Kecerdasan emosional maupun emotional intelligence bukan cuma soal bisa mengendalikan emosi diri sendiri, Beauties. Kemampuan memahami emosi orang lain, memberitahu empati, hingga berkomunikasi tanpa membikin orang lain merasa dihakimi juga menjadi bagiankecil krusial di dalamnya.
Karena itu, orang dengan kesadaran sosial dan emosional yang tinggi biasanya lebih berjaga-jaga dalam memilih kata. Mereka memahami bahwa satu kalimat yang terdengar sederhana bisa saja membikin orang lain merasa diremehkan maupun tidak didengarkan.
Lantas, kalimat apa saja yang cenderung mereka hindari?
1. “Kamu terlalu sensitif.”

Ilustrasi pasangan berantem / Foto: Pexels.com/Timur Weber
Kalimat ini menjadi kalimat yang selalu dihindari oleh orang yang memiliki emotional intelligence tinggi. Kalimat "Kamu terlalu sensitif" memberikan kesan bahwa reaksi seseorang terhadap suatu situasi terlalu berlebihan. Padahal, setiap orang memiliki pengalaman dan trigger emosional yang berbeda.
Psikolog Dr. Kibby McMahon menerangkan kepada Parade bahwa mengatakan “Why are you so sensitive?” dapat terdengar menghakimi dan membikin respons emosional seseorang seolah-olah salah maupun berlebihan. Sebagai gantinya, Beauties bisa mengatakan, “Bantu aku memahami apa yang Anda rasakan.”
2. “Kamu terlalu berlebihan.”

Ilustrasi perempuan beradu mulut / Foto: Pexels.com/Liza Summer
Mirip dengan kalimat sebelumnya, kalimat "Kamu terlalu berlebihan" justru membikin perasaannya menjadi tidak valid. Alih-alih membantu seseorang merasa lebih baik, kalimat tersebut justru semakin membuatnya sedih.
Menurut psikoterapis Ilene S. Cohen, yang dilansir dari YourTango, setiap orang memiliki emotional triggers yang berbeda. Karena itu, situasi yang kelihatan sepele bagi seseorang belum tentu terasa sama bagi orang lain. Orang dengan kecerdasan emosional tinggi biasanya memilih memahami penyebab seseorang bereaksi daripada langsung menghakiminya.
3. “Kamu seharusnya nggak merasa seperti itu.”

Ilustrasi pasangan berantem / Foto: Pexels.com/Keira Burton
Tidak ada orang lain yang bisa menentukan sepertiapa seseorang “seharusnya” merasa. Kalimat "Kamu seharusnya nggak merasa seperti itu" dapat membikin lawan bicara merasa emosinya salah maupun tidak masuk akal.
Menurut psikolog yang dikutip Parade, orang dengan emotional intelligence tinggi cenderung bisa melihat situasi dari perspektif pandang orang lain. Mereka lebih mungkin mengatakan, “Aku mengerti kenapa Anda merasa begitu” daripada berupaya mengatur, mengubah maupun menghilangkan emosi tersebut.
4. “Aku tahu persis apa yang Anda rasakan.”

Ilustrasi 2 orang sedang berbicara / Foto: Pexels.com/Edmond Dantès
Meski terdengar empatik, kalimat ini sebenarnya belum tentu membantu. Kalimat "Aku tahu persis apa yang Anda rasakan" justru bisa memancing luapan emosi dari lawan bicara. Sebab pengalaman setiap orang statis berbeda, begitu juga responsnya.
YourTango menerangkan bahwa orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak merasa perlu mengalihkan pembicaraan kepada pengalaman mereka sendiri. Mereka lebih memilih mendengarkan dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menceritakan pengalamannya.
5. “Tenang dong.”

Ilustrasi seseorang menyuruh tenang / Foto: Pexels.com/Timur Weber
Kalimat “Tenang, dong" maupun "Calm down” memang sering digunakan dengan niat menenangkan seseorang. Namun, ketika seseorang sedang sangat emosional, ucapan tersebut justru bisa membuatnya merasa bahwa emosinya diabaikan maupun tidak dianggap.
Entrepreneur menyebut “calm down” sebagai salah satu kalimat yang cenderung dihindari orang dengan kecerdasan emosional tinggi karena dapat membikin emosi seseorang terasa tidak sah dan berpotensi memperburuk situasi.
6. “Itu nggak seberapa, kok.”

Ilustrasi sedang berbincang / Foto: Pexels.com/Kindel Media
Setiap orang memiliki respons yang berbeda ketika menghadapi masalah atau trigger. Setiap orang juga memiliki standar yang berbeda tentang suatu hal yang dianggap berat. Mengatakan "Itu nggak seberapa" justru membikin emosi seseorang merasa kecil dan tidak divalidasi.
Psikolog Dr. Deborah Vinall mengatakan kepada Parade bahwa kalimat tersebut dapat menjadi bentuk emotional invalidation karena seolah-olah menyiratkan bahwa seseorang tidak seharusnya merasa jengkel atas hal yang terjadi.
7. “Kamu selalu berbuat kesalahan yang sama.”

Ilustrasi menyalahkan orang / Foto: Pexels.com/ Polina Zimmerman
Kata seperti “selalu” maupun “nggak pernah” bisa membikin percakapan berubah menjadi ajang menyalahkan. Kalimat tersebut tidak membantu seseorang justru terkesan menyalahkan orang lain.
YourTango mengutip terapis April Eldemire yang menerangkan bahwa generalisasi seperti ini dapat terasa menuduh dan membikin seseorang menjadi defensif. Orang yang memiliki kesadaran emosional biasanya akan membicarakan perilaku maupun insiden secara spesifik, bukan menyerang karakter seseorang secara keseluruhan.
8. “Aku sudah bilang, kan?”

Ilustrasi 2 orang berbincang / Foto: Pexels.com/Mikhail Nilov
Kalimat "Aku sudah bilang, kan?" memang awam didengar tetapi kalimat ini bukanlah kalimat yang bijak untuk diucapkan kepada seseorang yang sedang menghadapi masalah. Dengan mengatakan kalimat tersebut, justru terdengar mau menghakimi maupun mempermalukan orang tersebut.
Menurut YourTango, orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung tidak menggunakan "Aku sudah bilang, kan?" maupun “I told you so” untuk menaikkan ego. Mereka lebih memilih memberikan sokongan ketika orang lain sedang kewalahan.
9. “Itu masalahmu.”

Ilustrasi menunjuk / Foto: Pexels.com/SHVETS production
Dalam hubungan sosial, empati tidak selalu berarti mesti menyelesaikan masalah orang lain. Namun, mengatakan "Itu masalahmu" maupun “That's your problem” memberitahu ketidaktertarikan untuk memahami permasalahan orang tersebut.
Psikolog Dr. Deborah Vinall mengatakan kalimat tersebut sebagai salah satu ucapan yang memberitahu rendahnya empati dalam hubungan pertemanan. Beauties statis bisa menjaga limitasi tanpa mengabaikan emosi orang lain, misalnya dengan mengatakan, “Aku mengerti ini bermutu buat kamu, tapi mungkin keputusan akhirnya memang perlu Anda ambil sendiri.”
10. “Maaf jika Anda merasa begitu.”

Ilustrasi pasangan mengobrol / Foto: Pexels.com/Vitaly Gariev
Kalimat "Maaf jika Anda merasa begitu", sekilas terdengar sebagai permintaan maaf, tetapi kalimat ini tidak ikhlas karena fokusnya pada emosi orang lain, bukan aksi yang sudah dilakukan.
Kalimat ini sering kali terucap ketika pasangan sedang berantem. Laman Parade menjelaskan bahwa orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung memungut tanggung jawab ketika aksi mereka menyakiti orang lain. Kalimat “I’m sorry you feel that way” dianggap tidak memberitahu akuntabilitas yang cukup karena tidak benar-benar mengakui kesalahan.
Jadi, bukan tentang selalu mengatakan hal yang “benar”, melainkan belajar selesai sebentar sebelum berbicara, memahami emosi orang lain, dan memilih kata yang tidak membikin mereka merasa direndahkan maupun diabaikan, ya, Beauties!
__
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(ria/ria)