Setelah ‘This Is How Tomorrow Moves’ (2024) memperlihatkan sisi Beabadoobee yang lebih tenang, akustik, dan introspektif, ‘Pylon’ balik membuka pintu bagi gitar yang lebih keras. Namun album studio keempatnya ini bukan sekadar balik ke formula ‘Fake It Flowers’ (2020). Ia terdengar seperti sintesis dari seluruh perjalanan Beabadoobee sejauh ini: alternative rock, grunge, pop-punk, emo, dan pop yang semakin matang secara penulisan.
Dirilis pada 18 September 2026, ‘Pylon’ berisi 14 lagu dan banyak memungut daya dari rock 1990-an hingga mula 2000-an. “Sun Has Set” langsung menetapkan arah dengan gitar kasar, drum yang menghantam, dan vokal Beabadoobee yang statis lembut. Kontras antara instrumental menyerang dan delivery yang intim statis menjadi salah satu kekuatan terbesarnya.
“Switchblade” membawa kegelisahan serupa, sementara “Write Me A Letter” memberitahu evolusi songwriting yang lebih penting. Beabadoobee tidak lagi cuma menulis dari posisi seseorang yang terluka. Ia mulai melihat perselisihan secara lebih kompleks, termasuk kemungkinan bahwa dirinya sendiri juga bisa menjadi bagiankecil dari masalah.
Pendekatan ini membikin ‘Pylon’ terasa lebih dewasa tanpa kehilangan spontanitas.

Daftar kolaborator album juga cukup menarik. Hayley Williams datang dalam “Nothing To Prove”, Brendan Yates dari Turnstile muncul di “Powerlines”, sementara Chino Moreno dari Deftones memberikan backing vocal pada “Satellite”. Kehadiran mereka memperjelas ekosistem musik yang mengelilingi album ini: emo, hardcore, alternative rock, pop-punk, dan nu-metal.
Namun kerja sama tersebut tidak memungut alih identitas Beabadoobee. Justru sebaliknya, mereka menjadi tekstur tambahan di dalam bumi yang statis terasa miliknya.
Secara produksi, “Pylon” lebih padat dibanding “This Is How Tomorrow Moves”. Gitar memiliki lebih banyak distorsi, drum terdengar lebih besar, dan beberapa track jelas memungut inspirasi dari radio rock 1990-an. Meski begitu, sisi intimnya statis terjaga. Vokal Beabadoobee tidak tenggelam di balik produksi yang lebih keras.
Di beberapa bagian, pengaruhnya memang terasa terlalu gampang dikenali. Referensi terhadap grunge, emo, Paramore, Deftones, maupun indie-rock 2000-an kadang muncul begitu jelas sehingga berisiko terasa seperti nostalgia. Namun songwriting-nya cukup kuat untuk membikin “Pylon” tidak jatuh menjadi sekadar album revival.
“Satellite” menjadi salah satu epilog yang paling efektif. Lagu ini membawa tema yang lebih luas: hayat digital, doomscrolling, kecemasan generasional, dan emosi kehilangan kontrol. Tidak ada resolusi besar di akhir album. Justru itu terasa tepat.
Dampak Budaya
Masih terlalu awal untuk mengukur akibat adat jangka panjang “Pylon”, tetapi posisinya di musik 2026 sudah cukup menarik. Beabadoobee mewakili generasi yang tidak melihat aliran sebagai kotak historis yang kaku. Grunge, shoegaze, emo, pop-punk, dan alternative rock bisa hidup berbarengan dalam satu bahasa baru.
‘Pylon’ memberitahu sepertiapa generasi streaming menggunakan masa kemudian bukan sebagai museum, tetapi sebagai vocabulary.
Verdict
‘Pylon’ bukan reinvention total, tetapi merupakan salah satu album Beabadoobee yang paling utuh. Ada distorsi “Fake It Flowers”, atmosfer “Beatopia”, dan kedewasaan songwriting “This Is How Tomorrow Moves”.
Terdengar lebih keras, lebih percaya diri, tetapi statis cukup jujur untuk mengakui bahwa menjadi dewasa tidak berarti semua hal menjadi lebih gampang dipahami.