Allah Ta’ala telah membuka pintu ibadah seluas-luasnya, baik melalui jalur ibadah murni (mahdhah) maupun kegiatan harian (ghairu mahdhah) yang diniatkan secara benar. Rasulullah ﷺ berfirman dalam sebuah sabda yang fundamental,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanya bakal dibalas berasas apa yang dia niatkan.” [1]
Terkait pembahasan niat di atas, ada satu kejadian yang perlu kita renungkan bersama. Fenomena ini kerap muncul dari pernyataan sebagian pakar, politisi, akademisi, kalangan profesional, maupun cerdas pandai saat berbincang di ruang publik. Bahkan, tanpa sadar dia sering merayap ke dalam obrolan ringan kita selaku rakyat biasa, di ruang tongkrongan alias di sela-sela perbincangan mini berbareng sahabat dan keluarga.
Potret nasihat kepercayaan oknum tokoh publik
Mari kita telaah dengan jujur. Dalam perbincangan kita dengan orang lain, adakalanya kita mendapatkan momen untuk memotivasi orang lain, baik berupa dorongan duniawi yang positif maupun nasihat seputar kepercayaan dan akhlak. Saat kita mendapatkan kesempatan untuk memotivasi urusan dunia, kadang kita begitu antusias membakar jiwa mereka demi mencapai ambisi. “Ayo kerja keras, kerja cerdas! Kita kudu adaptif dan solutif! Dunia terus berubah, dia tidak bakal menunggu kita. Kita kudu menyesuaikan diri alias bakal tertinggal,” maupun motivasi lainnya. Kalimat ini tidak salah. Namun, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.
Masalah muncul ketika orang yang sama mendapat kesempatan memberikan sepatah dua patah kata nasihat agama, mari kita simak apa yang disampaikan, “Aktivitas duniawi kita juga bisa menjadi ibadah di sisi Allah jika kita meniatkannya.” Terkadang kalimat ini pun hanya muncul beberapa menit dari keseluruhan pidato yang banget panjang itu. Setelahnya, dilanjutkan pembahasan yang kebanyakan isinya adalah seputar keduniaan. Bahkan, kerap kali kalimat tadi disambung dengan dorongan semacam, “Jangan jadi ritualis! Beragama jangan sekadar ritual saja. Bukankah selain ada hablumminallah, juga ada hablumminannas?” Meskipun bisa saja kita bertanya balik, “Bukankah selain ada hablumminannas, juga ada hablumminallah?”
Sekali lagi, nasihat di atas betul secara tekstual. Namun, dikhawatirkan semua itu hanya kalimatul haq yuradu biha al-bathil (perkataannya benar, tetapi maksud lembut di baliknya adalah sebuah kekeliruan). Kiranya mau jujur, mari lihat skala prioritasnya. Saat membicarakan dunia, kita membakar semangat orang lain untuk mengejarnya, sedangkan saat menyampaikan nasihat agama, secara terselubung lagi-lagi kita justru mendorong orang untuk konsentrasi pada dunia! Alhasil, semua yang keluar dari lisan kita adalah dunia. Jarang sekali ada nasihat yang murni terlepas bebas dari urusan keduniaan!
Barangkali kita berdalih, “Saya bukan ustaz alias kiai, saya tidak mahir menyampaikan aliran agama. Biar ahlinya saja.” Pertanyaannya, bukankah menyampaikan aliran tentang menjaga niat dalam kegiatan dunia, serta konsep hablumminallah dan hablumminannas, juga merupakan bagian dari aliran agama? Mengapa kita tebang pilih? Lagipula, kiranya oknum ini merasa bukan ahlinya, lantas kenapa berkenan naik ke atas mimbar di hadapan umat saat momen-momen ibadah? Padahal, banyak aliran kepercayaan yang sangat sederhana untuk disampaikan tanpa kudu menunggu menjadi ustaz terlebih dahulu.
Menyampaikan nasihat kepercayaan bukan hanya tugas ustaz dan kyai, melainkan tanggung jawab moral setiap orang yang mempunyai iman. Ia adalah bukti pembeda antara hamba yang beruntung dengan mereka yang bangkrut. Allah Ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, selain orang-orang yang beragama dan mengerjakan amal serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Maka, sekali lagi, jujurlah pada diri sendiri. Dan yang terpenting, jujurlah kepada Allah! Apakah betul kegiatan duniawi kita sudah betul-betul diniatkan sebagai corak penghambaan kepada-Nya, alias dia hanyalah dalih agar kita bisa terus terobsesi pada bumi tanpa merasa bersalah?
Baca juga: Aktivitas Dunia Bisa Jadi Ibadah: Tulus alias Modus?
Sebegitu sempurnakah bumi di mata kita?
Lagipula, kenapa kita begitu tergila-gila pada bumi seolah dia begitu sempurna? Bukankah bumi ini banyak lelahnya? Semakin dewasa, semakin banyak tuntutan yang menghimpit, semakin banyak keputusan pahit yang kudu diambil. Hidup di bumi ini sungguh menguras energi. Lantas, bukankah kita adalah umat yang meyakini bahwa salat adalah tempat rehat dari segala kesulitan dan keletihan itu? Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu,
يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” [2]
Lalu, mana rayuan kita kepada sesama untuk menunaikan salat? Mengapa hanya strategi sukses bumi yang terus kita gaungkan?
Bukankah hidup ini penuh masalah yang memusingkan kepala? Sedangkan tidak ada satu kitab pun yang sanggup menjadi solusi tuntas selain Al-Qur’an? Maka, mana rayuan kita untuk membaca dan merenungi maknanya?
Bukankah bumi ini terlalu banyak sakit hatinya? Ketidakadilan di mana-mana, kezaliman datang dari segala arah. Ketidaktenangan yang sering menghantui, sesal atas masa lampau dan resah bakal masa depan. Padahal, tidak ada yang bisa menenangkan hati selain berzikir kepada Allah.
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)
Selalu motivasi bumi yang disampaikan, entah di mana rayuan zikir itu disembunyikan. Bukankah firman Allah itu benar?
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا
“Dan siapakah yang lebih betul perkataannya daripada Allah?” (QS An-Nisa: 122)
Pembaca sekalian, di bumi yang penuh bakal perihal di luar kendali kita ini, bukankah salah satu tujuan utama kita banting tulang berjibaku dengan bumi adalah untuk mencari rezeki? Dan bukankah tidak ada yang bisa menolong dan memberikan kita rezeki selain Allah Ta’ala? Lantas, mana rayuan kita untuk isti’anah, untuk meminta tolong kepada-Nya? Mana rayuan untuk mengetuk pintu Ar-Razzaq melalui doa? Ingat! Ad-du’a silahul mukmin, doa adalah senjata orang yang punya iman.
Maka, prinsip yang betul adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah Anda melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS Al-Qasas: 77)
Perhatikan, kejar akhirat, dan jangan lupakan dunia. Jangan dibalik! Alhasil, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan nasihat agama, ajaklah orang untuk mengenal Allah terlebih dahulu. Ajak mereka salat, ajak mereka berzikir dulu. Barulah setelah itu, dengan kadar yang pas kita sorong mereka untuk giat menggapai bumi dengan tetap menjaga niatnya. Semua ada porsinya masing-masing. Alhasil, baik ibadah alambaka maupun kegiatan bumi kita, 24 jam dalam sehari semuanya berbobot ibadah.
Perlu dipahami bahwa tulisan ini adalah corak kritik sosial dan nasihat tulus guna mewujudkan perbaikan bersama. Semoga Allah memberikan kita taufik agar bisa jujur kepada Allah Ta’ala, juga kepada diri kita sendiri. Wallahu waliyyut taufiq.
Baca juga: Beramal Ibadah Demi Kebahagiaan Dunia, Berpahalakah?
***
Penulis: Reza Mahendra
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
[1] HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.
[2] HR. Abu Dawud no. 4985, dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Zad Al-Ma’ad, 1: 256.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·