Sebab ketiga: Memperoleh ilmu yang bermanfaat
Setiap kali seorang hamba bertambah pengetahuan agamanya yang sesuai dengan Kitabullah ‘Azza Wa Jalla dan sunah Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam, maka bertambah pula kelapangan dadanya, serta bertambah baik keadaannya.
Ilmu yang ada dalam diri seorang hamba, bisa meninggikan (derajat) nya, membahagiakannya, memakmurkannya di bumi dan di akhirat, serta menjadi sinar pada langkahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepada kalian, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah bakal memberi kelapangan untukmu. Dan andaikan dikatakan, “Berdirilah kalian,” maka berdirilah, niscaya Allah bakal mengangkat (derajat) orang-orang yang beragama di antaramu dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti atas apa yang Anda kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Bersamaan dengan itu, bagi penuntut ilmu, ada surga yang dia bakal tinggal di dalamnya, taman yang berbunga, dan kebun yang berbuah. Ia temukan di dalamnya rasa bahagia, senang, tenang, dan suka cita. Ia petik darinya buah-buah terbaik dan beragam bunga-bunga.
Oleh lantaran itu, kita jumpai banyak di antara para ustadz yang menamai karya mereka di bagian ilmu-ilmu syar’i dengan apa yang mereka yakini dari sifat pengetahuan ini; seperti: raudhatul ‘uqala (taman para orang bijak), bustanul ‘arifin (kebun bagi para orang bijak), riyadhus shalihin (taman-taman orang-orang saleh), dan raudhul basim (taman orang yang tersenyum), serta nama lainnya yang merupakan nama yang menunjukkan makna-makna yang menggerakkan hati para penuntut pengetahuan menuju kepada ilmu.
Cukuplah dalam keistimewaan pengetahuan yang berfaedah ini bahwasanya dia bakal menjadikan para pemiliknya (para penuntut ilmu) menuju surga yang penuh kenikmatan. Sebagaimana Nabi yang mulia shalallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata,
مَن سَلكَ طَريْقا يَلْتَمِسُ فيه عِلْما سَهَّلَ اللهُ له به طَريْقا إلى الجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)
Sebab keempat: Kembali kepada Allah dan menghadap kepada-Nya dengan baik
Di antara karena lapangnya dada: kembali (tobat) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menghadap kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, serta menikmati ibadah kepada-Nya dan menaati-Nya Jalla wa ‘Ala.
Sesungguhnya alim dan ibadah adalah rehatnya hati, kesenangan diri, penyejuk mata, dan kebahagiaan dada.
Al–‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, “Dengan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencintai-Nya dengan sepenuh hati, menghadap kepada-Nya, menikmati ibadah kepada-Nya, maka tidaklah ada yang membikin dada menjadi sangat lapang selain dengan perihal tersebut. Sampai terkadang betul-betul dikatakan: jika saya di surga dengan kondisi seperti ini, maka sungguh saya berada dalam kehidupan yang nyaman.”
Contohnya, salat; sungguh salat itu menyejukkan mata, mengistirahatkan diri, menenangkan hati orang mukmin, sampai Nabi mengatakan,
قُمْ يا بِلالٍ فأَرِحْنا بالصَّلاةِ
“Berdirilah Bilal, istirahatkan kami dengan salat.“ (HR. Abu Dawud no. 4986)
Dan di sabda yang lain,
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي في الصَّلاةِ
“Penyejuk hatiku ada di dalam salat.” (HR. An-Nasa`i no. 3940)
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, dan ketika itu dia menyebut amal-amal orang yang melakukan kebajikan, “Hal pertama yang dilakukan oleh salah satu dari mereka ketika bangun tidur, adalah bersegera untuk wudu, lampau salat, seperti yang diperintahkan Allah. Ia melaksanakan tanggungjawab pada waktunya, dia sibuk membaca (Al-Quran), berzikir, hingga mentari terbit. Kemudian dia salat duha. Lalu dia pergi menuju tempat yang di situlah Allah tegakkan baginya sebab-sebab (lapang dada).
Jika sudah datang (waktu) salat zuhur, dia bersegera untuk bersuci, dan bersegera menuju saf yang pertama di masjid. Kemudian dia laksanakan tanggungjawab tersebut seperti yang diperintahkan, menyempurnakannya dengan (memenuhi) syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, sunah-sunahnya, dan hak-hak batinnya; (seperti) khusyuk, merasa diawasi, datang di hadapan Rabbnya. Maka ketika dia pergi dari tempatnya salat, dia betul-betul merasakan pengaruh (dari salat) pada hatinya, badannya, dan seluruh kondisinya yang nampak pada wajahnya, lisannya, personil tubunya. Ia menjumpai faedah salat di hatinya; ialah kembali kepada tempat yang kekal (akhirat), merasa tidak tenang dengan kehidupan yang penuh tipuan (dunia), sedikitnya sikap rakus, dan tidak mengejar dunia. Salatnya telah melarang dirinya dari perbuatan biadab dan munkar, serta membuatnya kangen berjumpa Allah, dan membuatnya terhindar dari setiap penghalang yang menghalanginya dari Allah.” (Thariqul Hijrataini, hal. 314-315)
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 2
***
Penerjemah: Evi Noor Azizah
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari kitab ‘Asyratu Asbabi Linsyirahi ash-Shadri, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, hal. 18-22.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·