Kebiasaan Media Sosial yang Diam-diam Menunjukkan Generasi Seseorang

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 511x dilihat
Kebiasaan Media Sosial yang Diam-diam Menunjukkan Generasi Seseorang

Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Membocorkan Generasi Seseorang/Foto: Magnific.com/magnific

Cara seseorang menggunakan media sosial rupanya bisa menjadi petunjuk tentang generasi tempat seseorang tumbuh. Bahkan, kebiasaan tertentu dalam menggunakan media sosial dianggap cukup unik pada golongan usia tertentu lantaran setiap generasi mempunyai langkah berbeda dalam berinteraksi di bumi digital.

Meski begitu, kebiasaan-kebiasaan ini tentu tidak bisa dijadikan patokan absolut untuk menentukan usia seseorang. Penasaran kebiasaan digital apa saja yang disebut bisa membocorkan generasi seseorang? Yuk, cek satu per satu dan lihat apakah ada yang terasa familiar buat kamu!

1. Menggunakan TikTok sebagai Mesin Pencari

Menggunakan TikTok sebagai mesin pencari banyak dikaitkan dengan Gen Z lantaran video singkat dari pembuat dianggap lebih praktis dan mudah dipahami.
Kebiasaan media sosial Gen Z, menggunakan TikTok sebagai mesin pencari/Foto: Pexels.com/Artem Podrez

Melansir The Queen Zone, salah satu kebiasaan menggunakan media sosial yang disebut cukup identik dengan Gen Z adalah menjadikan TikTok sebagai mesin pencari. Ketika mau mencari sesuatu, sebagian Gen Z memilih langsung mencari video di TikTok dibandingkan menggunakan mesin pencari tradisional.

Perilaku ini berangkaian dengan langkah Gen Z mencari dan menerima informasi. Alih-alih membaca tulisan panjang, Gen Z condong menyukai jawaban dalam format video yang singkat dan langsung memperlihatkan praktiknya.

Kebiasaan ini juga menunjukkan adanya kepercayaan yang lebih besar terhadap pengalaman dan penjelasan pembuat secara langsung dibandingkan situs yang terasa lebih impersonal.

2. Mengandalkan Emoji Joy

Kebiasaan media sosial Millenial, menggunakan emoji joy/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Penggunaan emoji joy alias haha emoji (😂) rupanya juga bisa menjadi salah satu kebiasaan media sosial yang dianggap memperlihatkan perbedaan generasi. Emoji ini sangat lekat dengan Millennial sebagai langkah untuk menunjukkan sesuatu yang lucu, sementara Gen Z menganggap emoji ini sudah ketinggalan zaman.

Sebagai gantinya, Gen Z disebut lebih sering menggunakan simbol lain, termasuk emoji tengkorak, untuk menunjukkan bahwa sesuatu sangat lucu. Namun, tetap saja bukan berfaedah setiap orang yang memakai haha emoji otomatis seorang Millennial.

3. Mengunggah Photo Dump Tanpa Banyak Filter

Mengunggah kumpulan foto random tanpa banyak filter menjadi salah satu kebiasaan media sosial yang terkenal di kalangan Gen Z lantaran menonjolkan kesan autentik dan santai.
Kebiasaan media sosial Gen Z dengan tren photo dump tanpa filter/Foto: Magnific.com/magnific

Kalau isi galeri ponsel Anda sering berhujung menjadi carousel berisi foto blur, makanan, pemandangan, selfie seadanya, alias momen random, bisa jadi Anda mengikuti style yang terkenal di kalangan Gen Z. Gaya ini berbeda dengan kebiasaan membikin satu foto yang sangat terkurasi.

Gen Z disebut lebih mengutamakan kesan autentik dan tidak terlalu berupaya membikin setiap unggahan terlihat sempurna. Survei Kadence menunjukkan bahwa 90 persen Gen Z menghargai autentisitas dalam unggahan media sosial. Karena itu, foto yang sedikit acak-acakan alias tidak terlalu diedit justru dianggap lebih natural.

4. Merekam Video dari Sudut Tinggi

Sudut pengambilan gambar juga termasuk kebiasaan media sosial yang dapat mencerminkan tren antargenerasi. Gaya merekam dari perspektif tinggi disebut lebih identik dengan Millennial.
Kebiasaan media sosial Millenial, memakai angle atas saat merekam video/Foto: Pexels.com/Diana

Sudut kamera rupanya bisa menjadi bagian dari kebiasaan dalam menggunakan media sosial yang menunjukkan perbedaan generasi, lho. Mengangkat ponsel lebih tinggi dari kepala saat mengambil foto alias video disebut sebagai style yang terkenal di kalangan Millennial. Dulunya, perspektif ini banyak digunakan untuk mendapatkan pencahayaan dan tampilan wajah yang dianggap lebih menarik.

Sementara itu, Gen Z disebut lebih nyaman menggunakan perspektif kamera yang lebih rendah dan terlihat santai. Ponsel apalagi bisa diletakkan di atas meja, disandarkan ke dinding, alias diposisikan untuk mengambil gambar dari pinggang ke atas.

5. Menjadikan LinkedIn sebagai Buku Harian

Kebiasaan media sosial Generasi X, menjadikan LinkedIn sebagai ruang cerita/Foto: Pexels.com/Tobias Dziuba

LinkedIn pada awalnya dikenal sebagai platform untuk membangun jaringan profesional, membagikan pengalaman kerja, dan mencari kesempatan karier. Namun, Gen X menjadikan LinkedIn sebagai tempat berbagi refleksi pribadi dan perjalanan karier.

Pengguna dalam golongan ini disebut lebih sering membagikan cerita panjang mengenai kepemimpinan, perkembangan diri, alias pengalaman dalam perjalanan profesional. Sebaliknya, pekerja yang lebih muda condong menjaga profil ahli mereka tetap ringkas dan berfokus pada info yang berangkaian dengan pekerjaan.

Data Hootsuite 2025 menyebut 27,2 persen pengguna LinkedIn berada pada rentang usia 40-59 tahun. Meski demikian, berbagi cerita individual di LinkedIn tidak otomatis menunjukkan usia tertentu. Banyak ahli dari beragam generasi yang menggunakan LinkedIn untuk membangun personal branding melalui storytelling.

6. Membagikan Disclaimer Privasi Palsu

Membagikan disclaimer privasi yang meminta orang lain melakukan copy-paste menjadi salah satu kebiasaan di media sosial yang disebut lebih banyak ditemukan pada Baby Boomers.
Kebiasaan media sosial Baby Boomers, membagikan disclaimer privasi yang viral/Foto: Pexels.com/Teona Swift

Kamu mungkin pernah memandang unggahan yang berisi pernyataan panjang soal kewenangan atas foto dan informasi pribadi. Biasanya, pesan tersebut meminta pengguna menyalin dan menempelkannya ke timeline dengan klaim bahwa langkah tersebut dapat mencegah platform menggunakan alias mengambil foto pribadi.

Kebiasaan media sosial seperti ini banyak menyebar di kalangan Baby Boomers dan berangkaian dengan kekhawatiran terhadap privasi digital. Pesan semacam ini sebenarnya tidak serta-merta mengubah ketentuan jasa sebuah platform.

Generasi yang lebih muda condong lebih memahami bahwa patokan penggunaan platform sudah disetujui ketika seseorang membikin akun. Di sisi lain, laporan Promoguy menyebut 65 persen Baby Boomers menggunakan platform digital seperti YouTube secara rutin, meski tetap mempunyai kekhawatiran besar mengenai kepemilikan data.

Gen Z, Millennial, Gen X, hingga Baby Boomers tumbuh dalam kondisi teknologi yang berbeda sehingga langkah setiap generasi beradaptasi dengan media sosial pun tidak selalu sama. Dari enam kebiasaan media sosial di atas, Anda paling relate dengan yang mana, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini

Bagikan Postingan