Hamil Alami dan IVF, Apakah Gejalanya Berbeda? Ini Penjelasannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 14x dilihat
Hamil Alami dan IVF, Apakah Gejalanya Berbeda? Ini Penjelasannya

Bagikan Postingan

Jakarta -

Banyak pejuang garis dua tak menyadari indikasi kehamilan dengan teknologi berbantuan seperti IVF karena banyaknya prosedur yang perlu dijalaninya. Sebenarnya, apakah indikasi mengandung IVF sama dengan kehamilan alami? Ini penjelasannya.

Bagi sebagian pasangan suami istri, mendapatkan anak bukan perihal yang mudah sehingga perlu menjalani program bayi tabung alias IVF. Dengan prosedur ini, sebagian besar pasutri pun merasa terbantu untuk sukses mendapatkan keturunan.

Ya, teknologi in vitro fertilization alias IVF memang terus berkembang dari waktu ke waktu. Sehingga, kesempatan pasangan untuk mendapatkan anak lebih besar. Namun, gimana dengan proses dan indikasi kehamilan dari IVF  itu sendiri, apakah sama dengan kehamilan alami? Cari tahu, yuk!


Apakah ada perbedaan indikasi antara kehamilan alami dan IVF?

Dalam beberapa tahun terakhir, program IVF menjadi solusi yang semakin praktis bagi banyak pasangan yang sedang berjuang dengan infertilitas. Seiring teknologi reproduksi canggih ini terus berkembang dan lebih mudah diakses, banyak pasangan pun mau mencari tahu lebih lanjut mengenai program ini.

Selain info mengenai prosedur alias tahapan dalam IVF yang mau mereka ketahui, banyak pasangan juga mau banyak tahu mengenai perbedaan antara kehamilan IVF dan juga kehamilan alami, Bun.

Pada dasarnya, tahap awal kehamilan IVF tentunya sedikit berbeda dari kehamilan alami. Sebab, kehamilan itu sendiri hampir tidak dapat dibedakan setelah embrio sukses tertanam di rahim. 

Nah, sebelum betul-betul memahami perbedaan keduanya, krusial terlebih dulu membedah dasar-dasar proses IVF ya, Bunda. Seperti diketahui bahwa dalam konsepsi alami, sel telur wanita dibuahi oleh sperma di dalam tuba fallopi. Kemudian, sel telur yang telah dibuahi, alias zigot, kemudian bergerak ke rahim di mana dia berimplan dan berkembang menjadi embrio dan janin. 

Sebaliknya, pada proses program IVF ada beragam langkah kompleks yang tak banyak diketahui, diantaranya sebagai berikut:

1. Stimulasi ovarium

Di tahap ini, wanita biasanya mengonsumsi banyak obat kesuburan untuk merangsang ovarium guna menghasilkan beberapa sel telur matang untuk diambil.

2. Pengambilan sel telur

Langkah kedua ini ialah tim medis bakal mengambil sel telur matang dari ovarium wanita melalui prosedur bedah kecil.

3. Pembuahan

Setelah sel telur diambil, kemudian sel telur tersebut digabungkan dengan sperma dalam wadah di laboratorium, di mana pembuahan terjadi. Kemudian, telut yang sudah dibuahi dibiarkan berkembang menjadi embrio.

4. Transfer embrio

Satu alias lebih dari embrio yang ada bakal dipilih dan dipindahkan ke rahim wanita menggunakan kateter tipis. Sementara, sisa embrio berbobot lainnya dapat dibekukan untuk kemungkinan penggunaan di masa depan.

5. Implantasi

Dalam fase ini, embrio yang dipindahkan menempel di lapisan rahim, dan akhirnya dimulailah tahap kehamilan.

Apa yang terjadi pada dua minggu pertama kehamilan IVF dan kehamilan alami?

Perbedaan utama dari kehamilan IVF dan kehamilan alami setelah dua minggu pertama ialah adanya tingkat kesadaran. Dalam kehamilan alami, kebanyakan wanita tidak menyadari kehamilan mereka sampai muncul menstruasi yang terlewat alias indikasi lain, sering kali sebulan alias lebih setelah kehamilan dimulai.

Kesadaran yang meningkat ini dapat menyebabkan kekhawatiran yang meningkat dan sensitivitas terhadap indikasi kehamilan awal. Selain itu, obat kesuburan yang diminum selama IVF dapat meniru indikasi kehamilan seperti kelelahan, kembung, mual, dan nyeri payudara.

Hal ini juga dapat membikin penantian dua minggu antara transfer embrio dan tes kehamilan resmi menjadi sangat menantang bagi pasien IVF. Penting diketahui bahwa tes kehamilan di rumah pada tahap ini mungkin tidak dapat diandalkan bagi pasien IVF. Karena tubuh mereka mungkin tetap mempunyai kadar hormon yang tinggi akibat obat kesuburan. Satu-satunya langkah untuk memastikan kehamilan dengan pasti adalah dengan menunggu tes darah resmi di klinik kesuburan.

Menginjak usia kehamilan 10 minggu, jika semuanya baik-baik saja biasanya pasien IVF bakal dilepaskan ke perawatan master kandungan biasa. Sejak saat itu, kehamilan nyaris tidak dapat dibedakan lagi dari kehamilan alami. 

Ini merupakan fase krusial yang menandai berakhirnya pemantauan dan perawatan yang lebih ketat yang diberikan ahli kesuburan. Meskipun ada saja kekhawatiran dari pasien IVF sampai mereka melahirkan. 

Gejala dan komplikasi kehamilan

Gejala kehamilan IVF pada dasarnya sama saja dengan kehamilan alami. Tetapi, pasien IVF lebih sadar dan sensitif terhadap perubahan yang dialaminya. Gejala kehamilan seperti morning sickness, perubahan suasana hati, sering buang air kecil, dan kemauan bakal yang tidak biasa merupakan pengalaman umum baik untuk kehamilan IVF dan kehamilan alami seperti dikutip dari laman Welllifehospital.

Namun, krusial diketahui bahwa beberapa komplikasi mungkin lebih umum terjadi pada kehamilan IVF. Kondisi seperti tekanan darah tinggi, glukosuria gestasional, anemia, keterbatasan pertumbuhan, dan persalinan prematur terkadang lebih sering terjadi pada kehamilan IVF. Hal ini terutama lantaran wanita yang menjalani IVF sering berada di usia ibu yang lanjut dan mungkin mereka mempunyai masalah hormonal alias medis yang mendasarinya.

Untuk itu, sangat krusial bagi pasien IVF bekerja sama dengan tim medis guna memantau potensi komplikasi yang ada sehingga bisa ditangani sesegera mungkin. Selain itu, pasien IVF juga perlu membarenginya dengan kunjungan prenatal rutin, USG, tes skrining guna membantu memastikan kehamilan dan bayi yang sehat.

Kesimpulannya, meskipun pada tahap awal kehamilan IVF mungkin sedikit berbeda dari kehamilan alami lantaran kesadaran yang tinggi dan intervensi medis yang terlibat, kehamilan keduanya nyaris tidak dapat dibedakan setelah embrio sukses tertanam di rahim.

Gejala, komplikasi, proses persalinan, dan hasil jangka panjang semuanya sangat mirip antara kehamilan IVF dan kehamilan alami. Meski demikian, krusial bagi pasien IVF untuk memahami bahwa kehamilan mereka tidak kalah normal dibandingkan dengan kehamilan alami.

Dengan support dan info yang tepat, pejuang IVF dapat menikmati perjalanan kehamilan dan menjadi orang tua seperti ibu mengandung lainnya. Selain itu, dengan memahami kesamaan antara IVF dan kehamilan alami, kita semua dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung semua family tanpa memandang gimana latar kehamilan dari anak-anak yang mereka kandung.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincaimedia Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak