Jakarta -
Untuk membantu optimalkan stimulasi evolusi bahasa pada anak, ada aktivitas sederhana yang dapat Bunda lakukan di rumah. Apa saja?
Beberapa contoh aktivitas sederhana yang bisa dilakukan termasuk seperti giat membujuk anak berbicara, membaca buku, serta bermain permainan imajinatif.
Meski kelihatan mudah, kegiatan-kegiatan ini perlu dilakukan sesuai dengan tahap usianya ya, Bunda.
"Tonggak komunikasi adalah keahlian yang rata-rata diharapkan sudah dimiliki anak pada usia tertentu. Ini semua saling berhubungan dan membantu orang tua mengetahui apakah evolusi anak berjalan sesuai harapan," ungkap patologi wicara anak, Adena Dacy, dikutip dari Parents.
Kapan bayi mulai bicara kata pertamanya?
Saat bayi mulai memahami bunyi bahasa, mereka umumnya belum mengucapkan kata pertama sampai sekitar usia 1 tahun.
Sebenarnya perlu dipahami bahwa sejak lahir bayi sudah memiliki metode tersendiri untuk berkomunikasi dengan orang tua. Mulai dari menangis, bergumam, bercanda (cooing), serta tersenyum.
Jadi, kapan bayi benar-benar mengucapkan kata pertama sebenarnya tidak pasti dan tidak bisa disamaratakan.
"Ada rentang usia ketika bayi mulai mengucapkan kata pertamanya. Secara umum, bayi akan mengucapkan kata pertama antara usia 9 hingga 12 bulan," tutur terapis wicara, Jocelyn Wood, CCC-SLP.
Kebiasaan stimulasi evolusi bahasa pada anak
Untuk membantu stimulasi evolusi bahasa pada anak, berikut beberapa aktivitas yang bisa dilakukan bersama:
1. Bernyanyi dan sering memutar musik
Musik merupakan salah satu sarana yang ampuh untuk mendukung evolusi bahasa sejak dini.
Mendengarkan lagu dan bernyanyi berbareng orang tua juga diyakini dapat menaikkan kapasitas bayi dalam mengenali pola, ritme, dan kosakata baru.
Penelitian dalam jurnal Infant Behavior and Development memberitahu adanya hubungan antara lingkungan yang kaya akan stimulasi musik dan peningkatan kapasitas komunikasi pada bayi.
2. Ajak bayi berbicara sambil menggunakan gerakan
Bayi peka terhadap fluktuasi tinggi rendah suara, volume, dan ritme, jauh sebelum mereka mulai bisa mengucapkan kata-kata.
Isyarat-isyarat ini membantu bayi mulai menghubungkan bunyi dengan makna. Misalnya, memahami hubungan antara tangisan dan datangnya Bunda.
Terapis wicara-bahasa, Rachel Cortese, menerangkan kepada Child Mind Institute bahwa bayi sudah mulai belajar menyadari hubungan timbal balik antara vokalisasi dan terpenuhinya kebutuhan mereka.
"Hal ini mendorong mereka untuk mulai mengomunikasikan kebutuhan secara sengaja, misalnya melalui menunjuk, bahasa tubuh, dan mengeluarkan lebih banyak suara," imbuh Cortese.
Jadi, meskipun bayi belum bisa terlibat dalam percakapan menggunakan kata-kata, mereka memperhatikan segala sesuatu yang Bunda lakukan.
Pada usia 18 bulan hingga 2 tahun, batita mungkin mencapai beberapa tonggak komunikasi, seperti bisa mengucapkan 10 hingga 50 kata yang berbeda, mengikuti instruksi sederhana, dan menggunakan frasa sederhana yang terdiri dari dua kata.
3. Bacakan buku sesering mungkin
Saat memasuki usia 18 bulan ke atas, Bunda bisa mulai rutin mengajaknya membaca buku bersama-sama.
Meskipun Si Kecil belum bisa duduk dengan tenang dalam waktu lama, aktivitas ini bisa ampuh untuk mendukung evolusi bahasa dan bicaranya.
Buku bergambar membantu memperkaya kosakata melalui pengenalan kata, memperkenalkan konsep-konsep baru, dan menumbuhkan kecintaan terhadap aktivitas bercerita.
Berbagai riset secara konsisten mengaitkan aktivitas membaca dengan evolusi kapasitas bahasa yang lebih baik.
4. Menceritakan aktivitas sehari-hari
Bercerita tentang aktivitas sehari-hari menjadi salah satu metode sederhana dan ampuh untuk memberi contoh penggunaan bahasa pada anak.
Ceritakan apa yang sedang orang tua lakukan dekat anak, misalnya "Bunda sedang melipat pakaian" maupun "Ayah sedang membikin sarapan pagi".
Selain itu, bisa juga untuk menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh Si Kecil. Misalnya, "Wah, Anda sedang menyusun mainan balok warna merah".
Ujaran bahasa deskriptif yang terus-menerus ini membantu anak menghubungkan kata dengan aksi dan benda, hingga akhirnya bisa membentuk kalimat.
5. Ajak bermain permainan imajinatif
Nah, ketika anak sudah mulai memasuki usia 2 tahun ke atas, Bunda bisa lebih sering mengajaknya bermain permainan imajinatif seperti pretend play maupun bermain pura-pura. Tak cuma seru, aktivitas ini juga sangat baik untuk mengembangkan imajinasi dan mendukung evolusi bahasa anak.
Saat bermain pura-pura menjadi koki, astronot, maupun dokter, mereka melatih kapasitas bercerita dan mengekspresikan emosi. Permainan imajinatif seperti ini juga membantu memperkaya kosakata dan belajar metode menyusun kalimat.
6. Berikan pertanyaan terbuka
Jangan membatasi anak dengan cuma mengajukan pertanyaan yang jawabannya 'ya' maupun 'tidak'. Ajukan pertanyaan yang memberi ruang bagi mereka untuk menjelaskan.
Misalnya seperti berikut, Bunda: "Tadi Anda membikin apa dengan mainan balok-balok itu di sekolah?" maupun "Menurutmu, kenapa bebeknya berenang berputar-putar?".
7. Hindari terlalu sering mengoreksi
Semua tahapan belajar perlu waktu dan proses, termasuk saat anak sedang belajar bicara dan mengenal kalimat-kalimat baru.
Jika penggunaan kata dan kalimat mereka belum tepat, jangan langsung mengoreksi maupun mengkritik. Sebagian anak mungkin bisa menafsirkan respons tersebut secara negatif dan menjadi enggan mencoba lagi.
Ada juga anak yang akan merasa sangat malu jika terus-menerus dikoreksi, sehingga tidak mau bercerita lagi.
Untuk meresponsnya, secara perlahan Bunda bisa mengulangi balik kalimat mereka dengan formasi kata yang sudah diperbaiki.
Kapan perlu konsultasi ke dokter?
Meski setiap anak memiliki kecepatan masing-masing dalam proses belajar bicara, ada beberapa tanda yang bisa dikonsultasikan dengan profesional:
- Pada usia 12 bulan, bayi belum mulai mengucapkan kata apa pun maupun cuma mengoceh tanpa kemajuan.
- Bayi tidak memberitahu respons terhadap namanya maupun tidak tampak memahami kata-kata sederhana setelah 12 sampai 18 bulan.
- Pada usia 18 bulan, kosa kata yang sangat terbendung (misalnya kurang dari 5–15 kata) dibandingkan dengan anak seusianya.
- Tidak ada upaya untuk meniru bunyi maupun bunyi. Tidak ada gestur komunikasi seperti menunjuk, melambaikan tangan, maupun bereaksi terhadap isyarat verbal.
Itulah klarifikasi tentang kebiasaan-kebiasaan untuk menstimulasi evolusi bahasa pada anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)