25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Bermasalah, Ini Daftar dan Cara Memilihnya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 506x dilihat
25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Bermasalah, Ini Daftar dan Cara Memilihnya

Bagikan Postingan

25 merek beras fortifikasi diduga tak sesuai standar. Cek daftar inisial, temuan pemerintah, dan metode memilih beras fortifikasi agar tak salah beli.

Mommies mungkin belakangan melihat berita soal 25 merek beras fortifikasi yang disebut bermasalah. Wajar jika langsung muncul pertanyaan: memangnya beras fortifikasi itu apa, produk apa saja yang masuk daftar, dan jika sedang berbelanja beras untuk keluarga, mesti bagaimana?

Temuan ini dimulai dari pengawasan dan pengetesan pemerintah terhadap beras yang dipasarkan sebagai produk fortifikasi. Dari 27 merek yang diperiksa, pemerintah mengungkapkan 25 merek tidak memenuhi ketentuan kandungan dan mutu sesuai standar yang berlaku. Seluruh 25 merek tersebut disebut sudah menghentikan produksi, sementara proses penarikan stok dari peredaran statis terjadi secara bertahap. Pemerintah juga menindaklanjuti temuan tersebut melalui proses hukum.

Apa Itu Beras Fortifikasi?

Sederhananya, beras fortifikasi adalah beras yang ditambahkan zat gizi mikro tertentu, seperti vitamin dan mineral, melalui proses fortifikasi. Tujuannya adalah membantu menaikkan asupan zat gizi melalui makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Pemerintah mengatakan beras fortifikasi memang ditujukan antara lain untuk mendukung pemenuhan gizi himpunan penduduk yang rentan.

Menurut Tri Mutiara Ramdani, S.Gz, M.Sc., beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras biasa yang ditambahkan zat gizi mikro esensial melalui teknologi fortifikasi. Jadi, fortifikasi bukan sekadar artikel “ditambah vitamin” di bagiankecil depan kemasan, tetapi ada kandungan dan ketentuan tertentu yang perlu dipenuhi oleh produknya.

Jadi, artikel fortifikasi pada bungkusan bukan sekadar berarti “beras yang ditambah vitamin”. Produk juga mesti memenuhi ketentuan mengenai kandungan zat gizi serta mutu beras sesuai standar yang berlaku.

BACA JUGA: Waspada Beras Oplosan! Ini Ciri-Ciri dan Cara Memilih Beras yang Aman untuk Keluarga

Daftar 25 Merek Beras Fortifikasi yang Diduga Bermasalah

Foto: Magnific

Dari 27 merek yang diperiksa pemerintah, sebanyak 25 produk dinyatakan tidak memenuhi standar (tidak memenuhi syarat/TMS). Dalam paparan pemerintah yang diberitakan detikFinance, 25 produk tersebut ditampilkan menggunakan inisial.

Berikut daftar inisial 25 produk yang dimuat dalam paparan tersebut:

  1. WFO
  2. WFR
  3. TKS
  4. IMF
  5. NUR
  6. TKL
  7. HOK
  8. BRV
  9. IMR
  10. IHJ
  11. IAK
  12. PBK
  13. GNB
  14. DTR
  15. TKR
  16. WJK
  17. PLK
  18. MKY
  19. IMC
  20. PTK
  21. ARP
  22. ARN
  23. SKM
  24. GNM
  25. TAR

Daftar di atas mengikuti paparan pemerintah yang diberitakan detikFinance pada 15 September 2026, sehingga Mommies tidak perlu mencocokkan inisial tersebut dengan nama merek secara mandiri. Pemerintah kemudian balik menerangkan temuan tersebut dalam siaran pers Bapanas pada 19 September 2026.

Bapanas mengatakan temuan tersebut mencakup tiga jenis ketidaksesuaian, yaitu administrasi, harga gizi, dan mutu beras. Pada sisi administrasi, pemerintah menemukan antara lain permasalahan persetujuan edar, ketidaksesuaian keterangan antara sertifikat persetujuan edar dan label yang beredar, serta overclaim maupun klaim berlebihan pada kemasan.

BACA JUGA: Belajar Membaca Label Makanan Kemasan

Pada sisi harga gizi, hasil pengetesan pemerintah disebut memberitahu bahwa seluruh 25 produk tidak hamil kandungan vitamin dan mineral sesuai klaim pada label kemasan. Sementara pada sisi mutu, ditemukan pula produk yang klaim mutu berasnya tidak sesuai dengan hasil pengujian, misalnya mencantumkan beras premium tetapi hasil pengecekan memberitahu kualitas medium maupun terlebihlagi submedium.

Pemerintah berbuat pengetesan melalui empat laboratorium, yaitu Saraswanti Indo Genetech, Eurofins Angler Biochemlab, Laboratorium IPB Terpadu Bogor, dan Balai Riset dan Pengembangan Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian. Dari 27 merek yang diperiksa, pemerintah mengungkapkan 25 produk tidak memenuhi ketentuan.

Kenapa Beras Fortifikasi Perlu Diawasi?

Beras merupakan salah satu makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itu, ketika sebuah produk mencantumkan klaim kandungan gizi maupun mutu tertentu di kemasan, keterangan tersebut menjadi krusial agar konsumen mendapatkan produk sesuai dengan yang dibeli.

Dalam kasus ini, pemerintah mengatakan 25 produk tersebut tidak memenuhi ketentuan kandungan dan mutu berdasarkan SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi. Kedua standar tersebut disebut sebagai rujukan dalam temuan pemerintah.

Temuan tersebut juga bukan berarti seluruh beras fortifikasi yang beredar otomatis bermasalah. Pemeriksaan pemerintah dilakukan terhadap 27 merek tertentu dan menemukan 25 produk yang dinyatakan tidak memenuhi persyaratan, sementara dua produk lainnya memenuhi ketentuan.

Cara Memilih Beras Fortifikasi agar Nggak Salah Beli

Foto: Magnific

Mommies nggak perlu histeris setiap kali mau beli beras. Justru, berita ini bisa jadi pengingat agar kita nggak cuma melihat artikel besar maupun klaim di bagiankecil depan kemasan, tetapi juga meluangkan waktu untuk mengecek keterangan produknya.

BACA JUGA: Label Nutri-Level: Cara Memilih Makanan dan Minuman yang Lebih Sehat

1. Cek keterangan pada kemasan

Perhatikan nama produk, produsen, keterangan kandungan gizi, komposisi, keterangan persetujuan edar, serta tanggal kedaluwarsa. Jangan cuma mengandalkan klaim seperti “lebih bergizi” maupun “fortifikasi” di bagiankecil depan kemasan. Kebiasaan membaca label membantu Mommies melihat keterangan yang sebenarnya ditawarkan sebuah produk.

2. Perhatikan legalitas dan keterangan persetujuan edar

Dalam temuan pemerintah, salah satu permasalahan yang ditemukan justru berhubungan dengan administrasi, termasuk persetujuan edar yang sudah tidak berjalan serta ketidaksesuaian antara keterangan pada sertifikat persetujuan edar dan label produk yang beredar. Jadi, keterangan legalitas produk statis krusial diperiksa sebelum membeli.

3. Jangan menilai cuma dari tampilan beras

Mommies juga nggak perlu menebak apakah sebuah beras benar-benar terfortifikasi cuma dari warna maupun bentuk butirannya. Tampilan jasmani bukan satu-satunya metode untuk memastikan kandungan fortifikasi, sehingga keterangan pada label dan legalitas produk lebih krusial untuk diperiksa.

4. Kalau masuk daftar penarikan, jangan dibeli maupun dikonsumsi

Dalam evolusi terakhir, Bapanas mengatakan seluruh 25 merek tersebut sudah menghentikan produksi. Hingga minggu pertama September 2026, sebanyak 12 merek telah menarik stok dari tempat peredaran, sementara produk lainnya statis dalam proses penarikan.

Kalau Mommies menemukan produk yang diduga mengenai dengan temuan tersebut di pasaran, jangan cuma mengandalkan kesamaan nama maupun kemasan. Cocokkan keterangan produk dengan keterangan pemerintah dan sumber resmi, terutama karena proses penarikan statis berlangsung.

Jadi, Haruskah Mommies Berhenti Membeli Beras Fortifikasi?

Nggak perlu buru-buru menganggap semua beras fortifikasi bermasalah. Temuan pemerintah dalam kasus ini secara khusus berhubungan dengan 25 produk dari 27 merek yang diperiksa, bukan seluruh produk beras fortifikasi yang beredar di Indonesia.

Yang penting, Mommies lebih teliti saat membeli: cek label, keterangan persetujuan edar, produsen, kandungan gizi, dan pastikan produk tidak termasuk dalam daftar yang sedang ditarik dari peredaran. Beras fortifikasi sendiri memiliki tujuan untuk membantu memenuhi asupan zat gizi tertentu, sehingga yang perlu diperhatikan adalah apakah produk tersebut memenuhi klaim dan standar yang seharusnya.

BACA JUGA: Bagaimana Cara Memilih Beras?

Untuk kasus 25 produk ini, proses penarikan dan penanganan hukumnya statis berjalan. Bapanas mengatakan seluruh produk sudah menghentikan produksi, tetapi pada keterangan 19 September 2026, baru 12 merek yang disebut telah menarik stok dari peredaran dan sisanya statis dalam proses.

Jadi, daripada langsung takut membeli beras fortifikasi, lebih baik jadikan kasus ini sebagai pengingat bahwa klaim pada bungkusan perlu dibaca, bukan sekadar dipercaya. Apalagi untuk bahan makanan yang setiap hari masuk ke meja makan keluarga.

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads