Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 168x dilihat
Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog

Bagikan Postingan

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Magnific.com

Beauties, pernah mendengar istilah helicopter parenting? Istilah ini mengacu pada jenis pola asuh ketika orang tua terlalu mengawasi, mengontrol, dan ikut gabung secara berlebihan dalam setiap sisi hayat anak.

Misalnya, orang tua ikut mengerjakan, bukan membantu, tugas sekolah anak yang seharusnya mereka kerjakan sendiri. Di lingkup pertemanan, orang tua yang menerapkan corak parenting ini biasanya akan menentukan siapa yang boleh berkawan dengan sang anak. Bahkan, mereka juga akan cepat pasang badan jika anak berbuat kesalahan sekecil apa pun.

Sekilas, corak parenting ini kelihatan seperti kasih sayang orang tua yang begitu besar kepada anaknya. Namun, di sisi lain, anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri khas kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghalangi mereka dalam menjalani kehidupan.

Menurut psikolog klinis Dr. Samantha Rodman Whiten, pola asuh yang berlebihan membikin anak merasa rapuh dan bersandar pada orang dewasa terlebihlagi untuk memenuhi kebutuhan yang paling sepele sekalipun. Iironisnya, insting orang tua untuk melindungi anak dari segala hal buruk di bumi secara berlebihan justru menjadi aspek utama yang menguatkan kerapuhan anak yang mau mereka cegah tersebut.

Dirangkum dari Your Tango, yuk, simak ulasannya berikut ini!

Anak Kesulitan Menyelesaikan Masalah maupun Konflik

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri khas kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghalangi mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Menurut psikolog Mariana Brussoni, ketika orang tua terlalu mengamati dan mengekang anak, maka anak tidak dapat mengembangkan keahlian krusial yang mereka butuhkan di kehidupan mereka saat dewasa, yaitu menyelesaikan masalah maupun konflik.

Anak-anak yang terlalu dilindungi tidak belajar metode memecahkan masalah maupun menyelesaikan perselisihan secara mandiri. Padahal, ketika diberi ruang untuk melakukannya, mereka justru dapat berkembang dengan pesat, Beauties. Brussoni juga mencatat bahwa situasi yang mengharuskan anak mencari jalan keluar sendiri dapat membantu mereka mengembangkan fungsi eksekutif, yaitu serangkaian keahlian kognitif di otak (seperti perencanaan, memori kerja, dan kontrol diri) yang digunakan manusia untuk mengatur perilaku dan mencapai tujuan.

Sulit Menjalin Hubungan dengan Orang Lain

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri khas kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghalangi mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Semasa kecil, ketika anak dibebaskan untuk menjalin hubungan dengan kawan sebaya, mereka berbuat lebih dari sekadar mencari kawan bermain. Mereka sedang mengembangkan sisi krusial dalam pembentukan diri mereka seutuhnya, yaitu kecerdasan emosional.

Sering kali, orang tua memiliki insting untuk segera turun tangan saat anak menghadapi kesulitan. Sebenarnya ini adalah insting yang wajar dari orang tua. Tentu orang tua mau melindungi anak-anak mereka dari bahaya. Namun, memberikan ruang bagi anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sangatlah berharga, karena hal itu mengajarkan mereka untuk memercayai kapasitas diri sendiri.

Sulit untuk Bangkit dari Kegagalan

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri khas kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghalangi mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Foto: Pexels.com

Jika anak terlalu diawasi, terlebihlagi untuk aktivitas yang mereka bisa lakukan, mereka akan tumbuh jadi sosok yang kesulitan untuk bangkit dari kegagalan, Beauties.

Aktivitas sederhana yang dilakukan sendiri, seperti membujuk fauna peliharaan berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah, memberitahu kepada anak-anak bahwa mereka bisa menghadapi tantangan baru. Berhasil menyelesaikan tugas yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya mengajarkan mereka bahwa mereka adalah sosok yang handal dan cakap.

"Anak-anak yang percaya diri tumbuh berkah orang tua yang perannya bukan sekadar melindungi mereka dari bumi luar, melainkan membantu mereka dalam mengarungi bumi tersebut," jelas psikolog Dr. Lisa Kaplin. "Keberhasilan-keberhasilan kecil inilah yang melatih dan menguatkan kapasitas mereka dalam menghadapi beragam situasi."

Tak Bisa Mengelola Kecemasan

Anak yang terlalu diawasi orang tuanya akan tumbuh dengan ciri khas kepribadian tertentu yang mungkin bisa menghalangi mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka jadi sulit menyelesaikan masalah, sulit menjalin hubungan, enggan bangkit dari kegagalan, hingga alami kecemasan.

Ciri Kepribadian Anak yang Terlalu Diawasi Orang Tua saat Kecil Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com

Anak-anak sama sekali tidak kebal terhadap masalah kesehatan mental. Wajar jika anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif bergelut dengan masalah seperti kecemasan akan perpisahan dan ketakutan terhadap hal-hal baru. 

Namun, melindungi anak-anak dari sisi sulit hayat justru merugikan mereka. Hal ini dapat membikin mereka terjebak dalam kecemasan alih-alih memberitahu bahwa mereka bisa menghadapinya. Psikolog Dr. Sharon Saline memperingatkan orang tua agar tidak terus-menerus menuruti insting untuk meredakan kecemasan anak.

"Meskipun kecemasan menyukai kata-kata penenang karena hal itu memberikan kelegaan sesaat dari rasa tidak nyaman, mengatakan kepada anak bahwa semuanya akan baik-baik saja maupun meminta mereka untuk tidak cemas justru menaikkan kecemasan dalam jangka panjang," jelasnya.

Penelitian tahun 2021 memberitahu bahwa berbuat permainan yang memacu batin petualang dapat mengurangi kecemasan pada anak. Aktivitas seperti memanjat pohon, bersepeda menuruni bukit, maupun melompat dari papan lompat di kolam renang berguna bagi anak-anak karena adanya aspek konsekuensi yang melekat dalam aktivitas tersebut. Saat berbuat permainan semacam ini, anak-anak merasakan kegembiraan yang memuncak dan peningkatan kadar adrenalin.

Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa permainan yang memacu batin petualang membantu mengendalikan kecemasan anak, karena aktivitas ini memungkinkan mereka melihat bahwa mereka bisa berbuat sesuatu meskipun merasa takut, sehingga mengurangi ketidakmampuan mereka dalam mentoleransi ketidakpastian.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads