50 Bahasa Gaul Gen Z Kekinian, Lengkap Dengan Arti Dan Contohnya!

Apr 10, 2026 04:00 PM - 3 minggu yang lalu 29813

bahasa gaul gen z – Halo, Grameds! Pernah nggak sih Anda baca caption alias komentar di media sosial tapi malah bingung sendiri lantaran banyak istilah-istilah baru? Tenang, Anda nggak sendirian. 

Bahasa-bahasa gaul Gen Z ini berkembang sangat sigap di internet, terutama lantaran pengaruh media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X.

Artikel ini bakal membahas bahasa gaul Gen Z yang paling sering dipakai di media sosial komplit dengan makna dan juga contoh penggunaannya. Yuk, Grameds, simak untuk daftar lengkapnya!

Apa Itu Bahasa Gaul Gen Z?

Bahasa gaul Gen Z adalah corak bahasa informal yang digunakan oleh generasi kelahiran sekitar 1997–2012. Bahasa ini biasanya muncul dari:

  • Media sosial
  • Meme
  • Budaya pop
  • Campuran bahasa Indonesia, Inggris, dan singkatan 

50 Bahasa Gaul Gen Z Lengkap dengan Arti dan Contohnya

Berikut adalah daftar bahasa-bahasa gaul yang seringkali digunakan oleh Gen Z di media sosial.

  1. No Cap
    “No cap” dipakai untuk menegaskan bahwa seseorang sedang berbicara jujur tanpa dilebih-lebihkan. Istilah ini sering muncul di obrolan santuy alias media sosial sebagai penekanan agar orang lain percaya. Contoh: “Film itu bagus banget, no cap.”
  2. Slay
    “Slay” merupakan pujian yang menandakan seseorang tampil keren, percaya diri, alias sukses melakukan sesuatu. Biasanya digunakan untuk mengapresiasi penampilan, performa, alias pencapaian. Contoh: “Kamu slay banget pas presentasi.”
  3. Sus
    “Sus” berasal dari kata suspicious dan digunakan saat sesuatu terasa janggal alias mencurigakan. Bisa bersuara berbual maupun serius tergantung konteksnya. Contoh: “Alasannya sus banget.”
  4. Delulu
    “Delulu” menggambarkan kondisi terlalu berangan-angan alias berekspektasi tidak realistis, sering dipakai secara humoris. Umumnya muncul dalam obrolan soal cinta alias fandom. Contoh: “Ngerasa dia suka balik? Delulu sih.”
  5. Flex
    “Flex” berfaedah memamerkan barang, pencapaian, alias pengalaman untuk menunjukkan status alias keberhasilan. Istilah ini sangat lekat dengan unggahan media sosial. Contoh: “Dia lagi flex liburan.”
  6. Vibe
    “Vibe” merujuk pada suasana alias daya yang terasa dari tempat, orang, alias situasi tertentu. Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan kesan emosional. Contoh: “Tempat ini vibenya nyaman.”
  7. Lowkey
    “Lowkey” digunakan saat seseorang mempunyai emosi alias kemauan tertentu tetapi tidak mau mengungkapkannya secara terang-terangan. Biasanya bernuansa halus. Contoh: “Aku lowkey setuju.”
  8. Highkey
    Kebalikan dari lowkey, “highkey” menunjukkan emosi alias pendapat yang jelas, kuat, dan diakui secara terbuka. Contoh: “Aku highkey capek hari ini.”
  9. Bet
    “Bet” dipakai sebagai tanda persetujuan alias kesiapan melakukan sesuatu. Maknanya mirip dengan “oke” alias “siap”. Contoh: “Jam tujuh ya.” — “Bet.”
  10. Mid
    “Mid” digunakan untuk menilai sesuatu yang terasa biasa saja dan tidak sesuai ekspektasi. Tidak jelek, tapi juga tidak istimewa. Contoh: “Menurutku filmnya mid.”
  11. Simp
    “Simp” merujuk pada orang yang terlalu berlebihan dalam memberikan perhatian alias pengorbanan pada orang yang disukai. Biasanya bernuansa bercanda. Contoh: “Dia simp banget sama gebetannya.”
  12. Rizz
    “Rizz” menggambarkan pesona alias karisma seseorang, terutama dalam menarik perhatian secara romantis. Contoh:“Dia punya rizz alami.”
  13. AF
    Singkatan dari as f**, “AF” berfaedah untuk memperkuat kata sifat agar terdengar sangat intens. Contoh: “Capek AF hari ini.”
  14. Mood
    “Mood” dipakai saat sesuatu sangat mewakili emosi alias kondisi emosional seseorang. Sering muncul di meme alias caption. Contoh: “Foto itu mood banget.”
  15. Salty
    “Salty” menggambarkan rasa kesal, iri, alias baper akibat situasi tertentu. Biasanya muncul dalam konteks kejuaraan alias bentrok kecil. Contoh: “Dia salty lantaran kalah.”
  16. Bussin’
    “Bussin’” digunakan untuk menyebut makanan yang rasanya sangat enak. Istilah ini terkenal dalam review kuliner. Contoh: “Ayamnya bussin’ parah.”
  17. Main Character
    Istilah ini menggambarkan seseorang yang hidup dengan percaya diri seolah dirinya adalah tokoh utama. Biasanya bernuansa positif dan motivasional. Contoh: “Dia punya main character energy.”
  18. FOMO
    “FOMO” adalah rasa takut ketinggalan tren alias momen yang dialami orang lain. Sangat umum di era media sosial. Contoh: “Ikut kegiatan itu lantaran FOMO.”
  19. JOMO
    Kebalikan dari FOMO, “JOMO” menekankan kebahagiaan lantaran memilih tidak ikut keramaian dan menikmati waktu sendiri. Contoh: “Weekend ini JOMO aja.”
  20. Ghosting
    “Ghosting” berfaedah tiba-tiba menghilang tanpa berita dan memutus komunikasi, biasanya dalam hubungan personal. Contoh: “Dia ghosting setelah chat intens.”
  21. Stan
    “Stan” berfaedah menjadi fans berat dan mendukung seseorang alias sesuatu secara total. Contoh: “Aku stan grup itu.”
  22. Tea
    “Tea” merujuk pada rumor alias cerita menarik yang mau dibagikan. Contoh: “Spill the tea dong.”
  23. POV
    “POV” digunakan untuk menunjukkan perspektif pandang tertentu dalam cerita alias konten video. Contoh: “POV: Anda telat masuk kelas.”
  24. Touch Grass
    Ungkapan ini menyindir orang yang terlalu larut di bumi digital agar kembali ke realitas. Contoh: “Kebanyakan online, touch grass dulu.”
  25. It’s Giving…
    Frasa ini dipakai untuk menggambarkan kesan alias aura yang terpancar dari seseorang alias situasi. Contoh: “It’s giving main character vibes.”
  26. Relate
    “Relate” digunakan saat seseorang merasa sangat terhubung dengan cerita alias pengalaman orang lain. Contoh: “Cerita Anda relate banget.”
  27. Cringe
    “Cringe” menggambarkan rasa malu alias risih lantaran memandang sesuatu yang canggung alias berlebihan. Contoh:“Videonya bikin cringe.”
  28. Red Flag
    “Red flag” menandakan tanda ancaman dalam sikap alias perilaku seseorang. Contoh: “Itu red flag sih.”
  29. Green Flag
    Sebaliknya, “green flag” menunjukkan sikap positif yang sehat dan patut dipertahankan. Contoh: “Dia green flag banget.”
  30. Healing
    “Healing” digunakan untuk menggambarkan kegiatan pemulihan mental dari stres alias burnout. Contoh: “Aku butuh healing.”
  31. Oversharing
    “Oversharing” berfaedah membagikan terlalu banyak perihal pribadi, terutama di ruang publik. Contoh: “Dia oversharing di medsos.”
  32. Understood the Assignment
    Frasa ini menunjukkan bahwa seseorang betul-betul memahami tugas dan mengeksekusinya dengan tepat. Contoh:“Outfit kamu? Understood the assignment.”
  33. Core Memory
    “Core memory” merujuk pada pengalaman hidup yang sangat berkesan dan membentuk emosi. Contoh: “Itu core memory banget.”
  34. Soft Launch
    “Soft launch” berfaedah memperkenalkan sesuatu secara samar tanpa pernyataan langsung. Contoh: “Dia soft launch pacarnya.”
  35. Hard Launch
    “Hard launch” adalah pengumuman resmi dan terbuka ke publik. Contoh: “Akhirnya hard launch.”
  36. NPC
    “NPC” menyebut orang yang dianggap pasif alias hanya mengikuti arus. Contoh: “Dia kayak NPC.”
  37. Plot Twist
    “Plot twist” menggambarkan kejadian tak terduga yang mengubah situasi. Contoh: “Endingnya plot twist.”
  38. Canon Event
    “Canon event” adalah pengalaman hidup krusial yang dianggap tak terhindarkan. Contoh: “Itu canon event hidupku.”
  39. Valid
    “Valid” digunakan untuk mengakui bahwa emosi seseorang wajar dan masuk akal. Contoh: “Perasaan Anda valid.”
  40. Bare Minimum
    “Bare minimum” berfaedah upaya paling dasar yang semestinya sudah jadi standar. Contoh: “Itu bare minimum.”
  41. Gaslighting
    “Gaslighting” adalah manipulasi yang membikin seseorang meragukan realitasnya sendiri. Contoh: “Dia gaslighting aku.”
  42. Cancelled
    “Cancelled” berfaedah kehilangan support publik lantaran kontroversi. Contoh: “Dia kena cancelled.”
  43. Safe Space
    “Safe space” adalah tempat alias orang yang membikin seseorang merasa kondusif secara emosional. Contoh: “Kamu safe space aku.”
  44. Unhinged
    “Unhinged” menggambarkan perilaku yang terasa lepas kendali tapi sering dianggap lucu. Contoh: “Thread itu unhinged.”
  45. Emotionally Drained
    Istilah ini menggambarkan kondisi kelelahan emosional akibat tekanan berkepanjangan. Contoh: “Aku emotionally drained.”
  46. Soft Spoken
    “Soft spoken” merujuk pada langkah bicara yang lembut dan tenang. Contoh: “Dia soft spoken.”
  47. Hard Truth
    “Hard truth” adalah realita pahit yang susah diterima. Contoh: “Itu hard truth.”
  48. Manifesting
    “Manifesting” berfaedah meyakini dan membayangkan sesuatu agar terwujud. Contoh: “Lagi manifesting kerjaan baru.”
  49. Burnout
    “Burnout” adalah kelelahan bentuk dan mental akibat tekanan berlebihan. Contoh: “Aku lagi burnout.”
  50. Real
    “Real” digunakan untuk menyatakan persetujuan lantaran sesuatu terasa jujur dan relevan. Contoh: “Real. Setuju  banget!”

Kesimpulan

Grameds, perkembangan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X mempercepat lahirnya istilah-istilah baru yang sering digunakan oleh Gen Z. 

Dari daftar bahasa gaul Gen Z di atas, mana favorit kamu, Grameds?

Rekomendasi Buku Terkait

  1. Jago Percakapan Slang English Jago Percakapan Slang English 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Buku Jago Percakapan Slang English merupakan pedoman praktis bagi siapa saja yang mau mengasah keahlian dalam memahami dan menggunakan bahasa Inggris gaul alias slang. Di dalamnya, pembaca bakal dikenalkan pada beragam jenis slang yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik di Amerika Serikat maupun Inggris. Buku ini tidak hanya menjelaskan makna dari setiap istilah slang, tetapi juga membahas latar belakang serta konteks penggunaannya. Melalui kitab ini, pembaca bakal belajar langkah mengenali slang, memahami maknanya, dan menggunakannya secara tepat dalam percakapan informal. 

2. Ragam Slang dalam Komunikasi Digital Jago Percakapan Slang English

Buku ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai beragam corak slang words yang digunakan dalam komunikasi digital masa kini. Di dalamnya, pembaca diajak untuk mengeksplorasi langkah penggunaan slang dalam pesan singkat, obrolan daring, media sosial, hingga beragam platform digital lainnya. Slang dalam konteks ini tidak hanya memperkaya ekspresi, tetapi juga mencerminkan identitas golongan dan menciptakan style komunikasi yang santai, akrab, dan lebih personal. 

Selengkapnya