Jika Anda sudah menonton video terbaru dari Kepoin Tekno yang membahas mengenai Kenapa Banyak Orang Mulai Membenci AI, Anda mungkin sadar satu kebenaran ini, bahwa euforia awal terhadap kepintaran buatan sekarang telah berubah menjadi gelombang sentimen negatif yang cukup ekstrem.
Ironis memang, bukan lantaran teknologinya yang buruk, namun lantaran AI sekarang terasa ada di mana-mana.
Semua Terlihat Mirip
Nah coba perhatikan sekitar kita, apalagi sekarang banner promosi UMKM yang dulu dibuat sederhana menggunakan foto asli, sekarang berubah menjadi gambar hasil AI dengan model yang wajahnya nyaris sama semua.
Poster diskon, iklan makanan, pamflet jasa, apalagi spanduk jajanan dipinggir jalan mulai dipenuhi ilustrasi AI dengan style visual yang seragam.



Bukan hanya poster makanan di tempat umum, di sosial media juga tidak jauh berbeda, jika saya perhatikan sih, timeline Instagram, Facebook, TikTok, hingga X sekarang dipenuhi gambar AI, video AI, bunyi AI, apalagi komentar AI.
Kadang, susah membedakan mana yang betul benar dibuat oleh manusia dan mana yang sepenuhnya dihasilkan oleh mesin, dan tentu, tidak sedikit pula fake influencer wanita yang saya percaya dalang dibaliknya adalah seorang laki laki yang nyengir nyengir ketika ada komentar laki laki lain yang birahi terhadap konten AI yang dibuatnya.



Nah diatas adalah contohnya, dan jika Anda cek komentarnya, berapa banyak laki laki tolol yang tertipu dan apalagi mungkin tidak sadar bahwa wanita yang disukainya adalah AI, dan apalagi mungkin orang dibaliknya adalah laki laki.

Dan yang membikin kejadian ini semakin memprihatinkan adalah, konten seperti itu justru sering kali mendapatkan engagement yang tinggi.
Banyak orang memberikan like, komentar, apalagi mengikuti akun tersebut tanpa menyadari bahwa sosok yang mereka lihat sama sekali tidak nyata. Akibatnya, media sosial perlahan dipenuhi akun-akun AI yang hanya mengejar jumlah penonton, tanpa betul-betul menawarkan sesuatu yang autentik.
AI Bukan Lagi Alat Bantu, Tapi Jalan Pintas
Nah padahal, pada awal kemunculannya, AI datang sebagai perangkat untuk membantu manusia bekerja lebih sigap dan lebih efisien.
Misalkan, seorang desainer bisa menggunakan AI untuk mencari inspirasi, seorang penulis bisa menggunakannya untuk menyusun kerangka tulisan, seorang programmer bisa memanfaatkannya untuk mempercepat proses coding, namun yang terjadi sekarang, justru berbeda.
Banyak orang menggunakan AI untuk menggantikan seluruh proses kreatif, cukup mengetik beberapa kalimat, lampau hasilnya langsung dipublikasikan tanpa proses editing, tanpa sentuhan pribadi, apalagi tanpa memastikan apakah hasilnya betul alias tidak.
Sehingga, tidak heran akhirnya internet terasa dipenuhi konten yang bentuknya berbeda, tetapi isinya nyaris sama. Jika saya sebut sih, rasanya tidak ada jiwa dalam konten kontennya.
Internet Mulai Kehilangan Karakternya
Hal yang paling saya rasakan adalah internet mulai kehilangan identitasnya, dulu setiap pembuat mempunyai style masing masing, ada yang terkenal lantaran ilustrasinya, ada yang dikenal lewat langkah menulisnya, ada pula yang mempunyai karakter unik dalam mengedit video, sekarang banyak konten terasa berasal dari cetakan yang sama.
Di Youtube misalnya, banyak thumbnail menggunakan style AI yang seragam, tulisan di internet juga kadang menggunakan kalimat yang identik, apalagi sampai iklan loh, juga menggunakan model AI dengan ekspresi yang sama.
Tapi Apakah AI Benar Benar Dibenci?
Saya rasa tidak juga, meskipun banyak orang mengatakan bahwa mereka membenci AI, padahal yang sebenarnya mereka tidak suka adalah penggunaan AI yang berlebihan alias AI Slop.
AI tetap menjadi teknologi yang luar biasa lantaran jika dimanfaatkan dengan benar, kita betul benar terbantu dengan teknologi ini.
Namun masalahnya, ketika AI dijadikan solusi untuk semua hal, gambar dibuat AI, tulisan dibuat AI, video juga dibuat AI, apalagi hubungan dengan manusia pun digantikan AI, dititik itulah orang munkgin mulai merasa capek lantaran pada akhirnya, yang dicari manusia bukan hanya hasil yang cepat, tetapi juga sesuatu yang terasa nyata, mempunyai cerita, dan dibuat oleh sesama manusia.
Satu kata, mempunyai jiwa.
Bagaimana menurutmu guys? apakah Anda sadar juga kejadian ini, dimana sekarang AI sudah ada dimana mana, apalagi sampai perihal terkecil sekalipun, banner cilok alias esteh dipinggir jalan.
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.
Written by
Gylang Satria
Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]
Post navigation
Previous Post
English (US) ·
Indonesian (ID) ·