Review Buku Malam Terakhir

Apr 08, 2026 02:58 PM - 3 minggu yang lalu 28514

Malam Terakhir – Bagaimana jika satu malam saja cukup untuk mengubah langkah Anda memandang hidup…bahkan setelah bukunya ditutup?

Malam Terakhir adalah kumpulan cerpen yang pertama kali terbit pada tahun 1989, namun anehnya terasa seperti tidak pernah betul-betul “menua”. Dalam jenis Januari 2017, terdapat sembilan cerita pendek yang masing-masing tetap relevan hingga hari ini, tanpa satu pun terasa usang alias tertinggal oleh zaman.

Sembilan cerpen tersebut meliputi  Paris, Adila, Air Suci Sita, Sehelai Pakaian Hitam, Untuk Bapak, Keats, Ilona, Sepasang Mata Menatap Rain, dan Malam Terakhir. Kritikus H B Jassin menilai bahwa Malam Terakhir menghadirkan banyak idiom dan metafora yang segar, ditambah pandangan falsafi yang terasa baru berkah style penyampainnya yang khas. Meski dipenuhi imajinasi, setiap gambaran tetap terasa jelas dan mudah dibayangkan. Menariknya lagi, kumpulan cerpen ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan titel Die Letzte Nacht oleh Horlemann Verlag.

Buku ini kemudian diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 12 Februari 2018 dengan ketebalan 119 halaman. Sebelum lanjut ke ulasan yang lebih dalam, yuk kita kenalan dulu dengan sosok penulis di kembali cerita-cerita yang diam-diam bisa menetap lama di kepala ini.

Profil Leila S. Chudori – Penulis Buku Malam Terakhir

Leila Salikha Chudori adalah penulis Indonesia yang dikenal melalui karya cerpen, novel, dan skenario untuk drama televisi. Tulisan-tulisannya banyak berbincang tentang kejujuran, keyakinan, tekad, serta beragam prinsip hidup dan pengorbanan. Ia tumbuh berbareng referensi yang kuat pengaruhnya, seperti karya Kafka, Dostoyevsky, D H Lawrence, James Joyce, hingga pemikiran Freud dan Erich Fromm. Pengaruh ini tampak dalam tokoh-tokoh ceritanya yang mempunyai kesadaran mendalam dan jiwa yang merdeka. Leila juga tidak ragu memadukan imajinasi, mitologi, serta pengalaman pribadi dalam cerita untuk menciptakan alur yang kaya, pararel, dan penuh dengan lapisan makna. Gaya bertuturnya dikenal intelektual sekaligus puitis dengan banyak metafora dan perspektif pandang baru.

Leila pernah mewakili Indonesia untuk menempuh pendidikan di Lester B Pearson College of the Pacific di Kanada, lampau meraih gelar sarjana Political Science dan Comparative Development Studies dari Universitas Trent. Sejak 1989 dia berasosiasi dengan majalah Tempo dan telah mewawancarai banyak tokoh internasional. Kini dia menjabat sebagai Redaktur Senior Tempo sekaligus tetap aktif menulis resensi film.

Karya-karya awalnya sudah dimuat sejak usia dua belas tahun. Di masa dewasa, cerpennya tampil di beragam majalah dan jurnal sastra dalam dan luar negeri. Kumpulan cerpennya Malam Terakhir apalagi diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Karya Leila juga telah dikaji oleh para kritikus sastra dan namanya tercantum dalam kamus sastra Dictionnaire des Creatrices di Prancis.

button cek gramedia com

Sinopsis Buku Malam Terakhir

Paris, pada sebuah siang yang terik.

Sudah tiga puluh menit gadis itu berdiri di depan sebuah pintu kayu, namun tak ada tanda-tanda pintu itu bakal terbuka. Panas musim panas membikin kulitnya terasa perih. Ia mulai tergoda untuk menerobos pintu kayu yang tampak begitu keras dan tak berkawan itu. Ia membatin, bakal ku ketuk sekali lagi, dan jika tetap tidak ada jawaban, pintu ini bakal kuakali paksa.

Kali ini sang gadis mengetuk dan memukul pintu itu sekuat yang dia bisa. Hanya beberapa detik kemudian terdengar langkah berat yang terseret disertai bunyi batuk parau dari kembali pintu. Lalu muncul wajah seorang wanita tua berkulit kusut, berbulu seputih salju, dengan bibir tebal yang memancarkan kesan garang. Gadis itu terperanjat ketika memandang ada tetes ludah yang muncul di ujung bibir wanita renta tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Malam Terakhir

Pros & Cons

Pros

  • Gaya penulisan yang khas.
  • Meluapkan emosi pembaca.
  • Kumpulan cerita pendek yang unik.
  • Mengandung nilai moral yang tinggi.
  • Tokoh yang hidup.

Cons

  • Pemilihan tema dan resolusi yang kurang pas

Kelebihan Buku Malam Terakhir

Buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori ini mempunyai banyak sekali kelebihan yang membikin kitab ini wajib sekali untuk Grameds miliki dan baca.

  • Gaya penulisan yang khas

Leila S Chudori mempunyai langkah bercerita yang begitu lembut dan memikat. Pilihan katanya membikin pembaca merasa seakan diajak menari mengikuti aliran metafora yang bagus dan penuh dengan kilau makna. Setiap kalimat dalam kitab ini juga terasa terjaga dan menyentuh hati.

  • Meluapkan emosi pembaca

Kumpulan cerpen ini bisa mengguncang emosi pembacanya. Emosi dibawa naik turun oleh rangkaian kata yang kuat dan intens. Ada bagian yang membikin dada sesak, ada pula bagian yang membikin air mata menetes. Beragam rasa seperti kegelisahan, keraguan, dan kewaspadaan disajikan dengan sangat hidup dalam kitab ini.

  • Kumpulan cerita pendek yang unik

Buku ini berisi sembilan cerita yang kebanyakan menyoroti tokoh-tokoh dengan khayalan yang begitu kuat. Banyak karakter yang hidup berdampingan dengan sosok dari buku, wayang, alias tokoh khayalan yang seolah menjadi bagian nyata dari keseharian mereka. Hal ini membikin setiap cerita terasa segar dan berbeda.

  • Mengandung nilai moral yang tinggi.

Melalui cerpen-cerpennya, Leila menghadirkan banyak rumor penting. Ada kritik sosial terhadap politik, psikologi, pendidikan, hingga nilai konservatif yang kerap merugikan perempuan. Cerpen Air Suci Sita misalnya, menyoroti gimana kesetiaan wanita terus diuji sementara laki-laki tidak dikenai beban yang sama. Latar belakang Leila sebagai wartawan terasa memperkuat kedalaman pesan yang dia sampaikan.

  • Tokoh yang hidup.

Para tokoh dalam kitab ini terasa begitu nyata. Cara Leila menggambarkan karakter membikin pembaca seolah mengenal mereka secara pribadi. Gestur, pikiran, dan pergulatan jiwa mereka tergambar kuat sehingga mudah membikin pembaca ikut hanyut dalam kehidupan tokoh-tokohnya.

Kekurangan Buku Malam Terakhir

Buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori memang referensi yang sangat menarik dengan segala kelebihannya, bakal tetapi kitab ini tetap mempunyai kekurangan yaitu,

  • Pemilihan tema dan resolusi yang kurang pas.

Meskipun memikat dari segi style bercerita, beberapa cerpen dalam kitab ini berhujung terlalu cepat. Ada cerita yang tidak memberikan resolusi yang memuaskan sehingga membikin pembaca merasa tetap menggantung. Selain itu, beberapa tema terasa kurang selaras satu sama lain sehingga kesannya sedikit kurang padu dalam satu kumpulan.

Sejarah Cerpen

Cerpen alias yang biasa disebut dengan cerita pendek, mungkin Grameds sudah sering mendengar kata tersebut bakal tetapi apakah Grameds tau sejarah cerpen di Indonesia? Kalau belum jangan lewatkan info yang satu ini ya! Gramin sudah rangkumkan secara unik sejarah cerpen di Indonesia. 

Sejarah cerpen di Indonesia bermulai pada awal 1910-an melalui karya para penulis seperti M Kasim yang mulai memperkenalkan corak cerita pendek kepada pembaca. Genre ini kemudian bertumbuh pesat pada masa Pujangga Baru tahun 1930-an lewat nama-nama seperti Armijn Pane, dan semakin dikenal pada periode setelah kemerdekaan antara tahun 1945 hingga 1965.

Periode kelahiran sekitar 1910-an hingga 1928

Pada masa ini, karya M Kasim dan Suman Hs menjadi penanda awal lahirnya cerpen di Indonesia. Bentuk tulisan pendek mulai banyak muncul meskipun istilahnya tetap sering bercampur dengan penyebutan lain seperti hikayat alias sketsa.

Periode pertumbuhan tahun 1928 hingga 1945

Cerpen mulai mempunyai corak yang lebih jelas dan konsisten. Karya seperti Kisah Antara Manusia oleh Armijn Pane menjadi contoh krusial perkembangan cerpen pada era Pujangga Baru. Pada masa pendudukan Jepang, tema yang diangkat banyak berkisar pada kehidupan sehari-hari, meski tidak jarang diberi sentuhan sentimen tertentu.

Periode perkembangan tahun 1945 hingga 1965

Setelah kemerdekaan, cerpen mengalami peningkatan besar dalam jumlah maupun popularitas. Bentuk tulisan ini mulai diakui sebagai bagian krusial dari sastra Indonesia yang terus berkembang.

Periode kebangkitan tahun 1965 hingga 1980 dan kesemarakan 1980 hingga sekarang

Pada masa ini posisi penulis cerpen semakin kuat. Cerpen mempunyai ruangnya sendiri dalam bumi kesusastraan. Banyak penulis cerpen baru bermunculan dan karya-karya mereka semakin mendapat perhatian luas hingga hari ini.

Dengan perjalanan panjang tersebut, cerpen menjadi salah satu corak karya sastra yang paling digemari dan terus berkembang di Indonesia.

Penutup

Dengan pilihan kata yang memukau dan metafora yang berkilau, Leila S Chudori sukses membawa pembaca Malam Terakhir masuk ke dalam arus emosi yang terus berubah. Setiap cerita ibaratkan ombak yang datang silih berganti, membujuk pembacanya merasakan detik demi detik perjalanan jiwa para tokohnya. Sembilan cerpen yang dirangkum dalam satu kitab ini betul-betul layak menjadi bagian dari koleksi Grameds.

Tidak hanya menawarkan keelokan cerita, kitab ini juga memberi pengingat yang lembut namun kuat bahwa di luar sana ada begitu banyak realitas yang kudu kita hadapi dengan keberanian dan keteguhan hati. Malam Terakhir bukan sekadar bacaan, tetapi pengalaman yang bakal menetap dalam ingatan.

Nah Grameds, itu dia sinopsis dan ulasan dari Buku Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori. Yuk langsung saja dapatkan kitab ini hanya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Rekomendasi Buku

1. Laut Bercerita

Laut Bercerita

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, berkata tentang kisah family yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang doyan menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah family yang mencari kejelasan makam anaknya, dan tentang cinta yang tak bakal luntur.

2. Pulang (2023)

Pulang (2023)

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Novel Pulang adalah kisah dua generasi—Dimas Suryo dan putrinya, Lintang Utara—yang bersama-sama menetap di Paris, Prancis. Seperti ribuan penduduk Indonesia lain yang terjebak di beragam negara dengan status stateless, family Dimas Suryo tak pernah bisa pulang ke Indonesia lantaran paspor mereka dicabut dan kehidupan mereka terancam. Pada tahun 1998, Lintang Utara akhirnya sukses menyentuh tanah air. Dia datang untuk mereka pengalaman family korban Tragedi 1965 sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lampau ayahnya, tetapi juga gimana sejarah paling berdarah di Indonesia berangkaian dengan Dimas Suryo dan kawan-kawannya.

Pulang adalah novel pertama dalam trilogi kisah 1965, yang bercerita tentang drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

3. Novel Nadira

Novel Nadira

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

DI SEBUAH pagi yang murung, Nadira Suwandi menemukan ibunya tewas bunuh diri. Kematian sang ibu, Kemala Yunus, seorang wanita yang dikenal sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu berkompetisi mencari diri itu, sungguh mengejutkan. 

Tewasnya Kemala kemudian mempengaruhi kehidupan Nadira sebagai seorang anak (“Melukis Langit”); seorang wartawan (“Tasbih”); seorang kekasih (“Ciuman Terpanjang”); seorang istri, hingga akhirnya membawa Nadira kepada sebuah penjelajahan ke bumi baru, bumi seksualitas yang tak pernah disentuhnya (“Kirana”).

Dalam dua cerita baru kumpulan ini, “Sebelum Matahari Mengetuk Pagi” dan “Dari New York ke Legian”, kita semakin masuk ke dalam bumi jiwa Nadira.

Selengkapnya