Bayangkan Anda sedang duduk di dalam pesawat terbang komersial, bersiap untuk lepas landas, namun tiba-tiba mengetahui kebenaran yang cukup meresahkan: peraturan keselamatan penerbangan yang melindungi nyawa Anda rupanya ditulis oleh chatbot dalam waktu kurang dari 20 menit. Terdengar seperti premis movie fiksi ilmiah distopia? Sayangnya, ini adalah realitas baru yang sedang dirancang di Amerika Serikat. Laporan terbaru mengungkap bahwa manajemen pemerintahan Donald Trump mempunyai rencana ambisius—dan kontroversial—untuk menggunakan kepintaran buatan dalam menyusun peraturan federal yang krusial.
Berdasarkan laporan investigasi dari ProPublica, Departemen Transportasi AS (DOT) diproyeksikan menjadi lembaga pertama yang sepenuhnya mengangkat teknologi ini. Tidak main-main, mereka berencana menggunakan Google Gemini untuk merancang izin penting. Padahal, DOT adalah lembaga yang bertanggung jawab atas standar keselamatan pesawat komersial, pengangkutan bahan berbahaya, hingga kualifikasi pengemudi. Rencana ini bukan sekadar wacana, melainkan telah dipresentasikan kepada staf departemen tersebut bulan lampau sebagai sebuah inisiatif yang dianggap “revolusioner” oleh para pejabat tinggi di sana.
Namun, di kembali narasi efisiensi dan kecepatan, muncul kekhawatiran mendalam mengenai kualitas norma dan keselamatan publik. Alih-alih mengejar kesempurnaan dalam patokan yang menyangkut nyawa jutaan orang, pendekatan yang diambil justru terkesan pragmatis secara ekstrem. Pejabat mengenai apalagi secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak memerlukan patokan yang sempurna, cukup patokan yang “cukup baik”. Pergeseran paradigma dari ketelitian manusia ke kecepatan algoritma ini memicu perdebatan sengit di kalangan mahir norma dan teknologi.
Standar “Cukup Baik” yang Mengundang Tanya
Salah satu aspek paling mengejutkan dari inisiatif ini adalah sikap para pejabat tinggi DOT terhadap kualitas izin itu sendiri. Gregory Zerzan, penasihat umum badan tersebut, dilaporkan sangat antusias dengan petunjuk Presiden Trump ini. Dalam transkrip pertemuan yang bocor, Zerzan melontarkan pernyataan yang mungkin membikin dahi Anda berkerut. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memerlukan patokan yang sangat bagus, melainkan hanya mau “membanjiri zona” dengan izin yang diproduksi secara massal.
Pendekatan jumlah di atas kualitas ini tentu berisiko, terutama jika dibandingkan dengan sektor lain yang juga mulai mengangkat teknologi serupa namun dengan standar keamanan ketat. Misalnya, di sektor pertahanan, integrasi teknologi canggih seperti Grok AI dilakukan dengan protokol kerahasiaan tingkat tinggi. Sebaliknya, penggunaan Gemini di DOT terkesan lebih lenggang dan terburu-buru, seolah mengabaikan kebenaran bahwa “halusinasi” AI bisa berakibat fatal dalam konteks keselamatan transportasi.
Daniel Cohen, pengacara di agensi tersebut, menyebut potensi AI untuk merevolusi langkah pembuatan peraturan. Namun, revolusi ini tampaknya dibangun di atas fondasi skeptisisme terhadap birokrasi lama. Seorang pegawai DOT apalagi menyebut bahwa banyak bagian dari izin federal hanyalah “word salad” alias susunan kata yang membingungkan, sehingga menurutnya, AI semestinya bisa menanganinya dengan mudah.
Kecepatan Kilat vs Risiko Fatal
Alasan utama di kembali langkah drastis ini adalah kecepatan. Secara tradisional, menulis dan merevisi peraturan federal yang kompleks bisa menyantap waktu berbulan-bulan. Proses ini melibatkan peninjauan norma yang berlapis, kajian dampak, dan konsultasi publik. Namun, dengan Google Gemini, Zerzan menyatakan bahwa draf patokan bisa keluar hanya dalam waktu 20 menit. Tujuannya jelas: memadatkan agenda pembuatan dan peninjauan peraturan transportasi secara signifikan.
Ironisnya, dorongan untuk mempercepat proses izin ini justru bisa menjadi bumerang bagi penemuan itu sendiri. Seperti halnya perdebatan dunia mengenai izin teknologi yang dikhawatirkan dapat menghalang inovasi teknologi, penggunaan AI yang gegabah dalam menyusun norma justru bisa menciptakan ketidakpastian norma baru. Jika patokan yang dihasilkan penuh celah alias kesalahan, industri justru bakal kebingungan, dan ujung-ujungnya keselamatan publik yang dipertaruhkan.
Departemen tersebut apalagi dilaporkan telah menggunakan AI untuk merancang patokan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) yang belum dipublikasikan. Meskipun badan federal telah menggunakan AI selama bertahun-tahun, penggunaannya terbatas pada translator arsip alias kajian data, bukan untuk menulis inti dari peraturan norma itu sendiri.
Ancaman Halusinasi dan “Magang SMA”
Kritik pedas datang dari mereka yang memahami keterbatasan Large Language Models (LLM). Mike Horton, mantan pejabat kepala AI di DOT, memberikan afinitas yang menohok. Ia menyamakan penggunaan Gemini untuk merancang peraturan dengan “memiliki siswa magang SMA yang membikin patokan norma Anda.” Menurutnya, para pemimpin agensi di bawah Trump mau bergerak sigap dan mendobrak tatanan, namun dalam konteks keselamatan transportasi, “bergerak sigap dan merusak barang” berfaedah ada akibat orang bakal terluka.
Masalah utama yang menghantui adalah “halusinasi” AI—kecenderungan model bahasa untuk mengarang info yang terdengar meyakinkan tetapi sepenuhnya salah. Fenomena ini sudah menjadi masalah di bumi akademis, di mana makalah ilmiah yang dihasilkan AI lolos peninjauan meski memuat informasi palsu. Di bumi geopolitik teknologi, negara lain seperti China apalagi mengembangkan model seperti DeepSeek-R1-Safe yang konsentrasi meminimalisir kesalahan pada topik sensitif, namun AS justru tampak mengambil akibat besar dengan menyerahkan pena legislasi pada algoritma komersial.
Bridget Dooling, seorang guru besar di Ohio State University yang mempelajari norma administrasi, mengingatkan bahwa sekadar memproduksi banyak kata tidak berfaedah menghasilkan keputusan pemerintah yang berkualitas. Kesalahan dalam satu paragraf patokan keselamatan bisa berujung pada tuntutan hukum, cedera, alias apalagi kematian. “Sangat menggoda untuk mencoba menggunakan perangkat ini… tetapi saya pikir itu kudu dilakukan dengan banyak skeptisisme,” ujarnya.
Situasi ini diperparah dengan kondisi internal DOT yang sedang rapuh. Departemen tersebut telah kehilangan lebih dari 4.000 tenaga kerja sejak Trump memulai masa kedudukan keduanya, termasuk lebih dari 100 pengacara. Dengan berkurangnya tenaga mahir manusia, ketergantungan pada AI tampaknya bukan hanya pilihan strategis, tetapi juga upaya putus asa untuk mengisi kekosongan tenaga kerja. Di tengah persaingan dunia pengembangan model AI yang semakin ketat, langkah AS ini menjadi pertaruhan besar antara efisiensi birokrasi dan keselamatan warganya.
Pada akhirnya, teknologi memang menawarkan kemudahan yang tak terbantahkan. Namun, ketika menyangkut norma yang mengatur hidup meninggal manusia di jalan raya dan udara, apakah kita siap menyerahkan kemudi pada mesin yang terkadang tidak bisa membedakan kebenaran dan fiksi? Kecepatan 20 menit mungkin terdengar menggiurkan bagi birokrat, namun bagi rakyat biasa, keamanan dan kepastian norma tetaplah nilai meninggal yang tak bisa ditawar.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·