11 Kalimat Orang Tua Yang Diam-diam Mengikis Kepercayaan Diri Anak

Jun 24, 2026 05:30 PM - 3 jam yang lalu 119

Jakarta -

Setiap anak sebenarnya punya langkah berpikir tentang dirinya sendiri yang terbentuk dari tempat dia tumbuh. Hal itu pun turut dipengaruhi oleh kata-kata yang terucap dari orang tua di rumah.

Apa yang mereka dengar dapat berubah menjadi langkah mereka menilai dirinya sendiri, Bunda. Baik saat anak sukses maupun ketika sedang merasa kurang mampu.

Kalau yang lebih sering terdengar adalah tekanan alias kritik, anak bakal lebih mudah meragukan dirinya. Sebab itu, langkah kita berbincang di rumah punya peran yang jauh lebih besar dalam membentuk kepercayaan diri anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berkaitan dengan perihal ini, ada beberapa kalimat yang diam-diam dapat mengikis kepercayaan diri anak. Bunda penasaran apa saja? Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Kalimat orang tua yang diam-diam mengikis kepercayaan diri anak

Dilansir dari laman Your Tango, berikut ini beberapa ungkapan yang sering digunakan orang tua yang dapat mengikis kepercayaan diri anak.

1. "Mengapa Anda tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar?"

Kalimat seperti ini terdengar seperti pertanyaan biasa ya, tapi sebenarnya bisa menyakitkan bagi anak. Karena satu kesalahan mini saja seolah-olah menggambarkan keseluruhan dirinya.

Penelitian menunjukkan bahwa kritik seperti ini dapat berakibat pada rendahnya nilai diri anak saat remaja. Sebaliknya, kepercayaan diri justru lebih mudah tumbuh lewat dukungan, bukan kecaman yang terus-menerus.

2. "Kamu tetap terlalu mini untuk mengerti"

Ungkapan yang satu ini diucapkan tanpa maksud buruk, terlebih saat anak banyak bertanya. Namun bagi anak, ini terasa seperti rasa mau tahunya tidak dianggap penting.

Bunda perlu tahu, anak sebenarnya mengetahui banyak perihal lebih dari yang orang tua kira. Kalau sering ditanggapi seperti itu, mereka pun enggan bertanya lagi seiring waktu.

Studi tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa anak yang merasa diabaikan condong jarang mencari bimbingan. Karena itu, kepercayaan diri anak bisa ikut menurun.

3. "Itu tidak penting"

Ketika anak berbagi sesuatu yang menurutnya berarti, baik itu cerita, gambar, alias apalagi perihal yang membuatnya khawatir, lampau dijawab dengan "Itu tidak penting", anak bakal merasa tidak didengar, Bunda.

Sebagai orang tua, kita mungkin tidak bermaksud meremehkan, tapi anak bisa saja merasa bahwa apa yang dia rasakan tidak penting. Lambat laun, mereka pun tidak mau untuk bercerita kembali.

Kondisi ini tentu mengikis kepercayaan diri anak lantaran mereka belajar bahwa apa yang ada di dalam dirinya tidak terlalu berharga, Bunda.

4. "Kamu pasti bakal kandas jika mencoba itu"

Ungkapan seperti "Kamu pasti bakal kandas jika mencoba itu," kerap terucap lantaran orang tua mau melindungi anak. Namun, perihal ini diam-diam membikin anak ragu untuk melangkah.

Ketika kegagalan sudah "dibayangkan" sebelum anak mencoba, mereka pun kehilangan keberaniannya, Bunda. Padahal, dari mencoba itulah anak tahu banyak perihal baru tentang dirinya.

Anak bakal lebih percaya diri ketika diberi ruang untuk mencoba, salah, lampau memperbaiki diri. Jika ruang itu tertutup, anak memilih berakhir apalagi sebelum memulai.

5. "Bunda tidak punya waktu untuk perihal ini sekarang"

Setiap orang tua tentu punya kesibukan, tetapi jika anak sering mendengar perihal seperti ini, mereka berpikir bahwa kebutuhan dan bunyi mereka tidak terlalu diperhatikan.

Walaupun orang tua mungkin sigap melupakannya, anak justru dapat mengingat emosi saat dirinya diabaikan. Kondisi ini membikin mereka semakin ragu untuk menyampaikan pendapatnya, Bunda.

6. "Mengapa Anda tidak bisa seperti anak-anak lain?"

Perbandingan dengan kawan alias tetangga mengajarkan anak bahwa menjadi diri sendiri seolah tidak cukup baik. Jika orang tua sering mengucapkan perihal ini, anak pun terdorong untuk mengikuti orang lain agar dirinya dianggap berharga.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering dibandingkan oleh orang tua condong mempunyai nilai diri yang lebih rendah. Lebih dari itu, mereka juga rentan mengalami kekhawatiran dalam keseharian.

7. "Jangan memperbesar masalah sepele!"

Mengecilkan kesulitan yang dialami anak membikin mereka belajar untuk tidak mempercayai emosi mereka sendiri, Bunda. Sekalipun masalah itu tampak sepele bagi orang tua, bagi anak perihal tersebut tetap terasa nyata.

Seiring waktu, penolakan yang terus berulang mengikis kepercayaan diri anak. Mereka berpikir bahwa apa yang mereka rasakan dianggap berlebihan alias tidak bisa diandalkan.

8. "Jangan terlalu banyak bertanya"

Rasa mau tahu merupakan referensi dalam proses anak belajar dan keahlian menyelesaikan masalah. Saat anak mendengar perihal seperti ini, mereka pun berpikir jika bertanya itu perihal yang mengganggu.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang didorong untuk aktif bertanya mempunyai kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam langkah berpikirnya. Ketika perihal itu dibatasi, bukan hanya rasa mau tahu saja yang menurun, tapi juga kepercayaan diri mereka turut terpengaruh.

9. "Kamu tidak bakal pernah sukses dengan sikap seperti itu"

Sekalipun dimaksudkan sebagai motivasi, ungkapan ini membikin anak merasa ada yang salah dengan dirinya. Alih-alih menyesuaikan perilaku, mereka justru memandang diri mereka sebagai orang yang pada dasarnya "tidak baik".

Memberi penilaian seperti ini tentu dapat mengikis rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, Bunda.

10. "Itu tidak cukup baik"

Bagi anak-anak, mendengar perihal ini berulang kali menumbuhkan pola pikir perfeksionis dan rasa takut bakal kegagalan. Tidak hanya itu, perihal ini juga membikin tuntutan yang dirasakan jadi susah untuk dicapai.

Penelitian menunjukkan bahwa tekanan orang tua untuk selalu sempurna berangkaian dengan tingkat kekhawatiran yang tinggi pada anak. Kondisi ini juga bisa menurunkan rasa percaya diri lantaran anak merasa usahanya tidak pernah cukup.

11. "Bunda berambisi Anda lebih seperti saat Bunda seusiamu"

Ungkapan ini membebani anak-anak dengan komparasi yang terus-menerus. Tentu saja, kalimat ini dapat merusak kepercayaan diri anak lantaran seakan-akan mereka tidak sebaik orang lain.

Anak-anak yang mendengar kalimat ini tumbuh dengan emosi tidak bisa dalam dirinya. Mereka susah memenuhi angan orang tua, meskipun sudah berupaya sebaik mungkin.

Itulah kalimat-kalimat orang tua yang diam-diam dapat mengikis kepercayaan diri anak. Semoga informasinya dapat memberi faedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya