
Kincaimedia Pernahkah seorang siswa berkata, “Saya memang tidak pandai Matematika”, alias “Saya tidak bisa mengerjakan soal ini”? Kalimat sederhana seperti itu sebenarnya dapat menjadi tanda bahwa siswa sedang mempunyai pola pikir tetap (fixed mindset) terhadap keahlian dirinya.
Di sinilah peran pembimbing menjadi sangat penting. Melalui hubungan sehari-hari di kelas, pembimbing dapat membantu siswa memahami bahwa keahlian bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, latihan, kesalahan, dan kemauan untuk terus belajar.
Pendekatan inilah yang dikenal sebagai pola pikir bertumbuh alias growth mindset.
Penerapan growth mindset di sekolah tidak selalu memerlukan program khusus. Justru, salah satu langkah paling efektif untuk membangunnya adalah melalui cara pembimbing berbicara, memberikan umpan balik, merespons kesalahan, dan berinteraksi dengan siswa.
Apa Itu Pola Pikir Bertumbuh?
Pola pikir bertumbuh adalah kepercayaan bahwa keahlian seseorang dapat dikembangkan melalui proses belajar, usaha, strategi, pengalaman, dan ketekunan.
Dalam pembelajaran, siswa dengan pola pikir bertumbuh tidak memandang kesulitan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu. Sebaliknya, kesulitan dipandang sebagai bagian dari proses untuk berkembang.
Misalnya, seorang siswa mendapatkan nilai rendah dalam sebuah ulangan.
Dengan pola pikir tetap, siswa mungkin berkata:
“Saya memang tolol dalam pelajaran ini.”
Namun, dengan pola pikir bertumbuh, siswa dapat diarahkan untuk berpikir:
“Hasil saya belum baik. Saya perlu mencari tahu bagian mana yang belum saya pahami dan mencoba strategi belajar yang berbeda.”
Perbedaan langkah berpikir tersebut sangat krusial lantaran memengaruhi gimana siswa menghadapi tantangan, kesalahan, kegagalan, dan proses belajar.
Mengapa Interaksi Guru Penting dalam Membangun Growth Mindset?
Siswa belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan guru, tetapi juga dari cara pembimbing memperlakukan proses belajar mereka.
Ucapan pembimbing ketika siswa salah menjawab, respons ketika siswa mendapatkan nilai rendah, hingga langkah pembimbing memberikan pujian dapat memberikan pesan tertentu kepada siswa.
Jika pembimbing hanya memuji kecerdasan, siswa dapat merasa bahwa keahlian kudu selalu terlihat sempurna.
Sebaliknya, ketika pembimbing menghargai proses, strategi, keberanian mencoba, dan kemauan memperbaiki diri, siswa mendapatkan pesan bahwa kemampuan dapat berkembang.
Karena itu, hubungan sederhana di kelas dapat menjadi sarana krusial untuk menanamkan pola pikir bertumbuh.
Contoh Interaksi yang Membangun Pola Pikir Bertumbuh di Kelas
Berikut beberapa contoh hubungan yang dapat diterapkan pembimbing dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
1. Mengubah “Saya Tidak Bisa” Menjadi “Saya Belum Bisa”
Salah satu contoh paling sederhana adalah mengubah langkah siswa memandang keterbatasan.
Ketika siswa mengatakan:
“Bu, saya tidak bisa mengerjakan soal ini.”
Guru dapat merespons:
“Kamu belum bisa sekarang. Mari kita lihat bagian mana yang tetap membuatmu kesulitan.”
Kata “belum” memberikan ruang bagi siswa untuk memandang bahwa keahlian tersebut tetap dapat dikembangkan.
Guru tidak sedang memberikan janji bahwa siswa pasti langsung berhasil. Guru sedang membantu siswa memandang bahwa kegagalan saat ini bukan akhir dari proses belajar.
2. Memuji Proses, Bukan Hanya Hasil
Pujian sangat krusial dalam pembelajaran, tetapi langkah memberikan pujian juga perlu diperhatikan.
Daripada hanya mengatakan:
“Kamu memang pintar.”
Guru dapat mengatakan:
“Kamu sukses lantaran Anda mau mencoba beberapa langkah sampai menemukan strategi yang tepat.”
Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi pesan yang diterima siswa berbeda.
Pujian terhadap proses membantu siswa memahami bahwa usaha, strategi, dan ketekunan merupakan bagian krusial dari keberhasilan.
Contoh lainnya:
- “Saya memandang Anda tetap mencoba meskipun soal ini sulit.”
- “Strategi yang Anda gunakan kali ini lebih efektif.”
- “Kamu sudah memperbaiki kesalahan dari pekerjaan sebelumnya.”
- “Cara berpikirmu berkembang dibandingkan latihan sebelumnya.”
3. Menjadikan Kesalahan sebagai Bagian dari Pembelajaran
Kelas yang mendukung growth mindset tidak membikin siswa takut melakukan kesalahan.
Ketika seorang siswa memberikan jawaban yang salah, pembimbing tidak perlu langsung mengatakan:
“Salah.”
Guru dapat menggali proses berpikir siswa dengan pertanyaan seperti:
“Bagaimana Anda mendapatkan jawaban tersebut?”
atau:
“Bagian mana yang menurutmu paling sulit?”
Dengan langkah tersebut, kesalahan menjadi bahan untuk belajar.
Guru juga dapat mengatakan:
“Tidak apa-apa jika jawabanmu belum tepat. Mari kita gunakan jawaban ini untuk mencari tahu bagian yang perlu diperbaiki.”
Siswa akhirnya belajar bahwa salah bukan berfaedah kandas sebagai pribadi. Kesalahan adalah info yang membantu mereka mengetahui apa yang perlu dipelajari.
4. Memberikan Pertanyaan yang Mendorong Refleksi
Interaksi yang membangun pola pikir bertumbuh tidak selalu berbentuk nasihat. Guru dapat menggunakan pertanyaan yang membikin siswa berpikir tentang proses belajarnya.
Contohnya:
- “Strategi apa yang Anda gunakan?”
- “Apa yang sudah berhasil?”
- “Bagian mana yang tetap sulit?”
- “Apa yang bakal Anda coba dengan langkah berbeda?”
- “Apa yang Anda pelajari dari kesalahan tadi?”
- “Jika mencoba lagi, apa yang mau Anda perbaiki?”
- “Siapa alias apa yang dapat membantumu memahami materi ini?”
Pertanyaan semacam ini membantu siswa menjadi lebih sadar terhadap proses belajarnya sendiri.
5. Memberikan Kesempatan untuk Mencoba Kembali
Salah satu pesan krusial dalam growth mindset adalah bahwa hasil pertama tidak selalu menjadi hasil akhir.
Karena itu, pembimbing dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki pekerjaan.
Misalnya, setelah tugas dikembalikan, pembimbing tidak hanya memberikan nilai, tetapi juga meminta siswa:
- menemukan kesalahan,
- memahami penyebabnya,
- memperbaiki jawaban,
- menjelaskan perubahan yang dilakukan.
Dengan demikian, siswa memahami bahwa pertimbangan bukan sekadar menentukan nilai, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berkembang.
6. Membandingkan Perkembangan Siswa dengan Dirinya Sendiri
Perbandingan antarsiswa terkadang membikin siswa merasa bahwa dirinya kurang mampu.
Guru dapat mengubah konsentrasi dari:
“Siapa yang mendapatkan nilai tertinggi?”
menjadi:
“Apa perkembanganmu dibandingkan tugas sebelumnya?”
Misalnya, seorang siswa sebelumnya mendapatkan nilai 60 dan kemudian memperoleh 75.
Guru dapat mengatakan:
“Kali ini Anda meningkat. Mari kita lihat strategi apa yang membikin hasilmu lebih baik.”
Fokus tersebut membantu siswa menghargai kemajuan pribadi, bukan hanya posisi dibandingkan teman.
7. Menghargai Keberanian Bertanya
Siswa yang mempunyai pola pikir bertumbuh perlu merasa kondusif untuk mengatakan bahwa dirinya belum memahami sesuatu.
Guru dapat menciptakan budaya kelas dengan mengatakan:
“Bertanya bukan berfaedah tidak pintar. Bertanya menunjukkan bahwa Anda mau memahami sesuatu dengan lebih baik.”
Guru juga dapat memberikan apresiasi ketika siswa mengusulkan pertanyaan yang menunjukkan rasa mau tahu.
Contohnya:
“Pertanyaanmu menarik. Mari kita cari jawabannya bersama.”
Lingkungan seperti ini membantu siswa tidak malu ketika belum mengetahui sesuatu.
8. Menggunakan Bahasa yang Mendorong Tantangan
Guru dapat memperkenalkan tantangan sebagai bagian normal dari proses belajar.
Misalnya:
“Soal ini memang menantang. Mari kita pecah menjadi beberapa langkah.”
Daripada:
“Soal ini sangat sulit, mungkin hanya beberapa siswa yang bisa.”
Bahasa pembimbing dapat memengaruhi ekspektasi siswa terhadap dirinya sendiri.
Pesan yang mau dibangun adalah:
Sulit bukan berfaedah mustahil. Sulit berfaedah kita perlu menemukan strategi yang tepat.
Contoh Dialog Guru dan Siswa
Berikut contoh hubungan sederhana yang dapat diterapkan di kelas.
Situasi 1: Siswa Tidak Mampu Menyelesaikan Soal
Siswa:
“Pak, saya tidak bisa mengerjakan soal ini.”
Guru:
“Bagian mana yang sudah Anda pahami?”
Siswa:
“Saya memahami langkah pertama, tetapi bingung setelah itu.”
Guru:
“Bagus, berfaedah kita sudah menemukan titik yang perlu diperbaiki. Coba gunakan contoh yang tadi kita pelajari. Menurutmu, langkah berikutnya apa?”
Interaksi tersebut membantu siswa memandang bahwa masalahnya bukan “saya tidak mampu”, tetapi ada bagian tertentu yang belum dipahami.
Situasi 2: Jawaban Siswa Salah
Guru:
“Terima kasih sudah mencoba. Coba jelaskan gimana Anda mendapatkan jawaban itu.”
Setelah siswa menjelaskan, pembimbing dapat melanjutkan:
“Cara berpikirmu sudah mengarah ke sini. Sekarang mari kita periksa langkah ketiganya. Menurutmu, apa yang perlu diperbaiki?”
Siswa tidak hanya mengetahui bahwa jawabannya salah, tetapi juga belajar menganalisis kesalahan.
Situasi 3: Siswa Mendapat Nilai Rendah
Siswa:
“Nilai saya jelek, Bu. Saya memang tidak pintar.”
Guru:
“Nilai ini menunjukkan bahwa tetap ada beberapa materi yang perlu Anda pelajari. Mari kita lihat bagian mana yang paling banyak salah. Setelah itu kita buat rencana agar Anda bisa lebih siap pada latihan berikutnya.”
Respons seperti ini membantu memisahkan hasil belajar dari identitas diri siswa.
Contoh Kalimat Guru untuk Menumbuhkan Growth Mindset
Guru dapat menggunakan beragam kalimat sederhana dalam kegiatan sehari-hari, misalnya:
- “Kamu belum berhasil, tetapi Anda sedang belajar.”
- “Apa strategi lain yang bisa kita coba?”
- “Kesalahan ini bisa membantu kita menemukan langkah yang lebih baik.”
- “Saya menghargai usahamu untuk mencoba.”
- “Apa yang Anda pelajari dari proses ini?”
- “Coba lagi dengan strategi yang berbeda.”
- “Bagian mana yang sudah Anda kuasai?”
- “Apa yang membikin pekerjaanmu kali ini lebih baik?”
- “Tidak kudu langsung sempurna. Yang krusial terus berkembang.”
- “Mari kita cari tahu bersama.”
Kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi bagian dari budaya komunikasi positif di kelas.
Peran Guru dalam Menciptakan Kelas yang Mendukung Pola Pikir Bertumbuh
Membangun growth mindset bukan berfaedah pembimbing kudu selalu mengatakan bahwa semua siswa pasti bisa melakukan apa saja.
Guru tetap perlu memberikan sasaran yang realistis, pertimbangan yang jujur, dan umpan kembali yang jelas.
Yang berubah adalah langkah pembimbing menyampaikan pesan tersebut.
Guru dapat mengatakan:
“Hasil ini belum sesuai target. Kita perlu memperbaiki beberapa hal. Saya percaya Anda dapat berkembang jika menggunakan strategi yang tepat dan terus berlatih.”
Dengan demikian, pembimbing tetap mempunyai ekspektasi yang tinggi sekaligus memberikan support kepada siswa untuk mencapainya.
Kelas dengan pola pikir bertumbuh juga perlu memberikan ruang bagi siswa untuk:
- mencoba,
- melakukan kesalahan,
- bertanya,
- menerima umpan balik,
- memperbaiki pekerjaan,
- mencoba kembali,
- dan merefleksikan perkembangan dirinya.
Hal yang Sebaiknya Dihindari
Dalam membangun pola pikir bertumbuh, terdapat beberapa kebiasaan komunikasi yang sebaiknya dikurangi.
1. “Kamu memang anak pintar.”
Pujian seperti ini memang terdengar positif, tetapi jika terlalu sering digunakan, siswa dapat merasa bahwa mereka kudu selalu terlihat pintar.
Lebih baik konsentrasi pada proses:
“Kamu menemukan langkah yang efektif untuk menyelesaikan masalah ini.”
2. “Jangan salah lagi!”
Kalimat tersebut dapat membikin siswa takut mencoba.
Lebih baik:
“Mari kita cari tahu kenapa jawaban sebelumnya belum tepat.”
3. “Lihat, temanmu saja bisa.”
Perbandingan semacam ini dapat membikin siswa merasa rendah diri.
Lebih baik:
“Mari kita lihat perkembanganmu dari tugas sebelumnya.”
4. “Kalau Anda pintar, pasti bisa.”
Kemampuan siswa tidak selalu terlihat dari seberapa sigap mereka menyelesaikan tugas.
Lebih baik:
“Kalau langkah pertama belum berhasil, kita cari strategi lain.”
Membangun Budaya Kelas, Bukan Sekadar Mengubah Kalimat
Pola pikir bertumbuh tidak cukup dibangun hanya dengan mengganti beberapa kata.
Jika pembimbing mengatakan “belum bisa”, tetapi siswa tetap tidak diberi kesempatan mencoba kembali, pesan growth mindset menjadi kurang kuat.
Karena itu, perubahan bahasa perlu disertai perubahan budaya pembelajaran.
Misalnya:
Bahasa: “Kamu belum bisa.”
Tindakan: Berikan kesempatan untuk belajar kembali.
Bahasa: “Kesalahan adalah bagian dari belajar.”
Tindakan: Analisis kesalahan bersama.
Bahasa: “Usaha itu penting.”
Tindakan: Berikan umpan kembali terhadap strategi dan proses.
Bahasa: “Kamu bisa berkembang.”
Tindakan: Tunjukkan perkembangan siswa dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, siswa tidak hanya mendengar tentang growth mindset, tetapi juga mengalami lingkungan belajar yang mendukungnya.
Kesimpulan
Pola pikir bertumbuh di kelas dapat dibangun melalui hubungan sederhana yang terjadi setiap hari. Cara pembimbing merespons kesalahan, memberikan pujian, mengusulkan pertanyaan, memberikan umpan balik, dan memberi kesempatan mencoba kembali mempunyai pengaruh besar terhadap langkah siswa memandang keahlian dirinya.
Guru tidak kudu selalu memberikan motivasi panjang. Terkadang, satu kalimat sederhana seperti “Kamu belum bisa sekarang, mari kita cari langkah lain” dapat membantu siswa memandang bahwa proses belajar tetap terus berlangsung.
Pada akhirnya, tujuan penerapan growth mindset bukan membikin siswa selalu sukses pada percobaan pertama. Tujuannya adalah membantu siswa mempunyai kepercayaan bahwa mereka dapat belajar, berkembang, memperbaiki kesalahan, dan menjadi lebih baik melalui proses yang dijalani.
Ketika budaya seperti ini tumbuh di kelas, sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa mengejar nilai, tetapi juga menjadi ruang yang mendorong mereka untuk berani mencoba, tidak takut gagal, bisa merefleksikan diri, dan terus berkembang.
Pokok-pokok Materi yang kudu dipahami anggota forumguru.id terntang Contoh Interaksi Membangun Pola Pikir Bertumbuh di Kelas adalah:
- growth mindset dalam pembelajaran
- contoh hubungan pembimbing dan siswa
- cara membangun growth mindset
- pola pikir bertumbuh pada siswa
- interaksi positif di kelas
- pembelajaran yang membangun growth mindset
- strategi pembimbing menumbuhkan pola pikir bertumbuh