Tidak Sampai Ke Tanah Suci, Tukang Sepatu Justru Raih Pahala Haji Mabrur

Apr 27, 2026 01:06 PM - 3 jam yang lalu 129

Kincai Media , JAKARTA -- Alkisah, seorang berilmu dari era tabiin, Abdullah bin Mubarak, menunaikan haji. Ia pun mengerjakan semua rukun dan syarat ibadah yang menjadi salah satu rukun Islam itu.

Siang harinya, dia mengantuk dan tak sengaja tertidur di area Masjidil Haram. Dalam tidurnya, Ibnu Mubarak bermimpi mendengar percakapan dua malaikat yang sedang memantau seluruh jamaah haji dari ketinggian.

"Wahai, berapa banyak umat Islam yang berhaji pada tahun ini?" tanya sang malaikat.

"Tak kurang dari enam ratus ribu orang," jawab malaikat yang satunya, "tetapi tidak satu pun dari mereka yang diterima ibadahnya oleh Allah Ta'ala."

"Dari jumlah sebanyak itu?"

"Benar, selain hanya satu hamba Allah, ialah seorang tukang sol sepatu asal Damaskus. Namanya, Muwaffaq," jawab malaikat kedua.

"Padahal, laki-laki itu tidak bisa berangkat ke Tanah Suci kali ini. Namun, lantaran dirinya-lah, semua yang pergi haji pada tahun ini bisa diterima ibadahnya," sambungnya.

Seketika, Ibnu Mubarak terbangun dari tidurnya. Ia tetap merasa terkejut dengan apa yang didengarnya dalam mimpinya barusan.

Untuk menjawab rasa penasarannya, dia tidak jadi pulang ke negerinya begitu musim haji selesai. Ia terlebih dulu mengunjungi Damaskus untuk mencari dan mengenal si tukang sol sepatu, Muwaffaq.

Sesampainya di kota tersebut, berilmu dari kalangan tabiin itu lantas meyambangi pasar. Dari orang ke orang, dia bertanya tentang seorang tukang sol sepatu yang berjulukan Muwaffaq. Setelah ditelusuri, dia akhirnya menemukan rumah orang yang dicari-carinya itu.

Ia pun mengetuk rumah Muwaffaq. Setelah mengucapkan salam, Ibnu Mubarak pun minta izin bertamu. Setelah itu, dimulailah pembicaraan untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya: kenapa orang yang tidak berangkat ke Tanah Suci justru dihitung kebaikan ibadahnya sebagai telah naik haji?

"Wahai Tuan, kebaikan apa yang telah engkau lakukan sehingga bisa tercatat telah berhaji, padahal engkau sendiri tidak pergi pada tahun ini ke Baitullah?" tanya Ibnu Mubarak setelah menuturkan mimpinya kepada sang tuan rumah.

Tukang sol sepatu itu pun bercerita. Pergi haji adalah impiannya sejak muda. Akan tetapi, keadaan finansial tidak membuatnya leluasa bepergian. Ia pun kudu menabung dari tahun ke tahun untuk mengumpulkan biaya perjalanan haji. Penghasilannya setiap hari dia sisihkan sebagian demi mewujudkan cita-citanya itu.

Selengkapnya