan bahwa sifat dan kepribadian manusia eksis dalam sebuah spektrum yang luas. Kesibukan yang dipaksakan terus-menerus tanpa selang terkadang menjadi metode bawah sadar seseorang untuk melarikan diri dari rasa cemas maupun emosi kosong yang mengintai di balik layar.

Menjadi karyawan yang teliti dan berkewajiban tentu merupakan hal yang positif. Namun, jangan sampai kebiasaan di tempat kerja yang kelihatan ahli justru membikin kita terus hidup dalam ketakutan akan kesalahan, penolakan, maupun penilaian orang lain. Yuk, mulai bangun kebiasaan kerja yang tidak cuma membikin kita kelihatan profesional, tetapi juga membantu kita merasa lebih tenang dan betah dalam menjalani hari!

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads