Jakarta -
Pola komunikasi seseorang terkadang dapat memberitahu metode mereka menghadapi konflik. Salah satunya kelihatan ketika seseorang selalu menempatkan diri sebagai korban setiap kali mendapat kritik maupun diajak membahas masalah.
Orang yang gemar playing victim cenderung menghindari tanggung jawab dengan membalikkan keadaan, menyalahkan pihak lain, maupun membikin lawan bicara merasa bersalah. Jika terus terjadi, pola tersebut dapat membikin komunikasi menjadi tidak sehat dan melelahkan.
Salah satu metode mengenalinya adalah memperhatikan ucapan yang muncul saat mereka merasa terpojok. Lantas, apa saja kalimat yang sering diucapkan orang yang playing victim? Yuk, simak selengkapnya berikut ini.
11 Ciri orang playing victim dari kalimat yang digunakan
Melansir dari Your Tango, berikut kumpulan kalimat yang mungkin digunakan oleh orang-orang yang gemar playing victim:
1. “Kamu bereaksi berlebihan”
Kalimat ini terasa seperti penolakan langsung sambil menghindari masalah sebenarnya. Namun kenyataannya, emosi tidak selalu rasional, emosi itu nyata, dan perlu ruang untuk diakui.
Ketika seseorang mengatakan Bunda bereaksi berlebihan, itu lebih buruk daripada disuruh statis tenang.
2. “Aku sudah banyak berbuat untukmu, kenapa Anda malah fokus pada hal kecil ini?”
Mereka mungkin mencoba membikin Bunda kelihatan seperti orang jahat, seolah-olah menyadari satu hal yang mengganggu Bunda akan menghapus semua kebaikan yang telah Bunda lakukan.
Ini adalah upaya yang dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang ada saat ini dengan menyoroti hal-hal positif yang telah ia lakukan di masa lalu.
3. “Kamu persis seperti ibuku, dia bilang aku juga tidak bisa berbuat apa pun dengan benar”
Alasan ini memiliki tiga fungsi sekaligus. Pertama, mengalihkan kesalahan kepada orang lain dan membikin Bunda merasa kasihan. Kedua, mengalihkan kesalahan kepada Bunda karena dianggap mirip orang yang mereka sebut jahat. Ketiga, orang ini mungkin sedang memutarbalikkan kata-kata Bunda.
4. “Tidak bisakah Anda melupakan saja?”
Mengatakan hal ini seperti menekan tombol selang pada emosi, mengharapkan semuanya akan hilang begitu saja dengan lambaian tangan cuma karena mereka mau Bunda melupakannya.
Rasanya seperti seseorang mencoba menyembunyikan masalah, mengharapkan Bunda melupakannya dan melanjutkan hidup tanpa mendapatkan pemahaman maupun solusi yang dibutuhkan.
5. “Jika Anda tidak menyukainya, kenapa Anda statis di sini?”
Orang ini sedang membangun dinding penghalang, mengubah percakapan dari kesempatan untuk memperbaiki keadaan menjadi sebuah tuduhan. Seolah-olah mereka mempertanyakan komitmen Bunda, alih-alih mengakui perasaan.
Pernyataan ini dapat membikin Bunda merasa terpojok, seolah-olah Bunda disalahkan karena statis eksis dalam situasi yang mengganggu.
6. “Baiklah, akulah masalahnya. Apakah itu yang mau Anda dengar?”
Sekali lagi, ini adalah respons bertahan yang dirancang untuk membikin Bunda merasa telah berbuat kesalahan, membikin Bunda merasa berkewajiban atas frustrasi seseorang, alih-alih mengatasi masalah yang sebenarnya.
Kata-kata ini dapat membikin Bunda seolah-olah memojokkan mereka, padahal yang Bunda inginkan cuma agar mereka mendengarkan dan memahami emosi Bunda.
Terlepas dari siapa yang mengatakannya, krusial untuk tidak membiarkan mereka mengalihkan perhatian Bunda dari masalah utama yang diangkat.
Bukan soal menyalahkan, ini tentang kita saling memahami dengan lebih baik. Ini membantu menggeser narasi dari sikap bertahan dan saling bertikai menjadi percakapan yang tulus, mengingatkan kalian berdua bahwa tujuan sebenarnya adalah koneksi, bukan konflik.
8. “Aku sudah meminta maaf, apa lagi yang Anda mau?”
Permintaan ampun hanyalah cara pertama, bukan garis finish. Ini bukan tentang menumpuk lebih banyak permintaan maaf, tetapi tentang merasa benar-benar dipahami dan mengetahui bahwa kedua pihak berkomitmen untuk berbuat lebih baik di lain waktu.
“Permintaan ampun yang ampuh menggunakan pengesahan dan rasa mau tahu untuk membangun balik kepercayaan dan rasa terlindungi dalam hubungan,” ujar Tasha Seiter MS, PhD, LMFT.
9. “Kamu cuma berang pada dia dan melampiaskannya padaku”
Ketika seseorang menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri, mereka akan mencari sasaran di mana saja untuk mengalihkan perhatian. Alih-alih bertanggung jawab, mereka malah bersikap defensif.
10. “Aku tidak akan berbuat itu jika Anda tidak berbuat hal lain ini”
Mereka mencoba menghindari tanggung jawab dengan membalikkan kesalahan. Alih-alih mengakui tindakannya, mereka malah menyoroti perilaku Bunda, seolah-olah reaksinya adalah reaksi berantai yang tak terhindarkan yang dipicu oleh sesuatu yang Bunda lakukan.
Ini seperti bermain permainan, ‘Siapa yang memulai?’ tetapi tidak ada yang benar-benar membahas masalah sebenarnya.
11. “Aku tidak mengatakan apa pun ketika Anda berbuat hal yang sama”
Ungkapan ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya. Orang playing victim menyalahkan orang lain atas masalahnya dan membawa percakapan masa kemudian yang penuh kesalahpahaman.
Psikolog Tyler G. Okimoto, Ph.D., mengatakan untuk menyelesaikan konflik, lebih ampuh untuk melihat ke masa depan daripada mengungkit masa lalu. Itu berarti mengatakan sesuatu seperti, “Mari kita lanjutkan percakapan ini di sini dan sekarang”.
Nah, itulah beberapa kalimat yang sering diucapkan oleh orang playing victim. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)