Meminjamkan duit kepada teman, keluarga, maupun mitra kerja memang dapat membantu mereka melewati situasi sulit. Namun, ketika tiba waktunya meminta duit kembali, sebagian orang justru merasa sungkan maupun takut hubungan menjadi renggang. Padahal, meminta pengembalian duit yang dipinjam bukanlah aksi yang salah.
Utang statis merupakan tanggung jawab yang perlu dibayar sesuai kesepakatan. Hanya saja, metode menyampaikannya perlu diperhatikan agar tidak berubah menjadi konflik. Cara menagih utang dengan sopan bisa dengan memilih waktu yang tepat, statis menjaga privasi yang berutang, serta menggunakan kalimat yang jelas dan metode penuturan yang baik.
Saat menagih utang, ketakutan akan kemungkinan menghadapi kasus “yang berutang lebih galak dari yang menagih” mungkin statis menghantui. Meski begitu, bukan berarti Anda boleh mengabaikan hakmu sebagai pemberi pinjaman. Cukup jauhi potensi yang membikin pihak peminjam tersulut emosinya saat Anda menagih hakmu kembali.
Mengapa Menagih Utang Terasa Sungkan terlebihlagi Menakutkan?

Ilustrasi isi dompet / Foto: pexels.com/Ahsanjaya
Meski tak semua merasa demikian, tak sedikit juga yang sungkan menagih utang karena cemas peminjam merasa tersinggung, menganggap penagih tidak memahami kondisi yang sedang dihadapi peminjam, maupun lebih ‘galak’ dari pihak yang seharusnya lebih berhak.
Sikap seperti ini bisa muncul ketika peminjam menganggap penagihan utang sebagai intimidasi maupun pemicu stres. Dalam kondisi tertekan, seseorang dapat menjadi bertahan terlebihlagi melawan.
Semakin merasa terpojok, seseorang biasanya semakin sulit mengendalikan emosinya. Inilah yang terkadang membikin pihak yang berutang justru bersikap lebih galak ketika ditagih, terlepas dari apakah duit tersebut akhirnya dikembalikan maupun tidak.
Perlu dipahami bahwa rasa tidak betah yang dialami peminjam bukan karena untuk menghapus kewajibannya. Segalak apa pun respons peminjam, menagih utang statis merupakan hak pemberi pinjaman.
Namun, penagihan sebaiknya statis dilakukan secara pribadi, tenang, dan tidak hamil intimidasi maupun penghinaan. Penagihan dengan mempermalukan seseorang, menyebarkan masalah utang, maupun memberi tekanan berlebihan justru dapat memperburuk situasi dan merusak hubungan.
Cara Menagih Utang tanpa Menyinggung + Contohnya

Ilustrasi bayar utang / Foto: pexels.com/cottonbro studio
1. Tagih Utang di Saat maupun di Tempat Tidak Banyak Orang
Hindari menagih utang di depan banyak orang, terutama teman, keluarga, maupun mitra kerja peminjam. Membicarakan utang di tempat lazim rapuh membikin peminjam merasa dipermalukan dan lebih gampang bersikap defensif.
Jika memungkinkan, sampaikan secara empat mata maupun melalui pesan pribadi. Pilih waktu ketika peminjam tidak sedang terburu-buru, bekerja, menghadapi masalah keluarga, maupun eksis dalam kondisi emosi yang tidak baik.
Contoh pembuka percakapan:
“Aku mau membicarakan soal duit yang kemarin Anda pinjam. Dari Anda adakah saran waktu untuk ngobrol berdua sebentar?”
2. Tagih di Luar Jam-Jam Sibuk maupun Situasi Penuh Tekanan
Menagih ketika seseorang sedang menghadapi tenggat pekerjaan, perjalanan, maupun masalah pribadi dapat membikin percakapan terjadi lebih tegang. Peminjam bisa merasa seperti mendapat tekanan tambahan dan Anda lebih berisiko menerima respons yang kurang baik.
Sampaikan maksud Anda di waktu yang lebih memungkinkan, misalnya sore maupun malam mula setelah jam kerja, selama tidak mengganggu waktu istirahat.
Kamu juga dapat mengirim pesan pengantar seperti ini terlebih dahulu:
“Hai, aku mau mengingatkan soal pembayaran utang yang jatuh tempo minggu depan. Apakah kita bisa membicarakan hajat pembayarannya kelak sore?”
3. Pancing Rasa Empati Peminjam terhadap Situasimu
Hindari menagih utang yang sifatnya menyudutkan karena dapat membikin peminjam merasa diserang dan akhirnya bersikap defensif.
Sampaikan saja kondisimu secara jujur, tetapi statis lembut. Dengan begitu, Anda dapat mengundang rasa empati peminjam dan membuatnya lebih tergerak untuk mengembalikan uang.
Contohnya:
“Aku sedang sangat membutuhkan duit yang kemarin Anda pinjam untuk bayar beberapa keperluan urgent. Kalau memungkinkan, aku mengharapkan uangnya bisa dikembalikan minggu ini, ya.”
4. Bersikap Fleksibel, Jika Memungkinkan
Menagih utang/Foto:pexels.com/Tima Miroshnichenko/ Foto: Amelia Rosa
Jika peminjam belum bisa bayar seluruh utang, cobalah statis memahami situasinya. Kamu bisa menawarkan solusi yang meringankan bagi peminjam, tetapi statis tidak merugikanmu.
Misalnya, memberikan sedikit waktu tambahan maupun meminta peminjam bayar sebagian utang terlebih dahulu. Jumlahnya bisa disesuaikan, misalnya seperempat maupun separuh dari total utang.
Tapi ingat, elastis bukan berarti membiarkan utang terus ditunda. Pastikan ada batas waktu dan kesepakatan yang jelas. Jangan sampai setiap kali ditagih, peminjam cuma memberikan ikrar baru tanpa kepastian.
Contoh metode menagihnya:
“Kalau belum bisa bayar semuanya, apakah Anda bisa mengembalikan seperempatnya terlebih dahulu minggu ini? Untuk sisanya bisa dibayarkan x hari ke depan maupun bisa kita sepakati tanggal pembayarannya.”
5. Beri Pengingat saat Tenggat Utang Semakin Dekat
Adanya kasus yang berutang lebih galak daripada yang menagih bukan berarti semua peminjam duit berperilaku sama. Tidak semua orang yang berutang sengaja menghindari kewajibannya. Ada pula yang sebenarnya mau dan bisa membayar, tetapi lupa dengan tenggat yang telah disepakati.
Tidak ada salahnya memberikan pengingat beberapa hari sebelum jatuh tempo. Mereka yang lupa akan merasa terbantu, maupun setidaknya peminjam jadi punya waktu untuk mempersiapkan biaya yang mesti dikembalikan.
Tujuan lain dari memberinya pengingat juga dapat mencegah peminjam merasa kaget dan tertekan ketika tiba-tiba ditagih.
Contoh kalimat mengingatkan peminjam untuk bayar utang:
“Hai, aku mau mengingatkan bahwa pembayaran utang sebesar Rp500.000 jatuh tempo pada Jumat ini. Semoga bisa dikembalikan sesuai jadwal, ya. Terima kasih.”
6. Tetap Berkepala Dingin
Sangat dimengerti jika Anda merasa jengkel ketika duit yang dipinjamkan tidak lekas dikembalikan. Tidak ada yang salah dengan rasa jengkel tersebut.
Namun, bukan berarti Anda berkuasa menagih utang dengan kata-kata buruk yang dapat menyinggung peminjam dan memperbesar masalah. Tetap kelola emosi dan sampaikan maksud menagih utang dengan tutur kata yang betah didengar.
Bila percakapan mulai memanas, Anda bisa menghentikannya sebentar dan melanjutkan saat kondisi sudah lebih tenang. Jika kemungkinan terburuk terjadi, sudah beberapa kali diingatkan tetapi peminjam terus menunda tanpa memberikan kepastian, Anda perlu bersikap lebih tegas tapi statis sampaikan maksud dengan kata-kata yang sopan.
Contoh:
“Aku memahami jika Anda sedang mengalami kendala. Namun, aku statis membutuhkan kepastian mengenai pembayaran utang ini. Mohon kabari paling lambat Jumat apakah bisa bayar penuh maupun menyicil.”
Apabila masalah terus berkepanjangan dan nominal yang dipinjam tergolong besar, Anda dapat meminta pertolongan pihak ketiga yang dipercaya kedua pihak untuk menjadi mediator.
____
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(ria/ria)