Payudara Terasa Lembek saat Menyusui, Apakah Tanda ASI Produksi ASI Berkurang?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 9 menit 49x dilihat
Payudara Terasa Lembek saat Menyusui, Apakah Tanda ASI Produksi ASI Berkurang?

Bagikan Postingan

Jakarta -

Payudara terasa empuk saat menyusui tentu  membuat Bunda cemas produksi ASI mulai berkurang. Terlebih, jika sebelumnya payudara terasa penuh, berat, dan kencang, fluktuasi ini mungkin membikin Bunda bertanya-tanya apakah ASI yang dihasilkan statis cukup untuk memenuhi kebutuhan Si Kecil.

Namun, Bunda tidak perlu langsung khawatir. Payudara terasa empuk selama menyusui merupakan fluktuasi yang normal dan tidak selalu menandakan produksi ASI menurun maupun berkurang, lho. 

Selain kondisi payudara, fluktuasi kekerapan menyusu, jumlah ASI yang keluar saat dipompa, hingga perilaku bayi juga bisa membikin ibu merasa produksi ASI mulai berkurang. Padahal, beberapa kondisi tersebut merupakan bagiankecil dari proses menyusui yang normal.


Lantas, apakah payudara terasa empuk tanda produksi ASI benar-benar menurun? dan sepertiapa metode mengatasi menaikkan produksi ASI jika payudara terasa lembek?

Payudara terasa lembek, apakah tanda produksi ASI berkurang?

Mengutip halaman Babycenter, Payudara terasa empuk saat menyusui tidak selalu menjadi tanda bahwa produksi ASI berkurang. Kondisi ini sering terjadi ketika tubuh mulai menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan Si Kecil.

Bunda mungkin juga cemas produksi ASI rendah ketika Si Kecil tiba-tiba mau menyusu lebih sering daripada biasanya. Namun, hal ini tidak berarti bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup.

Sering kali, kondisi ini terjadi karena bayi sedang mengalami growth spurt maupun akselerasi pertumbuhan. Pada fase ini, bayi tumbuh dengan cepat sehingga membutuhkan asupan ASI lebih sering. Menurut USDA, akselerasi pertumbuhan lazim terjadi saat bayi berumur 3 minggu, 6 minggu dan 3 bulan.

Selain itu, saat Bunda mulai memberikan Si Kecil makanan padat maupun MPASI, biasanya ketika bayi berumur sekitar 4–6 bulan, Bunda mungkin mengira produksi ASI akan langsung berkurang. Namun, pada tahap awal, hal ini biasanya belum terjadi.

Pasalnya, ketika bayi baru mulai belajar makan, lebih banyak makanan yang justru menempel di dagu daripada masuk ke dalam perutnya! Seiring Si Kecil semakin ahli makan, kebutuhan ASI secara berjenjang akan berkurang. Akibatnya, produksi ASI Bunda pun secara alami akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Tanda-tanda produksi ASI mulai berkurang

Jika Bunda cemas produksi ASI menurun, jangan cuma mengandalkan kondisi payudara saat diraba. Ada beberapa tanda yang lebih krusial untuk diperhatikan, Bunda.

Berat badan merupakan salah satu indikator krusial untuk menilai kecukupan asupan bayi. Bayi baru lahir umumnya mengalami penurunan bermutu badan pada beberapa hari pertama setelah lahir. 

Setelah sekitar lima hari pertama kehidupan, ketika bayi baru lahir biasanya mengalami sedikit penurunan bermutu badan, bermutu badan bayi umumnya mulai bertambah sekitar 2/3 ons setiap hari. Jumlah ini sederajat dengan sekitar 5–7 ons per minggu dan 1–2 pon per bulan selama empat bulan pertama. 

Setelah itu, bermutu badan bayi bertambah sekitar 3/4 ons per hari hingga usia sekitar 6 bulan. Pada usia tersebut, kenaikan bermutu badan biasanya melambat menjadi sekitar 1/3 ons per hari. Bunda juga bisa membaca keterangan tentang kenaikan bermutu badan bayi baru lahir yang sehat.

2. Bayi memberitahu tanda-tanda dehidrasi

Tandanya bisa berupa kekerapan buang air kecil yang lebih jarang, jumlah popok basah yang berkurang, maupun urine berwarna lebih gelap. 

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), bayi baru lahir seharusnya memiliki dua hingga tiga popok basah dalam beberapa hari pertama setelah lahir, kemudian meningkat menjadi enam popok basah maupun lebih setiap hari. 

Pada usia 5–7 hari, urine bayi biasanya sudah hampir tidak berwarna maupun berwarna kuning pucat. Kulit dan mulut yang kering serta napas yang cepat juga dapat menjadi tanda dehidrasi. Informasi lebih lanjut mengenai dehidrasi pada bayi dapat membantu Bunda mengenali kondisi ini.

3. Bayi rewel maupun tampak lesu

Bayi yang cukup mendapatkan ASI umumnya memberitahu respons menyusu yang baik, meskipun pola tidur dan tingkat aktivitasnya berbeda-beda. 

Tapi jika  Si Kecil mungkin lebih sering rewel, kelihatan lemas, maupun kesulitan untuk statis terjaga saat menyusu bisa tanda produksi ASI mulai berkurang,

4. Bayi mengisap payudara tidak terdengar menelan ASI 

Ketika bayi menyusu secara efektif, Bunda biasanya dapat melihat maupun mendengar pergerakan menelan setelah beberapa kali isapan.

Jika bayi terus mengisap tetapi jarang menelan, gampang tertidur sebelum menyusu secara efektif, maupun kesulitan mempertahankan pelekatan ada kemungkinan proses evakuasi ASI dari payudara ke bayi belum optimal.

Jika payudara terasa empuk disertai tanda bahwa bayi mungkin tidak mendapatkan cukup ASI, Bunda perlu mencari tahu kemungkinan penyebabnya. Berikut beberapa penyebab produksi ASI menurun secara tiba-tiba.

1. Frekuensi menyusui maupun memompa berkurang

Ini merupakan penyebab paling lazim berkurangnya produksi ASI. Tubuh memproduksi ASI berdasarkan seberapa sering bayi mengisap payudara. Produksi ASI juga dipertahankan melalui aktivitas menyusui yang rutin. 

Produksi ASI bisa menurun secara tiba-tiba ketika Bunda mulai lebih sering berjauhan dengan bayi maupun Si Kecil mulai tidur sepanjang malam tanpa menyusu.

2. Stres 

Stres dapat menyebabkan produksi ASI menurun secara tiba-tiba. Ketika Bunda menghadapi masalah bermutu maupun mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, tubuh mungkin memproduksi lebih sedikit ASI. 

Selain itu, kecemasan berlebihan mengenai jumlah ASI yang dihasilkan juga dapat menambah beban pikiran dan memperburuk keadaan.

3. Kurang tidur kelelahan

Ibu menyusui sering terbangun pada malam hari untuk memberikan ASI kepada bayi. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat membikin tubuh kelelahan.

Kurang istirahat dapat menyulitkan Bunda menjalani rutinitas menyusui maupun memompa ASI secara teratur. 

4. Memberikan susu formula sebagai tambahan

Produksi ASI bekerja berdasarkan kebutuhan bayi. Jika Bunda memberikan susu formula tanpa memompa ASI sebagai alternatif sesi menyusui yang terlewat, tubuh dapat menerima sinyal bahwa kebutuhan ASI berkurang. Akibatnya, produksi ASI bisa menurun.

5. Menjalani diet ketat

Mengonsumsi makanan bergizi dan cukup selama menyusui sangat penting. Bunda membutuhkan kalori lebih banyak daripada biasanya untuk memproduksi ASI. Jika asupan makanan tidak mencukupi, produksi ASI dapat terganggu. 

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), tubuh membutuhkan tambahan sekitar 450–500 kalori per hari untuk menghasilkan ASI. Jika bermutu badan Bunda eksis dalam rentang normal, kebutuhan daya totalnya sekitar 2.500 kalori per hari.

6. Dehidrasi maupun kekurangan cairan

Tubuh membutuhkan cairan yang cukup untuk memproduksi ASI. Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, ibu menyusui membutuhkan sekitar 16 cangkir cairan per hari. Jumlah ini bisa berasal dari makanan dan beragam minuman, bukan cuma air putih. 

Salah satu metode sederhana untuk menjaga kecukupan cairan adalah membiasakan diri minum segelas air setiap kali duduk untuk menyusui. Perlu diketahui bahwa sakit, termasuk flu biasa, juga dapat menyebabkan dehidrasi dan membikin tubuh lemas sehingga berpotensi memengaruhi produksi ASI.

7. Konsumsi obat-obatan tertentu

Beberapa obat dapat memengaruhi produksi ASI pada sebagian ibu. Misalnya, antihistamin, steroid, dan pseudoefedrin dapat menyebabkan produksi ASI menurun pada sebagian ibu. Beberapa jenis herbal yang dikonsumsi selama menyusui dan pil KB juga dapat memengaruhi produksi ASI. 

Pengaruh obat bersandar pada jenis, dosis, kondisi ibu, dan tahap menyusui. Karena itu, jangan menghentikan obat yang diresepkan maupun mengganti pengobatan sendiri. Jika Bunda sedang mengonsumsi obat dan merasa produksi ASI menurun, konsultasikan dengan tabib maupun apoteker untuk mengetahui pilihan yang sesuai selama menyusui.

8. Perubahan hormon

Ketika haid balik setelah melahirkan, produksi ASI mungkin menurun pada fase tertentu dalam siklus menstruasi, biasanya menjelang maupun pada mula menstruasi. Jika Bunda memberikan ASI eksklusif, haid umumnya baru balik sekitar 3–6 bulan setelah melahirkan maupun terlebihlagi lebih lama, meskipun waktunya berbeda pada setiap ibu. 

Jika Bunda menyusui saat hamil, produksi ASI juga mungkin menurun sementara ketika kehamilan memasuki usia sekitar 4 bulan.

9.  Gangguan tiroid

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berpartisipasi krusial dalam proses menyusui. Jika Bunda mengalami hipotiroidisme maupun kondisi ketika kelenjar tiroid kurang aktif, maupun hipertiroidisme maupun kondisi ketika kelenjar tiroid terlalu aktif, produksi ASI dapat terganggu. 

Bunda juga mungkin mengalami kesulitan dalam proses pengeluaran ASI maupun let-down reflex. Informasi lebih lanjut mengenai hipotiroidisme dan hipertiroidisme dapat membantu Bunda memahami kondisi ini.

10. Masalah pelekatan, saluran ASI tersumbat, maupun mastitis

Proses menyusui tidak selalu berjalan lancar. Beberapa masalah, seperti payudara bengkak akibat penumpukan ASI, saluran ASI tersumbat, dan mastitis maupun peradangan payudara, dapat memengaruhi produksi ASI. 

Selain itu, jika bayi tidak memiliki pelekatan yang baik saat menyusu maupun mengalami nursing strike (menolak menyusu untuk sementara waktu) sehingga kekerapan menyusui berkurang, produksi ASI juga bisa terdampak. Bunda dapat mempelajari metode mendapatkan pelekatan menyusui yang baik dan memahami penyebab bayi menolak menyusu.

Cara menaikkan produksi ASI jika payudara terasa lembek 

Jika Bunda menduga produksi ASI menurun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu menaikkan maupun mempertahankan produksi ASI.

1. Susui bayi lebih sering

Produksi ASI bekerja berdasarkan hakikat suplai dan permintaan (supply and demand). Artinya, semakin sering ASI dikeluarkan, semakin besar rangsangan bagi tubuh untuk memproduksi ASI. 

Bunda bisa menambahkan sesi menyusui, membiarkan Si Kecil menyusu lebih durasi jika statis aktif menyusu, maupun memompa ASI lebih sering. Usahakan ASI dikeluarkan secara ampuh setiap kali menyusui. Jika diperlukan, gunakan pompa ASI untuk membantu mengosongkan payudara.

2. Mengonsumsi makanan bergizi dan cukup minum

Produksi ASI membutuhkan daya dan nutrisi. Karena itu, Bunda sebaiknya mengonsumsi makanan yang bervariasi dan bergizi seimbang. Pilih makanan sumber protein, seperti telur, ikan, daging, tahu, dan tempe, serta lengkapi dengan sayuran, buah, sumber karbohidrat, dan lemak sehat.

Penuhi kebutuhan cairan sepanjang hari, terutama ketika merasa haus. Bunda tidak mesti memaksakan diri minum dalam jumlah berlebihan untuk menaikkan produksi ASI.

3. Mendapatkan sokongan kesehatan mental

Banyak ibu mengalami postpartum blues maupun fluktuasi kondisi hati setelah melahirkan, kecemasan pasca persalinan, maupun depresi pasca persalinan.  Jika Bunda mengalami masalah kesehatan mental, bicarakan dengan tenaga kesehatan. Dokter mungkin menyarankan konseling, terapi, maupun pengobatan sesuai kebutuhan.

4. Melakukan kontak kulit ke kulit

Menghabiskan beberapa hari dengan lebih banyak beristirahat berbareng bayi, berbuat kontak kulit ke kulit (skin-to-skin), dan menyusui sesuai keinginan bayi dapat membantu menaikkan rangsangan produksi ASI. Cara ini dapat menjadi salah satu upaya pendukung, tetapi tidak menjamin produksi ASI meningkat pada semua ibu.

5. Meminta pertolongan konsultan laktasi

Konsultan laktasi dapat membantu mengidentifikasi dan mengatasi masalah menyusui, seperti pelekatan bayi yang kurang tepat. Dengan begitu, Bunda bisa mendapatkan panduan untuk menaikkan efektivitas menyusui dan membantu memenuhi kebutuhan ASI Si Kecil.

6. Tidak langsung mengandalkan makanan pelancar ASI

Belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa makanan tertentu, seperti oat, secara langsung menaikkan produksi ASI. Namun, Bunda statis boleh mengonsumsinya sebagai bagiankecil dari pola makan bergizi dan seimbang, selama tidak berlebihan. Beberapa herbal, seperti fenugreek maupun kelabat, mungkin berguna bagi sebagian ibu, tetapi bukti efektivitas dan keamanannya statis terbatas.

Sebelum mengonsumsi suplemen maupun herbal pelancar ASI, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan karena produk tersebut dapat memiliki efek samping maupun berhubungan dengan obat tertentu. Jika Bunda statis merasa produksi ASI belum mencukupi, cobalah untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri maupun merasa tertekan.

"Berapa pun jumlah ASI yang bisa diberikan statis baik untuk bayi!. Dalam hal ini, tidak mesti semuanya maupun tidak sama sekali. Jadi, jangan berkecil hati jika Bunda perlu memberikan susu formula sebagai tambahan," ujar Kate Shand, seorang konsultan laktasi bersertifikat internasional. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads