Banyak Ibu Menyusui Di Korea Akhirnya Pilih Menyusui Di Toilet, Mengapa?

May 01, 2026 09:10 AM - 1 jam yang lalu 42

Jakarta -

Fenomena yang cukup mengejutkan datang dari Korea Selatan. Di tengah kemajuan negara tersebut, rupanya tetap banyak busui (ibu menyusui) yang memilih menyusui bayinya di toilet umum. Bukan tanpa alasan, kondisi ini justru menggambarkan tantangan besar yang dihadapi para ibu saat mau memberikan ASI di ruang publik.

Salah satu kisah datang dari seorang Bunda berjulukan Cho Ji-won yang mengaku sering menjadikan bilik toilet sebagai 'tempat aman' saat bayinya lapar di luar rumah. Di ruang sempit dengan bangku seadanya apalagi di atas toilet dia terpaksa menyusui demi privasi. Berikut kisahnya dikutip dari Koreaherald:

Minimnya ruang menyusui yang layak

Salah satu argumen utama adalah terbatasnya akomodasi menyusui di ruang publik. Meski beberapa tempat seperti mal alias stasiun menyediakan ruang laktasi, jumlahnya tetap sangat sedikit dan tidak selalu mudah diakses. Akibatnya, ketika bayi lapar secara tiba-tiba, toilet menjadi pilihan paling sigap dan 'tersedia'. Sayangnya, kondisi ini jelas tidak ideal dari sisi kebersihan maupun kenyamanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Fenomena ini rupanya tidak hanya terjadi di Korea. Sebuah survei dunia menunjukkan bahwa banyak ibu tidak mempunyai akses ke ruang laktasi, apalagi di tempat kerja. Akibatnya, mereka sering menggunakan tempat seadanya seperti mobil, gudang, apalagi bilik mandi alias toilet  Kondisi ini menunjukkan bahwa support akomodasi tetap belum sejalan dengan kebutuhan ibu menyusui, apalagi di negara maju sekalipun.

Tekanan sosial dan rasa tidak nyaman

Selain aspek fasilitas, tekanan sosial juga berkedudukan besar. Menyusui di tempat umum di Korea tetap sering dianggap tidak nyaman alias memicu tatapan negatif. Dalam banyak kasus, ibu merasa diawasi alias apalagi dikomentari saat menyusui di depan umum. Kondisi ini membikin sebagian besar memilih tempat tersembunyi, meski kudu mengorbankan kenyamanan diri dan bayi.

Fenomena ini bukan perihal baru. Bahkan sejak lama, perdebatan soal menyusui di ruang publik sudah terjadi di Korea ada yang mendukung, tapi tak sedikit yang menganggapnya 'tidak pantas'.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Human Lactation menemukan bahwa stigma sosial menjadi salah satu halangan utama ibu untuk menyusui di ruang publik. Banyak responden mengaku merasa diawasi, dinilai, apalagi 'dipermalukan' secara lembut hanya lantaran menyusui bayinya di tempat umum.

Penelitian lain dalam jurnal kesehatan ibu dan anak menunjukkan bahwa pengalaman negatif seperti komentar tidak menyenangkan alias tatapan orang asing, bisa membikin ibu memilih menghindari menyusui di luar rumah. Dalam beberapa kasus, ibu apalagi memutuskan untuk menunda menyusui hingga menemukan tempat tertutup, meski bayi sudah lapar.

Yang lebih dalam lagi, studi terbaru mengungkap adanya kejadian internalized stigma, ialah rasa malu yang muncul dari dalam diri ibu sendiri lantaran sudah terbentuk oleh norma sosial di sekitarnya. Artinya, apalagi tanpa komentar dari orang lain pun, ibu bisa merasa tidak nyaman menyusui di depan umum.

Hal ini tidak lepas dari langkah pandang budaya yang tetap menganggap tetek sebagai sesuatu yang 'privat' alias seksual. Akibatnya, kegiatan menyusui yang sebenarnya alami dan krusial justru dianggap tidak layak jika dilakukan di ruang publik.

Dampaknya pun nyata. Penelitian menunjukkan bahwa stigma sosial dapat menurunkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui, apalagi berkontribusi pada keputusan untuk berakhir memberikan ASI lebih sigap dari yang direkomendasikan.

Budaya menyusui yang tetap menganggap sensitif

Di beberapa budaya, termasuk Korea, tetek tetap sering dikaitkan dengan perihal seksual. Hal ini membikin kegiatan menyusui di ruang publik menjadi sensitif.

Padahal secara medis, menyusui adalah kebutuhan dasar bayi yang tidak bisa ditunda. Namun stigma sosial membikin banyak ibu merasa kudu menyembunyikan proses tersebut.

Menurut beragam studi global, rasa malu alias takut dinilai orang lain memang menjadi salah satu argumen utama ibu menghindari menyusui di tempat umum. Selain itu, kajian sistematis tahun 2025 juga menegaskan bahwa di beberapa budaya, stigma terhadap menyusui di tempat umum membikin ibu enggan menyusui di luar rumah Padahal, bayi tidak bisa menunggu. Saat lapar, menyusui kudu dilakukan segera, di mana pun ibu berada.

Dampak bagi Bunda dan bayi

Keputusan menyusui di toilet mungkin terlihat sebagai solusi cepat, tapi di kembali itu ada akibat yang tidak mini baik untuk ibu maupun bayi.

Dari sisi fisik, toilet bukanlah lingkungan yang ideal untuk menyusui. Risiko paparan kuman tentu lebih tinggi dibandingkan ruang terbuka yang bersih. Meski ASI sendiri mempunyai sifat protektif, lingkungan yang kurang higienis tetap bisa meningkatkan potensi infeksi, terutama pada bayi yang sistem imunnya tetap berkembang.

Namun, akibat terbesar justru sering terjadi pada sisi emosional ibu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu yang merasa tidak nyaman alias tertekan saat menyusui di ruang publik condong mengalami stres lebih tinggi. Studi dalam Journal of Human Lactation menyebut bahwa pengalaman negatif saat menyusui termasuk rasa malu alias takut dinilai dapat menurunkan kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI.

Ketika menyusui menjadi momen yang penuh kecemasan, hubungan emosional antara ibu dan bayi pun bisa ikut terpengaruh. Padahal, proses menyusui bukan hanya soal nutrisi, tapi juga bonding yang krusial untuk perkembangan psikologis bayi.

Selain itu, kondisi seperti ini bisa membikin ibu mulai menghindari menyusui di luar rumah. Akibatnya, ibu mungkin:

  • Menunda menyusui saat bayi lapar
  • Lebih memilih memberikan susu formula saat bepergian
  • Atau apalagi mempercepat proses menyapih

Penelitian dunia juga menunjukkan bahwa kurangnya support sosial dan rasa tidak kondusif saat menyusui di publik berkontribusi pada rendahnya nomor ASI eksklusif di beberapa negara.

Bagi bayi, perihal ini tentu berakibat langsung. ASI mempunyai peran krusial dalam meningkatkan sistem imun, mendukung perkembangan otak, serta melindungi dari beragam penyakit di awal kehidupan. Ketika pemberian ASI terganggu, faedah tersebut tidak bisa didapatkan secara optimal. Sementara bagi ibu, tekanan yang terus-menerus bisa memicu kelelahan emosional, apalagi meningkatkan akibat baby blues alias stres pasca melahirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya