Memasuki usia 20-an semestinya menjadi masa untuk mencoba banyak perihal dan membangun masa depan. Namun, stres yang dialami Gen Z justru sering muncul lantaran mereka kudu memikirkan banyak perihal sejak usia sangat muda.
Bayangkan, baru lulus kuliah tetapi sudah memikirkan cicilan, tabungan pensiun, karier, sampai kemungkinan pekerjaan digantikan AI. Kalau Anda merasa semuanya datang bersamaan, Beauties, rupanya Anda tidak sendirian menghadapi tekanan tersebut.
Dilansir dari Bolde, ini beberapa tekanan yang membikin Gen Z stres di usia 20-an!
Baru Mulai Karier, Sudah Memikirkan Pensiun

Memikirkan Dana Pensiun/Foto: Magnific
Coba bayangkan usia 22 tahun, baru mendapatkan pekerjaan pertama, tetapi sudah diminta memikirkan biaya pensiun. Saran seperti membuka rekening pensiun dan mulai berinvestasi secepatnya terus bermunculan.
Masalahnya, generasi muda juga mendengar bahwa masa depan agunan sosial belum tentu seaman sebelumnya. Karena itu, tanggung jawab mempersiapkan masa tua terasa sepenuhnya berada di tangan mereka.
Tidak heran jika stres yang dialami Gen Z bukan hanya soal kebutuhan hari ini. Mereka juga kudu memikirkan gimana memastikan hidup puluhan tahun mendatang tetap aman.
Takut Pekerjaan Hilang lantaran AI

Takut Pekerjaan Hilang Karena AI/Foto: Magnific
Gen Z memasuki bumi kerja ketika AI berkembang sangat sigap dan bisa mengerjakan beragam tugas manusia. Menulis, mendesain, membikin kode, sampai menganalisis informasi sekarang dapat dibantu teknologi.
Hal yang membuatnya melelahkan bukan hanya takut kehilangan satu pekerjaan. Mereka juga kudu bertanya-tanya apakah keahlian yang dipelajari sekarang tetap relevan lima tahun mendatang.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, ketidakpastian pekerjaan datang sejak awal perjalanan profesional. Jadi, wajar jika Anda sesekali bertanya, “Kalau pekerjaanku berubah, saya kudu mulai dari mana?”
Harus Mengelola Kesehatan Mental Setiap Hari

Harus Mengelola Kesehatan Mental Tiap Hari/Foto: Magnific
Sekitar 42% Gen Z Amerika Serikat menjalani terapi, dan nomor tersebut disebut meningkat lebih dari seperlima sejak 2022. Selain itu, 40% pekerja Gen Z melaporkan merasa resah alias depresi beberapa kali dalam seminggu.
Generasi ini juga lebih terbuka membicarakan kondisi mental dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, keterbukaan tersebut berfaedah mereka sekaligus kudu aktif mengelola tekanan yang dirasakan setiap hari.
Jadi, membicarakan kesehatan mental bukan berfaedah Gen Z lebih lemah. Justru, mereka mempunyai kesadaran untuk mengenali masalah sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih berat.
Harga Rumah Terasa Semakin Tidak Terjangkau

Harga Rumah Terus Naik/Foto: Magnific
Dulu, membeli rumah sering dianggap sebagai langkah alami setelah seseorang mulai bekerja. Namun, situasinya sekarang terasa berbeda bagi generasi muda yang baru membangun penghasilan.
Pada 1991, median usia pembeli rumah pertama adalah 28 tahun. Sementara itu, pada 2025, angkanya meningkat menjadi 40 tahun, menurut National Association of Realtors.
Bagi Gen Z, persoalannya bukan tidak tertarik membeli rumah. Mereka memandang nomor nilai rumah sejak usia 20-an dan menyadari bahwa penghasilan awal belum tentu bisa mengejarnya.
Stres yang dialami gen z di usia 20-an memang cukup kompleks lantaran banyak tekanan muncul bersamaan. Utang pendidikan, pekerjaan yang tidak pasti, kesehatan mental, dan biaya rumah semuanya saling berkaitan.
Jadi, Beauties, jika usia 20-an terasa seperti kudu mengejar banyak perihal sekaligus, jangan langsung menganggap dirimu tertinggal, ya!
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)