5 Rekomendasi Novel Bertema Distopia yang Ceritanya Bikin Kepo/Foto: instagram.com/nebookreview
Bookworm merapat! Kamu pasti sudah tidak luar lagi dengan tema cerita distopia yang penuh ketegangan, konflik, dan perjuangan melawan ketidakadilan
Distopia sendiri merupakan deskripsi bumi fiksi yang jauh dari kata ideal, Beauties. Kondisi ini biasanya ditandai dengan ketimpangan sosial, kebebasan yang dibatasi, hingga dominasi pemerintah yang sewenang-wenang. Sebaliknya, utopia menggambarkan bumi ideal yang sempurna, tempat penduduk hidup sejahtera, damai, dan menikmati hayat yang diimpikan.
Nah, buat Anda yang mau membaca kisah distopia, yuk, intip anjuran bukunya berikut ini!
Saha Mansion - Cho Nam-Joo

Saha Mansion/Foto: shopee.co.id/terrabookstore
Novel karya Cho Nam-Joo ini cocok buat Anda yang gemar cerita distopia dengan misteri dan kritik sosial. Saha Mansion membujuk pembaca mengenal Town, sebuah kota-negara yang memisahkan penduduk berdasarkan status sosial dan hak tinggal mereka.
Di sana, penduduk terbagi menjadi kelas L yang berstatus sebagai penduduk resmi dan L2 yang cuma memiliki persetujuan tinggal sementara. Di luar mekanisme tersebut, ada himpunan Saha yang nggak diakui oleh negara. Mereka terdiri atas imigran ilegal, penyandang disabilitas, hingga korban kekerasan yang hidup dalam kemiskinan di Saha Mansion.
Kehidupan di Saha Mansion semakin menarik sekaligus mencekam ketika beragam insiden misterius mulai terungkap. Mulai dari orang-orang yang menghilang tanpa jejak, dinding Town yang nggak bisa ditembus, hingga identitas tujuh menteri tanpa wajah yang mengepalai kota tersebut.
The Handmaid’s Tale - Margaret Atwood

The Handmaid’s Tale mengisahkan hayat di Republik Gilead/Foto: periplus.com
The Handmaid’s Tale mengisahkan hayat di Republik Gilead, sebuah negara yang menerapkan pemerintahan otoriter dengan ketentuan kepercayaan yang ketat. Akibat menurunnya bilangan kelahiran, perempuan yang statis subur dipaksa menjalankan peran sebagai Handmaid, yaitu melahirkan anak untuk famili elite yang berkuasa.
Cerita berfokus pada Offred, seorang perempuan yang mesti menjalani hayat di bawah ketentuan tersebut. Kebebasannya dibatasi, sementara hak atas tubuh dan identitasnya dirampas oleh mekanisme yang mengendalikan hampir seluruh sisi kehidupannya.
1984 - George Orwell

Cerita distopia yang mengadopsi pemerintahan totaliter dan hilangnya kebebasan individu/Foto: periplus.com
Kalau Anda tertarik dengan cerita distopia yang mengadopsi pemerintahan totaliter dan hilangnya kebebasan individu, 1984 karya George Orwell wajib masuk daftar bacaanmu. Novel klasik ini menggambarkan bumi yang dikuasai negara-negara yang terus berperang, dengan pemerintah yang mengendalikan hampir seluruh sisi hayat masyarakat.
Ceritanya berpusat pada Winston Smith, seorang lelaki yang hidup di bawah pengawasan Partai yang dipimpin oleh sosok misterius disebut Big Brother. Bukan cuma aktivitas sehari-hari yang diawasi, keterangan dan sejarah pun dimanipulasi untuk mempertahankan kekuasaan.
Di bumi 1984, penduduk nggak memiliki kebebasan untuk berpikir dan menyampaikan gagasan sesuka hati. Bahkan, Thought Police maupun polisi pikiran bekerja mengamati orang-orang yang dianggap memiliki pemikiran bertentangan dengan ideologi pemerintah. Winston pun mulai mempertanyakan mekanisme tersebut dan terlibat dalam hubungan terlarang yang bisa membahayakan keselamatannya.
Fahrenheit 451 - Ray Bradbury

Fahrenheit 451, novel distopia karya Ray Bradbury yang pertama kali terbit pada 1953/Foto: periplus.com
Apa jadinya jika hidup di bumi tempat buku dianggap sebagai barang terlarang dan siapa pun yang menyimpannya bisa mendapat hukuman? Gambaran inilah yang diangkat dalam Fahrenheit 451, novel distopia karya Ray Bradbury yang pertama kali terbit pada 1953.
Ceritanya mengikuti Guy Montag, seorang petugas pemadam kebakaran yang justru bekerja membakar buku beserta rumah tempat buku-buku tersebut disembunyikan. Awalnya, Montag menjalankan pekerjaannya tanpa mempertanyakan ketentuan yang berlaku. Ia juga menjalani hayat yang monoton berbareng istrinya, Mildred, yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar televisi.
Kehidupan Montag mulai berubah setelah berjumpa Clarisse, tetangga muda yang memiliki metode pandang berbeda terhadap dunia. Melalui percakapan mereka, Montag mulai mengenal hayat di luar ketentuan yang selama ini ia patuhi. Ia pun perlahan mempertanyakan karena buku mesti dimusnahkan dan kenapa penduduk dilarang mengakses pemikiran yang berbeda.
Selain membahas pelarangan buku, Fahrenheit 451 juga menggambarkan penduduk yang kehilangan kebiasaan berpikir kritis karena terlalu larut dalam hiburan dan keterangan dangkal. Pemerintah mempertahankan keadaan tersebut dengan membatasi akses terhadap ilmu dan ide yang berpotensi mendorong penduduk untuk mempertanyakan sistem.
The Memory Police - Yoko Ogawa

The Memory Police mengisahkan hayat penduduk sebuah pulau tanpa nama yang eksis di bawah kendali rezim otoriter/Foto: periplus.com
The Memory Police mengisahkan hayat penduduk sebuah pulau tanpa nama yang eksis di bawah kendali rezim otoriter. Perlahan penduduk di pulau tersebut kehilangan ingatan tentang beragam benda, mulai dari topi, pita, hingga bunga mawar.
Bahkan, sebagian besar penduduk nggak menyadari kehilangan tersebut, tapi beberapa orang statis bisa mengingatnya dan menjadi sasaran Polisi Kenangan yang bekerja memastikan semua hal yang menghilang statis terlupakan.
Konflik dimulai ketika seorang novelis muda mengetahui bahwa editornya terancam ditangkap karena statis memiliki ingatan tersebut. Ia pun berupaya menyembunyikan sang editor di rumahnya.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)