Single Parent Wajib Waspada, 7 Red Flag Kantor yang Bisa Bikin Kerja Makin Berat

Insight Bunda Masa Kini Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 9 menit 34x dilihat
Single Parent Wajib Waspada, 7 Red Flag Kantor yang Bisa Bikin Kerja Makin Berat

Bagikan Postingan

Punya anak bukan berfaedah kurang profesional. Justru, budaya instansi yang tidak elastis bisa membikin keseharian single parent jauh lebih berat.

Anak tiba-tiba sakit dan kudu dijemput. Ada urusan sekolah yang tidak bisa diwakilkan. Pengasuh mendadak tidak bisa datang.

Sebagai orang tua, situasi seperti ini sebenarnya cukup membikin panik. Ada satu perihal yang mungkin ikut memenuhi kepala: “Kalau saya izin, bos bakal menganggap saya tidak profesional, nggak, ya?”

Di sinilah lingkungan kerja bisa membikin perbedaan besar.

UNICEF mendefinisikan family-friendly workplace sebagai tempat kerja yang kebijakan dan praktiknya membantu pekerja memenuhi tanggung jawab pekerjaan sekaligus keluarga. Bentuknya bisa berupa elastisitas kerja, cuti, support pengasuhan anak, hingga perlindungan bagi pekerja dengan tanggung jawab keluarga. UNICEF juga menekankan bahwa kebijakan seperti elastisitas kerja, cuti, dan support pengasuhan perlu diterapkan secara efektif agar betul-betul membantu pekerja dan keluarga.

BACA JUGA: Mengenal Parenting Fatigue pada Ibu Bekerja

Lalu, apa saja tanda instansi yang mungkin kurang ramah untuk single parent?

1. Katanya fleksibel, tetapi Anda dibuat merasa bersalah saat menggunakannya

Kantor mungkin punya kebijakan WFH alias jam kerja fleksibel. Namun, coba lihat praktik sehari-harinya.

Apakah tenaga kerja yang pulang tepat waktu dianggap kurang berdedikasi? Apakah orang yang bekerja dari rumah tetap diharapkan selalu online? Atau setiap kali meminta sedikit fleksibilitas, Anda justru merasa kudu memberikan penjelasan panjang?

Ini bisa menjadi red flag.

Sebab, elastisitas bukan hanya soal ada alias tidaknya kebijakan, tetapi apakah tenaga kerja betul-betul merasa kondusif untuk menggunakannya.

Red flag-nya: elastisitas tersedia di atas kertas, tetapi secara budaya justru dianggap sebagai tanda kurangnya komitmen.

UNICEF dalam toolkit Building Family-Friendly Workplaces juga memasukkan elastisitas waktu kerja sebagai salah satu praktik yang dapat membantu pekerja memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk melalui elastisitas jam mulai dan selesai kerja serta opsi kerja yang lebih elastis ketika pekerjaan memungkinkan.

Photo by Microsoft Copilot on Unsplash

2. Anak sakit, tetapi Anda yang dianggap bermasalah

Namun, jika setiap kali Anda kudu menghadapi keadaan darurat keluarga, respons pertama dari pemimpin adalah mempertanyakan komitmen Anda terhadap pekerjaan, ini patut diperhatikan.

Misalnya, Anda mulai sering mendengar:

“Kamu kan punya anak, jadi bakal sering izin.”

“Kalau begini terus, kerjaan siapa yang handle?”

“Memangnya nggak ada orang lain yang bisa urus?”

Masalahnya bukan ketika perusahaan perlu memastikan pekerjaan tetap berjalan. Itu wajar.

Yang menjadi masalah adalah ketika tanggung jawab sebagai orang tua otomatis dianggap sebagai kelemahan profesional.

UNICEF sendiri memasukkan perlindungan dari diskriminasi mengenai tanggung jawab family sebagai bagian dari pendekatan tempat kerja yang ramah keluarga. UNICEF juga menekankan bahwa perlindungan tersebut berangkaian dengan kesempatan kerja dan keahlian pekerja untuk menjalankan tanggung jawab family tanpa kehilangan kesempatan profesional.

3. Lembur mendadak dianggap sebagai bukti loyalitas

“Bisa stay sampai malam?”

Kalau pertanyaan ini hanya muncul sesekali lantaran kondisi tertentu, tentu berbeda.

Tetapi jika lembur mendadak sudah menjadi budaya dan tenaga kerja yang tidak bisa selalu tinggal sampai malam dianggap kurang loyal, single parent bisa berada dalam posisi yang jauh lebih sulit.

Bukan lantaran mereka tidak mau bekerja keras.

Melainkan lantaran setelah jam kerja selesai, ada tanggung jawab lain yang juga tidak bisa begitu saja ditinggalkan.

OECD telah lama menyoroti pentingnya gimana pengaturan kerja di level perusahaan membantu pekerja menggabungkan pekerjaan dengan tanggung jawab keluarga, termasuk pada family dengan orang tua tunggal.

Red flag: karyawan yang selalu tersedia setelah jam instansi dianggap lebih committed daripada mereka yang menyelesaikan pekerjaan dengan baik tetapi mempunyai pemisah waktu kerja yang jelas.

BACA JUGA: Beasiswa S2 dan S3 untuk Perempuan, Ibu Rumah Tangga, dan Orang Tua Bekerja

4. Kantor lebih menghargai “selalu online” daripada hasil kerja

Kalau ukuran tenaga kerja yang baik adalah siapa yang paling sigap membalas WhatsApp, paling lama memperkuat di kantor, alias paling sering datang di meeting di luar jam kerja, budaya kerja seperti ini bisa melelahkan siapa saja—terutama orang tua.

Bayangkan pekerjaan Anda sudah selesai dengan baik, tetapi Anda tetap dianggap kurang produktif hanya lantaran tidak membalas chat pada pukul 10 malam.

Kerja selesai semestinya lebih krusial daripada sekadar terlihat selalu tersedia.

Kantor yang sehat idealnya mempunyai ekspektasi yang jelas mengenai jam kerja, komunikasi, dan sasaran yang kudu dicapai. Dalam toolkit UNICEF 2025, salah satu arah pengembangan kebijakan kerja ramah family adalah bergeser dari sistem yang semata-mata berbasis waktu menuju penilaian berasas hasil alias target, ketika jenis pekerjaan memungkinkan.

Photo by Helena Lopes on Unsplash

5. Status sebagai single parent dianggap sebagai “minus” dalam karier

Ini red flag yang lebih serius.

Misalnya, seorang tenaga kerja tidak dipilih untuk proyek besar lantaran dianggap bakal susah bekerja ekstra setelah mempunyai anak.

Atau kandidat single parent langsung diasumsikan lebih sering izin.

Padahal, belum tentu demikian.

UNICEF dalam panduannya mengenai tempat kerja ramah family juga menekankan pentingnya perlindungan dari diskriminasi berasas tanggung jawab keluarga. Salah satu rekomendasinya adalah memastikan wanita tidak didiskriminasi berasas kehamilan, status sebagai ibu, alias tanggung jawab keluarga, termasuk dalam kondisi kerja dan kesempatan karier.

Punya anak bukan ukuran keahlian seseorang menyelesaikan pekerjaan.

Yang semestinya menjadi pertimbangan adalah kompetensi, performa, pengalaman, dan keahlian menjalankan tanggung jawab pekerjaan.

BACA JUGA: Ide Outfit Hijab Ibu Bekerja yang Profesional, Smart Casual, dan Modis

6. Benefit untuk orang tua ada, tetapi orang takut menggunakannya

Ini salah satu perihal yang sering luput.

Sebuah perusahaan mungkin mempunyai libur keluarga, parental leave, alias elastisitas kerja. Secara kebijakan, terlihat sangat baik.

Tetapi gimana jika orang yang menggunakan benefit tersebut malah dicap “kurang ambisius”?

Atau tenaga kerja merasa kariernya bisa tersendat jika terlalu sering menggunakan kewenangan yang sebenarnya memang diberikan perusahaan?

Artinya, ada jarak antara policy dan culture.

UNICEF dalam toolkit Building Family-Friendly Workplaces menekankan bahwa perusahaan perlu mengimplementasikan kebijakan ramah family secara efektif, bukan sekadar memilikinya. Dukungan manajemen dan penerapan kebijakan dalam praktik menjadi bagian krusial agar elastisitas betul-betul bisa digunakan pekerja.

Jadi, jangan hanya bertanya: “Ada benefit apa?”

Tanyakan juga:

“Orang-orang di sini betul-betul menggunakan benefit itu nggak?”

Photo by Helena Lopes on Unsplash

7. Tidak ada ruang untuk membicarakan kebutuhan family secara profesional

Tidak semua kebutuhan single parent kudu dipenuhi perusahaan.

Namun, semestinya ada ruang untuk berdiskusi.

Misalnya, Anda tetap bisa menyelesaikan pekerjaan, tetapi memerlukan perubahan jam meeting lantaran kudu menjemput anak.

Atau Anda memerlukan WFH satu hari ketika pengasuh tidak bisa datang.

Kantor yang sehat tidak kudu selalu menjawab “iya”. Tetapi semestinya ada ruang untuk membicarakan solusi tanpa membikin tenaga kerja merasa bersalah.

Sebab, family-friendly workplace bukan berfaedah instansi mengutamakan family di atas pekerjaan.

Justru tujuannya adalah membikin pekerja bisa menjalankan dua tanggung jawab tersebut secara lebih realistis. UNICEF juga menempatkan support bagi pekerja untuk menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan sebagai bagian dari praktik kerja ramah keluarga.

BACA JUGA: Ide Penghasilan Tambahan untuk Ibu Rumah Tangga Biar Makin Mandiri Finansial

Jadi, seperti apa instansi yang lebih ramah untuk single parent?

single parent

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Hal-hal yang lebih sederhana justru bisa menjadi indikator:

  • Jam kerja dan ekspektasi kerja jelas.
  • Fleksibilitas betul-betul bisa digunakan.
  • Ada prosedur untuk kondisi darurat keluarga.
  • Kinerja dinilai berasas hasil, bukan sekadar availability.
  • Atasan terbuka terhadap diskusi.
  • Status sebagai orang tua tidak digunakan untuk menilai profesionalitas.
  • Benefit family dapat digunakan tanpa stigma.

UNICEF menyebut sejumlah praktik seperti paid leave, flexible work arrangements, childcare support, dan support bagi orang tua sebagai bagian dari kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga. Toolkit UNICEF 2025 juga memberikan contoh elastisitas jam kerja, kerja jarak jauh, cuti, dan support pengasuhan sebagai bagian dari penerapan family-friendly workplace.

BACA JUGA: 9 Coworking Space di Jabodetabek yang Bikin Kerja Semakin Nyaman

Apakah instansi yang ketat otomatis tidak ramah untuk single parent?

Tidak.

Yang perlu diperhatikan adalah gimana patokan tersebut diterapkan.

Kalau aturannya jelas dan bertindak untuk semua orang, itu berbeda dengan situasi ketika single parent terus-menerus diberi label “sulit diandalkan” hanya lantaran mempunyai anak.

Begitu pula dengan lembur.

Lembur sesekali bukan otomatis red flag. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika lembur menjadi ukuran loyalitas dan tidak ada ruang untuk membicarakan kebutuhan yang realistis.

Kalau menemukan red flag ini, haruskah langsung resign?

Sebelum mengambil keputusan besar, coba lihat apakah masalahnya berasal dari satu atasan, satu tim, alias memang budaya perusahaan secara keseluruhan.

Anda juga bisa mulai dengan:

1. Tanyakan kebijakan secara jelas.
Cari tahu apa yang sebenarnya diperbolehkan perusahaan.

2. Bicarakan kebutuhan secara konkret.
Jelaskan solusi yang memungkinkan pekerjaan tetap berjalan.

3. Perhatikan responsnya.
Apakah pemimpin mencari solusi alias justru membikin Anda merasa bersalah?

4. Lihat polanya.
Satu kejadian jelek belum tentu menggambarkan keseluruhan budaya kantor.

BACA JUGA: 6 Alasan Kenapa Lamaran Kerja Ditolak HRD

FAQ: Kantor yang Ramah untuk Single Parent

Photo by charlesdeluvio on Unsplash

Apa karakter instansi yang ramah untuk single parent?

Ciri utamanya adalah adanya lingkungan kerja yang memungkinkan tenaga kerja menjalankan tanggung jawab pekerjaan dan family secara realistis, misalnya melalui elastisitas kerja, libur yang memadai, komunikasi terbuka, dan tidak adanya diskriminasi lantaran tanggung jawab keluarga.

Apakah single parent memerlukan perlakuan unik di kantor?

Tidak selalu. Yang lebih krusial adalah akses terhadap kebijakan dan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawab pekerjaan sekaligus pengasuhan tanpa mendapat stigma.

Apakah sering lembur berfaedah instansi tidak ramah untuk single parent?

Tidak otomatis. Lembur bisa menjadi bagian dari pekerjaan tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah apakah lembur merupakan kondisi sesekali alias sudah menjadi ekspektasi rutin dan ukuran loyalitas karyawan.

Apa yang kudu ditanyakan saat interview jika saya single parent?

Anda bisa menanyakan jam kerja, kebijakan WFH alias flexible working, ekspektasi di luar jam kantor, kebijakan cuti, dan gimana perusahaan menangani keadaan darurat keluarga. Pertanyaan tersebut relevan untuk memahami budaya kerja tanpa kudu menjadikan status family sebagai konsentrasi utama.

Punya anak bukan berfaedah kurang profesional

Single parent mungkin mempunyai tanggung jawab yang berbeda dari tenaga kerja lain.

Tetapi berbeda bukan berfaedah kurang mampu.

Tempat kerja yang sehat semestinya menilai seseorang dari keahlian dan hasil kerjanya, bukan dari dugaan tentang gimana status keluarganya bakal memengaruhi performa.

Pertanyaannya bukan:

“Apakah single parent bisa menjadi tenaga kerja yang baik?”

Tetapi:

“Apakah tempat kerja memberi kesempatan bagi karyawannya untuk menjadi ahli sekaligus tetap menjadi orang tua?”

Kalau jawabannya terus-menerus membikin Anda merasa kudu memilih salah satunya, mungkin memang sudah waktunya mengevaluasi kembali tempat kerja tersebut.

Cover: Photo by Microsoft Copilot on Unsplash

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini