10 Prinsip Interaksi yang Setara antara Guru dan Murid

Portal Pendidikan Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 6 menit 18x dilihat
10 Prinsip Interaksi yang Setara antara Guru dan Murid

10 Prinsip Interaksi yang Setara antara Guru dan Murid

Hubungan antara pembimbing dan siswa merupakan salah satu faktor krusial yang menentukan kualitas proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran yang baik bukan hanya tentang penyampaian materi, pemberian tugas, atau pencapaian nilai akademik. Lebih dari itu, pembelajaran juga membutuhkan interaksi yang sehat, saling menghargai, dan memberikan ruang bagi pembimbing maupun murid untuk berkembang.

Dalam lingkungan pendidikan yang semakin menekankan pembelajaran berpusat pada murid, pembimbing tidak lagi hanya dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Guru berkedudukan sebagai pendidik, fasilitator, pembimbing, sekaligus mitra belajar yang membantu siswa menemukan dan mengembangkan potensinya.

Namun, hubungan yang setara bukan berfaedah pembimbing dan murid mempunyai peran serta tanggung jawab yang sama persis. Guru tetap memiliki kewenangan sebagai pendidik, sedangkan siswa tetap mempunyai tanggungjawab untuk belajar dan menghormati patokan sekolah. Kesetaraan lebih menekankan pada penghargaan terhadap martabat, pendapat, kebutuhan, dan potensi setiap individu.

Lalu, gimana langkah membangun hubungan yang setara antara pembimbing dan murid? Berikut 10 prinsip hubungan yang setara antara pembimbing dan murid yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

1. Saling Menghargai

Prinsip pertama adalah membangun budaya saling menghargai.

Guru menghargai siswa sebagai perseorangan yang memiliki pengalaman, karakter, kemampuan, dan langkah berpikir yang berbeda. Sebaliknya, murid juga menghargai pembimbing sebagai pendidik yang mempunyai tanggung jawab untuk membimbing mereka.

Menghargai tidak berfaedah pembimbing kudu selalu menyetujui semua pendapat murid. Guru tetap dapat memberikan koreksi alias teguran, tetapi dilakukan dengan langkah yang mendidik dan tidak merendahkan.

Contohnya, ketika jawaban siswa kurang tepat, guru dapat mengatakan: "Jawabanmu sudah menunjukkan pemikiran yang menarik. Mari kita lihat kembali bagian ini agar kita bisa menemukan jawaban yang lebih tepat."

Cara seperti ini membikin siswa merasa dihargai meskipun jawabannya belum benar.

2. Mau Mendengarkan Satu Sama Lain

Interaksi yang setara memerlukan keahlian untuk mendengarkan.

Guru tidak hanya berbincang dan menjelaskan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, pertanyaan, pengalaman, maupun kesulitannya.

Demikian pula, siswa perlu belajar mendengarkan penjelasan dan pengarahan guru.

Guru dapat membangun kebiasaan ini dengan memberikan waktu unik bagi siswa untuk berbicara.

Misalnya:

"Apa pendapat kalian tentang masalah ini?"

"Adakah pengalaman yang pernah kalian alami berkaitan dengan materi ini?"

"Bagian mana yang tetap susah dipahami?"

"Apa yang menurut kalian perlu diperbaiki?"

Ketika siswa merasa didengarkan, mereka bakal lebih percaya diri untuk terlibat dalam pembelajaran.

3. Menghargai Perbedaan Pendapat

Tidak semua siswa kudu mempunyai pendapat yang sama. Justru, keberagaman pendapat dapat menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga.

Guru perlu menciptakan suasana kelas yang memungkinkan murid menyampaikan pendapat tanpa takut ditertawakan alias langsung disalahkan.

Jika terdapat perbedaan pendapat, pembimbing dapat mengajak murid berbincang berasas argumen dan bukti.

Misalnya:

"Kita mempunyai dua pendapat yang berbeda. Mari kita lihat argumen dari masing-masing pendapat."

Dengan demikian, siswa belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, tetapi kesempatan untuk belajar.

4. Tidak Mempermalukan Murid

Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Karena itu, pembimbing perlu berhati-hati dalam memberikan koreksi.

Menegur siswa di depan teman-temannya dengan kata-kata yang merendahkan dapat membikin siswa merasa malu, kehilangan kepercayaan diri, bahkan enggan berperan-serta dalam pembelajaran.

Koreksi sebaiknya diarahkan pada perilaku atau pekerjaan yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi murid.

Hindari ungkapan seperti: "Kamu memang tidak bisa."

Lebih baik gunakan: "Bagian ini tetap perlu diperbaiki. Mari kita cari tahu berbareng apa yang membuatnya belum tepat."

Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan akibat yang besar terhadap perkembangan pola pikir murid.

5. Memberikan Kesempatan untuk Berpartisipasi

Interaksi yang setara memberikan kesempatan kepada murid untuk menjadi bagian aktif dalam proses pembelajaran.

Guru dapat melibatkan siswa dalam beragam aktivitas, seperti: menentukan topik diskusi; memilih corak tugas; mengemukakan pendapat; melakukan kerja kelompok; mempresentasikan hasil kerja; melakukan refleksi; memberikan masukan terhadap proses pembelajaran.

Dengan memberikan ruang partisipasi, siswa tidak hanya menjadi penerima instruksi, tetapi juga belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

6. Membangun Komunikasi yang Terbuka

Komunikasi yang terbuka membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat antara pembimbing dan murid.

Guru perlu menciptakan suasana di mana siswa merasa aman untuk menyampaikan kesulitan, kebingungan, alias pendapatnya.

Misalnya, pembimbing dapat mengatakan: "Kalau ada bagian pelajaran yang belum kalian pahami, jangan takut untuk bertanya."

Namun, komunikasi terbuka juga kudu disertai batasan yang sehat. Murid tetap perlu memahami etika berkomunikasi dengan pembimbing dan warga sekolah.

Dengan demikian, keterbukaan tidak berfaedah bebas berkata apa saja, tetapi berani menyampaikan sesuatu dengan langkah yang sopan dan bertanggung jawab.

7. Memberikan Kepercayaan kepada Murid

Murid memerlukan kepercayaan untuk berkembang.

Guru dapat menunjukkan kepercayaan dengan memberikan tanggung jawab tertentu kepada murid, misalnya menjadi ketua kelompok, memimpin diskusi, mengelola kegiatan kelas, alias menyampaikan hasil kerja.

Ketika pembimbing memberikan kepercayaan, siswa belajar bahwa dirinya mempunyai keahlian dan tanggung jawab.

Jika terjadi kesalahan, pembimbing tidak kudu langsung mengambil alih. Sebaliknya, pembimbing dapat membantu siswa mengevaluasi kesalahan tersebut.

Pertanyaan seperti: "Menurutmu, apa yang menyebabkan perihal itu terjadi?" alias "Apa yang bisa kita lakukan agar ke depannya lebih baik?" dapat membantu siswa belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya.

8. Memberikan Umpan Balik yang Membangun

Interaksi yang setara tidak berfaedah pembimbing menghindari kritik. Murid tetap memerlukan umpan kembali agar dapat berkembang.

Yang krusial adalah gimana umpan kembali tersebut diberikan.

Umpan kembali yang baik sebaiknya: fokus pada pekerjaan alias perilaku; menjelaskan bagian yang sudah baik; menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki; memberikan arah perbaikan; disampaikan dengan bahasa yang menghargai.

Contohnya: "Ide utama tulisanmu sudah bagus. Akan lebih kuat jika Anda menambahkan contoh pada bagian kedua."

Umpan kembali seperti ini membikin siswa memahami bahwa kesalahan bukan akhir dari proses belajar, melainkan bagian dari perjalanan menuju perbaikan.

9. Mengakui Bahwa Guru dan Murid Sama-Sama Bisa Belajar

Guru memang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak dalam banyak hal. Namun, bukan berfaedah pembimbing kudu selalu menjadi pihak yang paling tahu dalam setiap situasi.

Di era digital, siswa dapat menemukan berbagai informasi, pengalaman, dan perspektif yang mungkin belum diketahui guru.

Guru dapat mengatakan: "Informasi itu menarik. Mari kita periksa berbareng apakah sumbernya dapat dipercaya."

Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa belajar dapat dilakukan bersama.

Sikap seperti ini bukan mengurangi kewibawaan guru. Sebaliknya, justru menunjukkan bahwa pembimbing mempunyai keteladanan sebagai pembelajar sepanjang hayat.

10. Menjaga Batasan dan Tanggung Jawab

Kesetaraan dalam hubungan bukan berfaedah menghilangkan batas antara pembimbing dan murid.

Guru tetap mempunyai tanggung jawab untuk: membimbing; mendidik; menjaga keamanan dan kenyamanan kelas; menegakkan aturan; memberikan penilaian secara adil; memastikan tujuan pembelajaran tercapai.

Sementara itu, siswa mempunyai tanggung jawab untuk: mengikuti pembelajaran; menghormati pembimbing dan teman; menaati aturan; menyelesaikan tugas; menjaga lingkungan sekolah; bertanggung jawab atas perilakunya.

Dengan kata lain, hubungan yang setara dibangun di atas penghargaan, bukan penghapusan peran.

Guru tetap menjadi pembimbing dan siswa tetap menjadi murid, tetapi keduanya berinteraksi sebagai manusia yang sama-sama mempunyai martabat dan kewenangan untuk dihargai.

Demikian pembahasan kita tentang 10 Prinsip Interaksi yang Setara antara Guru dan Murid. Semoga ada manfaatnya

Artikel Lainnya Portal Pendidikan

Bagikan Postingan