Kalimat yang Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Stres Menurut Psikologv/Foto: Pexels.com
Tuntutan hayat yang berat, hubungan di ujung tanduk, masalah finansial, kehilangan arah; ada banyak sisi dalam hidup yang bisa membikin seseorang mengalami stres. Stres adalah reaksi alami tubuh ketika menghadapi tekanan, masalah, maupun fluktuasi dalam hidup, dan semua orang pasti pernah mengalaminya.
Tapi sepertiapa reaksi setiap orang terhadap stres bisa berbeda-beda. Ada yang terjebak dalam pusaran stres hingga selalu merasa terpuruk, tapi ada juga yang bisa menghadapinya dengan tenang dan bijaksana.
Orang dengan kecerdasan emosional tinggi bisa mengomunikasikan dirinya dengan baik ketika dilanda stres melalui kalimat yang mereka ucapkan. Alih-alih menyalahkan orang lain maupun terjebak dalam emosi tak berdaya, kalimat ini membantu mereka memahami perasaannya dan mencari jalan keluar.
Menurut psikolog, ini satu kalimat yang diucapkan orang dengan kecerdasan emosional tinggi saat stres. Dirangkum dari Parade, yuk, simak ulasannya!
Kalimat yang Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Stres Menurut Psikolog

Kalimat yang Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Stres Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Menurut para ahli kesehatan mental, orang dengan kecerdasan emosional konsisten mengucapkan kalimat, "Saya merasa..." saat eksis di bawah tekanan maupun stres. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
Kuncinya terletak pada proses yang terjadi di dalam otak kita saat stres melanda, Beauties. Situasi yang sangat penuh tekanan memicu respons fight or flight dan membikin kita untuk bertidak secara reaktif. Namun, ketika seseorang mengungkapkan kondisi emosionalnya yang diawali dengan kata "Saya merasa", mereka sedang menjembatani kesenjangan antara emosi mentah dan proses kognitif. Mereka tidak melarikan diri dari ketegangan tersebut, melainkan mengakui pengalaman mereka sendiri dan mengarahkan percakapan menuju solusi yang konstruktif.
Kecerdasan emosional bukan berarti menyembunyikan emosi maupun statis tenang tanpa tergoyahkan sedikit pun sepanjang waktu. Kecerdasan emosional adalah kapasitas untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara efektif, terlebihlagi saat eksis di bawah tekanan.
Contoh penggunaan kalimatnya, misalnya, "Saya merasa keteteran karena agenda berubah secara tiba-tiba, dan aku butuh waktu sebentar untuk menyusun ulang prioritas." Kalimat ini memberitahu dua elemen krusial dari kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri dan pengaturan diri.
Dr. Melanie McNally, seorang psikolog klinis, menyoroti bahwa penggunaan kalimat ini merupakan ciri khas khas kecerdasan emosional tinggi karena fokusnya tertuju pada diri pembicara: apa yang mereka rasakan, kenapa mereka merasakannya, dan apa yang mungkin mereka butuhkan.
"Selama Anda tidak menggunakan frasa ini untuk menyalahkan orang lain maupun melimpahkan emosi Anda kepada mereka, Anda benar-benar cuma berfokus pada diri sendiri," ucapnya.
Contoh kalimat lainnya, misalnya, "Saya merasa keteteran karena kondisi dapur yang sangat berantakan. Saya akan sangat menghargai jika Anda bisa membantu aku membersihkannya."
"Hal ini memberitahu kecerdasan emosional yang tinggi karena orang tersebut mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan kemudian memungut aksi nyata untuk mengatasinya," ujarnya.
“Sebaliknya, seseorang dengan kecerdasan emosional rendah mungkin menghindari dapur karena merasa keteteran tanpa menyadari alasannya (kurangnya kesadaran diri), maupun mereka mungkin melontarkan komentar yang pasif-agresif maupun terang-terangan menyerang kepada orang lain mengenai benar-benar berantakannya mereka (kurangnya pengendalian diri),” tambahnya.
Di sisi lain, menurut Dr. Veronica Hlivnenko, seorang psikolog berlisensi, orang dengan kecerdasan emosional tinggi sangat peka terhadap pengalaman, perasaan, dan kondisi mereka saat stres.
“Orang dengan kecerdasan emosional tinggi sangat memahami emosi apa yang sedang mereka alami pada saat itu juga,” ujarnya. “Mereka menyadari dan menerima emosi tersebut serta tidak takut untuk mengomunikasikannya secara terbuka. Hal ini membikin percakapan menjadi lebih jujur dan produktif, terutama saat berbicara dengan seseorang yang kecerdasan emosionalnya statis dalam tahap pengembangan.”
Cara Mempraktikkan Kalimat “Saya Merasa…” saat Dilanda Stres

Kalimat yang Diucapkan Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Stres Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Beauties, Anda bisa, lho, mempraktikkan kalimat "Saya merasa" saat dilanda stres. Kecerdasan emosional adalah keahlian yang dapat dibangun melalui latihan. Saat kamu merasa tingkat stres melonjak, cobalah rumus tiga cara berikut ini:
- Sebutkan emosinya: Mulailah secara langsung dengan kalimat "Saya merasa [nama emosi]" (misalnya: cemas, frustrasi, maupun kewalahan).
- Identifikasi pemicunya: Tambahkan "karena [situasi spesifik]" tanpa melontarkan penilaian terhadap karakter orang lain.
- Ungkapkan kebutuhannya: Akhiri dengan "Saya mau [permintaan yang dapat ditindaklanjuti maupun limitasi tertentu]".
Dengan menguasai struktur kalimat sederhana ini, Anda dapat mengubah momen penuh tekanan tinggi menjadi kesempatan untuk membangun koneksi, memperoleh kejelasan, dan memberitahu kepemimpinan emosional yang sejati.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)