Pegi Bakal Batasi Usia Game Dengan Loot Box, Rating Langsung Naik Drastis

Mar 13, 2026 10:34 AM - 1 bulan yang lalu 13709

Kincai Media – Bayangkan game olahraga favorit anak Anda tiba-tiba mendapat label “hanya untuk 16 tahun ke atas”. Atau, game online yang biasa dimainkan berbareng kawan sekelas sekarang dikategorikan dewasa. Itulah skenario nyata yang bakal terjadi di Eropa mulai musim panas ini, berkah patokan baru dari badan rating game PEGI yang secara keras membidik sistem kontroversial seperti loot box dan pembelian dalam game. Perubahan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan gebrakan yang berpotensi mengubah lanskap industri game secara signifikan.

Pan-European Game Information (PEGI), sistem rating game yang diakui di sebagian besar Eropa, secara resmi mengumumkan seperangkat kriteria baru yang bakal memberlakukan pembatasan usia berasas keberadaan fitur-fitur yang diklasifikasikan sebagai “kategori akibat interaktif”. Inti dari kebijakan ini adalah melindungi pemain muda dari sistem yang berpotensi memicu kecanduan alias mengenai dengan praktik mirip judi. Aturan ini bakal bertindak untuk game-game yang diajukan untuk dinilai mulai Juni 2026, memberikan sinyal kuat kepada para developer bahwa era pemanfaatan psikologis pemain secara leluasa mungkin bakal segera berakhir.

Lalu, seperti apa perincian patokan baru yang bisa membikin rating sebuah game melonjak dari PEGI 3 menjadi PEGI 16 dalam sekejap? Kebijakan PEGI terbagi menjadi beberapa poin kunci. Pertama, mengenai pembelian konten dalam game. Game yang menawarkan penawaran terbatas waktu alias terbatas jumlah bakal langsung dikenai rating PEGI 12. Sementara itu, game yang mengintegrasikan NFT alias sistem mengenai blockchain bakal mendapat label keras PEGI 18, mencerminkan kekhawatiran bakal kompleksitas dan akibat finansial yang melekat.

Kedua, dan ini yang paling banyak disorot, adalah patokan untuk “item random berbayar” alias yang lebih dikenal sebagai loot box. Keberadaan fitur ini bakal membikin game otomatis mendapat rating minimal PEGI 16. Dalam beberapa kasus tertentu, apalagi bisa mencapai PEGI 18. Ini adalah pukulan telak bagi banyak game terkenal yang mengandalkan loot box sebagai sumber pendapatan utama. Bayangkan franchise seperti EA Sports FC, yang selama ini mempunyai rating PEGI 3 (cocok untuk semua usia), bisa melonjak setidaknya ke PEGI 16 hanya lantaran adanya sistem pembelian paket pemain random ini.

Ketiga, PEGI juga memperhatikan sistem “main sesuai janji” alias play-by-appointment. Ini merujuk pada sistem yang memberi hadiah lantaran kembali ke game, seperti misi harian. Game dengan sistem seperti ini bakal mendapat rating PEGI 7. Namun, jika sistem tersebut menghukum pemain lantaran tidak kembali—misalnya dengan menghilangkan konten alias mengurangi progres—ratingnya bakal naik menjadi PEGI 12. Terakhir, untuk keamanan gameplay online, game yang mempunyai fitur komunikasi yang sepenuhnya tidak terkendali (tanpa opsi pemblokiran alias pelaporan) bakal diberi rating PEGI 18.

Respons Regulator dan Dampak ke Industri

Pesan dari badan rating ini jelas: ini adalah upaya untuk membantu orang tua. “Dengan serangkaian kriteria rating usia yang diperbarui, PEGI bermaksud untuk membikin orang tua menyadari bahwa fitur-fitur tertentu dalam game kudu dinilai dengan cermat, dan bahwa perangkat bantu orang tua bisa menjadi asisten yang sangat membantu,” ujar Ketua Dewan PEGI, Beate Våje. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran dunia mengenai akibat psikologis dan finansial dari kreasi game yang manipulatif. Sebuah studi di Australia apalagi menunjukkan nyaris separuh gamer mengalami kerugian akibat pola kreasi semacam ini.

Loot box sendiri mempunyai sejarah panjang sebagai sumber pertentangan di kalangan regulator. Pada 2018, Belgia menentukan bahwa loot box adalah corak pertaruhan dan melarangnya. Negara-negara lain seperti Belanda juga mengambil langkah serupa untuk membatasi alias melarang sistem game ini. Larangan ini telah memaksa beberapa studio game membatasi akses ke titel mereka di wilayah-wilayah tertentu. Contoh nyatanya adalah Blizzard yang tidak meluncurkan game free-to-play-nya, Diablo Immortal, di Belgia dan Belanda lantaran norma setempat yang menyamakan loot box dengan perjudian. Di Amerika Serikat, tekanan juga terus berlanjut, dengan Jaksa Agung New York menggugat Valve mengenai praktik loot box.

Dampak dari kebijakan baru PEGI ini bakal terasa luas. Game-game online shooter yang mengandalkan loot box untuk kosmetik mungkin memandang rating mereka naik dari PEGI 12 ke PEGI 16. Bagi publisher besar, ini berfaedah kudu mempertimbangkan ulang strategi monetisasi untuk pasar Eropa. Mereka mempunyai pilihan: menghapus alias memodifikasi fitur-fitur yang bermasalah untuk mempertahankan rating usia yang lebih rendah dan jangkauan pasar yang lebih luas, alias tetap mempertahankannya dan menerima realita bahwa game mereka hanya untuk audiens yang lebih tua. Ini juga bisa memicu gelombang penyesuaian global, mirip dengan keputusan pemblokiran aplikasi oleh platform tertentu yang sering diikuti oleh perubahan kebijakan di tempat lain.

Di sisi lain, kebijakan ini juga membuka mata konsumen, terutama orang tua, tentang apa yang sebenarnya ada dalam game yang dimainkan anak-anak mereka. Selama ini, rating PEGI sering hanya dilihat dari sisi konten kekerasan alias bahasa kasar. Kini, ada dimensi baru: kreasi sistem game itu sendiri. Sebuah game dengan skematis animasi dan tanpa kekerasan pun bisa mendapat rating tinggi jika sistem ekonominya dianggap berpotensi membahayakan. Fenomena imajinatif seperti loot box fisik yang dibuat oleh seorang gamer untuk pasangannya menunjukkan sungguh sistem ini telah meresap dalam budaya gaming, sekaligus menyoroti daya tarik dan kontroversinya.

Lantas, apa artinya bagi masa depan gaming? Regulasi dari PEGI ini bisa menjadi titik balik. Pengembang didorong untuk bereksperimen dengan model monetisasi yang lebih transparan dan etis, yang tidak mengandalkan pemanfaatan psikologis. Inovasi bisa dialihkan ke konten yang substantif, cerita yang mendalam, alias gameplay yang betul-betul menarik, alih-alih sekadar memeras pemain melalui sistem kecanduan. Bagi pemain, ini adalah kemenangan untuk transparansi. Anda akhirnya bisa tahu, sebelum membeli, apakah sebuah game dirancang untuk menghibur Anda alias justru menjebak Anda dalam siklus pembelian yang tak berujung. Pada akhirnya, langkah PEGI ini bukan tentang membatasi kreasi, melainkan tentang memastikan bahwa bumi game tumbuh dengan tanggung jawab, melindungi yang paling rentan, dan tetap menjadi ruang yang menyenangkan bagi semua usia.

Selengkapnya