Perjalanan Kecil tentang Kebaikan yang Sangat Besar dalam ‘Where Is the Friend’s House?’

Aug 08, 2026 05:13 PM - 2 hari yang lalu 60

Ada movie yang memerlukan bentrok besar untuk berbincang tentang kemanusiaan, tetapi Abbas Kiarostami membuktikan bahwa sebuah kitab tulis yang salah terbawa pulang sudah cukup untuk menciptakan drama yang begitu berarti. “Where Is the Friend’s House?” (1987) adalah movie yang secara permukaan nyaris tidak mempunyai premis spektakuler: seorang anak laki-laki berumur delapan tahun berupaya menemukan rumah temannya untuk mengembalikan kitab tugas yang tidak sengaja terbawa.

Namun dalam kesederhanaan tersebut, Kiarostami menemukan sesuatu yang jauh lebih besar—sebuah cerita tentang tanggung jawab moral, persahabatan, ketakutan, kepatuhan, dan gimana bumi anak sering kali jauh lebih logis secara moral daripada bumi orang dewasa.

Film ini merupakan karya krusial dalam perkembangan New Iranian Cinema sekaligus movie pertama dari apa yang kemudian dikenal sebagai Koker Trilogy, dilanjutkan oleh “And Life Goes On” (1992) dan “Through the Olive Trees” (1994). BFI apalagi menempatkannya dalam jajak pendapat Sight and Sound 2022 sebagai salah satu movie terbaik sepanjang masa.

Cerita bermulai di sekolah dasar di desa Koker. Guru memperingatkan Mohammad Reza Nematzadeh lantaran berulang kali tidak mengerjakan tugas di kitab yang benar. Jika kesalahan tersebut terulang, dia bakal dikeluarkan dari sekolah. Setelah kelas selesai, Ahmed tanpa sengaja membawa pulang kitab tugas milik Mohammad.

Sesampainya di rumah, Ahmed menyadari kesalahannya. Ia mau segera mengembalikan kitab tersebut, tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Rumah Mohammad berada di desa tetangga, dan Ahmed sendiri tidak mengetahui alamatnya. Ibunya juga tidak memahami urgensi persoalan tersebut. Namun bagi Ahmed, situasinya sangat jelas: jika kitab itu tidak dikembalikan, temannya bisa mendapat masalah serius di sekolah.

Maka dimulailah perjalanan mini Ahmed.

Dari sisi script, Kiarostami menunjukkan keahliannya dalam menemukan drama dari sesuatu yang tampaknya sepele. Naskah tidak memerlukan bentrok artifisial. Taruhannya sudah cukup jelas dari perspektif seorang anak: seorang kawan terancam dihukum, dan Ahmed merasa bertanggung jawab untuk mencegahnya.

Kekuatan terbesar naskah justru berada pada perbedaan perspektif antara anak dan orang dewasa. Bagi orang dewasa, kitab tulis tersebut hanyalah benda. Bagi Ahmed, kitab itu adalah persoalan moral. Ia tidak bisa begitu saja mengabaikan akibat yang bakal diterima temannya.

Kiarostami tidak pernah menggurui penonton mengenai moralitas. Ia membiarkan tindakan Ahmed berbincang sendiri. Di sepanjang perjalanan, beragam orang dewasa memberikan nasihat, perintah, alias cerita mereka sendiri, tetapi nyaris tidak ada yang betul-betul mendengarkan kebutuhan Ahmed. Ironisnya, anak yang dianggap belum memahami bumi justru menjadi karakter yang paling konsisten dalam menjalankan tanggung jawab.

Screenplay movie ini sangat ekonomis. Struktur ceritanya dibangun dari perjalanan, pencarian arah, dan pertemuan-pertemuan kecil. Ahmed acapkali bertanya mengenai rumah temannya, tetapi jawaban yang diterimanya sering kali tidak langsung alias justru membawanya ke arah lain.

Pengulangan tersebut bukan sekadar langkah memperpanjang durasi. Kiarostami menggunakan repetisi untuk membikin penonton merasakan pengalaman Ahmed. Kita ikut merasakan kebingungan, kelelahan, dan kecemasannya. Peta desa menjadi sesuatu yang kudu dipahami bukan hanya oleh karakter, tetapi juga oleh penonton.

Pada saat yang sama, setiap pertemuan memberikan potret mini mengenai masyarakat pedesaan Iran. Ada orang tua yang sibuk, pedagang, tukang kayu, pemilik rumah, hingga laki-laki tua yang mempunyai pandangan sendiri mengenai gimana anak kudu dididik. Cerita utama tetap sederhana, tetapi bumi di sekeliling Ahmed terasa semakin luas.

Plot movie ini mungkin menjadi tantangan terbesar bagi penonton yang terbiasa dengan narasi konvensional. Tidak banyak “kejadian” dalam pengertian tradisional. Ahmed hanya berjalan, bertanya, tersesat, kembali mencari, dan mencoba lagi.

Namun justru itulah inti filmnya. Kiarostami memahami bahwa bagi seorang anak, perjalanan beberapa kilometer dapat terasa seperti petualangan terbesar dalam hidup. Setiap jalan yang salah mempunyai konsekuensi. Setiap orang asing dapat menjadi sumber support alias kebingungan.

Pendekatan tersebut juga menciptakan ketegangan yang unik. Penonton mengetahui apa yang kudu dilakukan Ahmed, tetapi bumi di sekelilingnya terus menghalanginya. Tidak ada villain dalam makna tradisional. Hambatan terbesar Ahmed adalah ketidakpedulian, birokrasi mini kehidupan sehari-hari, geografi, dan ketidakmampuan orang dewasa memahami kenapa persoalan tersebut begitu krusial baginya.

Dalam aspek sinematografi, Farhad Saba menggunakan pendekatan yang sederhana namun sangat efektif. Kamera tidak berupaya menjadikan pedesaan Iran sebagai kartu pos eksotis. Lanskap ditampilkan sebagai ruang hidup yang nyata. Jalan tanah, rumah-rumah sederhana, bukit, pepohonan, dan pagar menjadi bagian dari bumi Ahmed.

Salah satu gambar paling ikonik adalah jalan berkelok berbentuk zig-zag di lereng bukit. Jalan tersebut berulang kali muncul dalam perjalanan Ahmed dan secara perlahan berubah menjadi simbol perjalanan moralnya. Ia kudu terus bergerak melalui struktur bumi yang sudah ditentukan orang dewasa, tetapi mempunyai tujuan yang berasal dari kesadarannya sendiri.

Kamera juga sering menempatkan Ahmed dalam lanskap yang lebih luas. Tubuh kecilnya tampak nyaris tenggelam di antara rumah dan bukit. Secara visual, komposisi tersebut memperlihatkan sungguh kecilnya seorang anak di tengah bumi orang dewasa. Namun secara moral, justru Ahmed yang mempunyai tujuan paling jelas.

Kiarostami juga terkenal lantaran style penyutradaraannya yang minimalis. Ia tidak menggunakan pergerakan kamera berlebihan alias teknik visual yang mencolok. Pendekatan ini membikin movie terasa dekat dengan dokumenter. Penonton seolah hanya mengawasi kehidupan yang sedang berlangsung.

Dari sisi akting, Babek Ahmed Poor memberikan penampilan yang menjadi pusat kekuatan film. Sebagai tokoh anak, dia tidak terlihat seperti sedang “berakting”. Ekspresinya spontan, gerakannya natural, dan rasa cemasnya terasa autentik.

Kiarostami tidak memperlakukan Ahmed sebagai anak mini yang kudu terus terlihat kocak alias menggemaskan. Ia memberinya ruang untuk menjadi keras kepala, takut, bingung, dan frustrasi. Justru lantaran itu, Ahmed terasa seperti anak sungguhan.

Menariknya, sebagian besar pemain movie bukanlah tokoh profesional. Pendekatan ini membantu mempertahankan karakter naturalistik yang menjadi karakter krusial sinema Kiarostami.

Karakter orang dewasa juga ditulis dan dimainkan dengan langkah yang tidak sederhana. Mereka bisa tampak menyebalkan, tetapi jarang betul-betul jahat. Mereka mempunyai bumi dan persoalan sendiri. Inilah salah satu observasi sosial paling tajam dalam film: orang dewasa sering kandas membantu anak bukan lantaran mereka kejam, tetapi lantaran mereka terlalu sibuk dengan patokan dan urusan mereka sendiri.

Salah satu segmen krusial adalah percakapan mengenai disiplin antara kakek Ahmed dan seorang laki-laki tua lainnya. Orang-orang dewasa berbincang tentang gimana anak kudu dididik melalui kepatuhan dan hukuman, sementara Ahmed sendiri sedang berupaya melakukan tindakan yang secara moral jauh lebih bertanggung jawab: memperbaiki kesalahannya dan melindungi temannya. Kontras tersebut menjadi salah satu kritik paling lembut Kiarostami terhadap otoritarianisme dalam pendidikan dan keluarga.

Musik dan sound design juga digunakan dengan sangat hemat. Kiarostami tidak mengandalkan skor dramatis untuk memberi tahu penonton kapan kudu merasa tegang alias sedih. Suara langkah kaki, percakapan, angin, dan lingkungan menjadi bagian krusial dari pengalaman. Kesederhanaan ini membikin bumi movie terasa semakin nyata.

Ada kalanya ritme “Where Is the Friend’s House?” terasa terlalu lambat. Bagi penonton yang terbiasa dengan struktur tiga babak dan perkembangan bentrok yang cepat, pengulangan perjalanan Ahmed dapat terasa repetitif. Bahkan sejumlah ulasan penonton mengakui bahwa movie ini memerlukan kesabaran lantaran pendekatannya yang sangat observasional.

Namun, memperlakukan kelambatan tersebut sebagai kelemahan absolut berfaedah mengabaikan tujuan artistiknya. Kiarostami mau penonton mengalami perjalanan tersebut, bukan sekadar mengetahui hasil akhirnya. Durasi perjalanan adalah bagian dari makna.

Yang paling mengesankan adalah gimana movie ini memperlakukan anak sebagai subjek moral. Ahmed tidak mempunyai kekuatan, uang, status, alias pengetahuan tentang dunia. Ia apalagi tidak mempunyai alamat komplit temannya. Namun dia mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki sebagian orang dewasa di sekelilingnya: kesadaran bahwa kesalahan kudu diperbaiki.

Pada akhirnya, “Where Is the Friend’s House?” bukanlah movie tentang menemukan sebuah rumah. Ini adalah movie tentang memahami apa makna menjadi seorang teman.

“Where Is the Friend’s House?” adalah karya yang sangat sederhana sekaligus sangat dalam. Kiarostami tidak memerlukan plot rumit, perbincangan filosofis, alias visual spektakuler untuk berbincang tentang moralitas. Ia cukup mengikuti seorang anak melangkah melewati desa untuk mengembalikan sebuah buku.

Kekuatan movie ini terletak pada kepercayaannya terhadap penonton. Ia tidak menjelaskan makna setiap adegan, tidak memaksakan emosi, dan tidak memberikan konklusi moral secara eksplisit. Sebaliknya, dia membiarkan kita memandang bumi melalui mata seorang anak dan menyadari bahwa tindakan mini yang dilakukan dengan ketulusan dapat mempunyai berat moral yang luar biasa.

Pesan moral

Film ini mengajarkan bahwa tanggung jawab tidak selalu datang dari perintah. Ahmed melakukan sesuatu lantaran dia memahami akibat dari kesalahannya dan peduli terhadap orang lain. Ia tidak memerlukan bingkisan alias pujian untuk melakukan perihal yang benar.

Pada saat yang sama, movie mengingatkan bahwa anak-anak tidak selalu memerlukan lebih banyak aturan; terkadang mereka memerlukan orang dewasa yang mau mendengarkan. Dunia Ahmed menunjukkan ironi sederhana: orang dewasa terus berbincang tentang disiplin, sementara seorang anak justru memperlihatkan makna tanggung jawab melalui tindakannya.

Dampak budaya

“Where Is the Friend’s House?” merupakan salah satu movie yang membantu memperkenalkan sinema Iran modern kepada penonton internasional dan menjadi movie pertama dalam Koker Trilogy. Karya ini juga memperlihatkan gimana sinema dapat menemukan universalitas melalui perincian lokal. Penonton tidak perlu mengenal desa Koker, sistem pendidikan Iran, alias kehidupan pedesaan tahun 1980-an untuk memahami kekhawatiran Ahmed ketika temannya berada dalam masalah.

Pengaruh Kiarostami kemudian terasa dalam perkembangan sinema arthouse global, terutama melalui pendekatan neorealistik, penggunaan tokoh nonprofesional, letak nyata, struktur naratif minimalis, serta kecenderungan untuk membiarkan realitas sehari-hari menjadi sumber drama. Film ini juga terus mendapat pengakuan kritis; dalam jajak pendapat Sight and Sound 2022, “Where Is the Friend’s House?” masuk dalam daftar movie terbaik sepanjang masa jenis kritikus maupun sutradara.

Pada akhirnya, warisan terbesar movie ini mungkin bukan teknik sinematik tertentu, melainkan kepercayaan bahwa cerita yang sangat mini dapat mengatakan sesuatu yang sangat besar. Di tangan Kiarostami, perjalanan seorang anak mencari rumah temannya menjadi perjalanan tentang empati, tanggung jawab, dan kemanusiaan—tanpa pernah kehilangan kesederhanaannya.

Selengkapnya