Orang tua tentu memahami bahwa membesarkan seorang anak tidak bisa selalu melangkah mulus. Ada kalanya sang buah hati bisa diajak bekerja sama dan menurut dengan mudah, namun ada juga hari-hari di mana anak bisa memberontak dan enggan mengikuti perkataan orang tua.
Alih-alih langsung memarahi anak, para orang tua sebaiknya mencari 'celah' agar anak yang sedang tantrum alias marah bisa diajak berkomunikasi dan mau mendengarkan saran orang tua, Beauties.
Melansir dari laman CNBC Make It, orang tua sebaiknya tidak menggunakan kata-kata tertentu saat anak tidak mau mendengarkan. Pasalnya, beberapa kalimat orang tua bisa membikin anak justru ada di mode 'survival' alih-alih menyadari apa kesalahannya.
Nah, menurut ahli, ini dia beberapa kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan orang tua ke anak.
1. 'Berhenti menangis, Anda bakal baik-baik saja'
Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: Pexels.com/Jep Gambardella
Para orang tua sebaiknya tidak mengatakan, "Berhenti menangis, Anda bakal baik-baik saja" saat buah hati menangis, merajuk, alias tantrum. Sebaliknya, orang tua bisa mengatakan, "Ibu/Ayah mengerti Anda lagi kesal. Coba ceritakan apa yang terjadi".
Kalimat ini lebih efektif lantaran jika orang tua mengabaikan emosi anak, perihal tersebut bisa membikin anak berpikir bahwa emosi mereka salah alias terlalu berat untuk ditangani.
Selain itu, pengabaian emosi bisa memutus ikatan jiwa dan anak yang merasa tidak 'terhubung' bakal condong tidak mau bekerja sama dengan orang tua. Sebaliknya, saat anak merasa didengarkan, mereka bakal lebih sigap tenang dan memercayai orang tuanya.
2. 'Ayo cepat!'
Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: freepik.com/freepik
Beauties, orang tua mungkin tanpa sadar kerap membikin anak melakukan sesuatu dengan terburu-buru seperti saat sarapan, saat anak sedang memakai sepatu bertali dan sebagainya.
Namun, menurut Linda Acredolo, PhD sekaligus salah satu penulis kitab Baby Minds', mendesak anak untuk segera menyelesaikan suatu perihal justru menimbulkan stres tambahan, seperti dikutip dari laman Parents.
Alih-alih berkata, "Ayo cepat!" kepada anak, orang tua bisa mengatakan, "Ayo kita bergegas". Kalimat ini menyampaikan pesan bahwa orang tua dan anak berada di pihak yang sama dan sama-sama berupaya mencapai tujuan yang sama.
Selain itu, orang tua juga bisa menanyakan apakah ada perihal yang menghalang si anak untuk 'bergegas', serta menawarkan support jika dibutuhkan.
| Baca Juga : Tak Perlu Kaya Raya, Ini 3 Sikap yang Menunjukkan Kamu Punya Kepribadian High Class Menurut Ilmu Psikologi |
3. 'Berapa kali Ibu/Ayah kudu menunjukkan kamu?'
Ilustrasi ibu dan anak/ Foto: magnific.com/magnific
Alih-alih memojokkan buah hati, orang tua bisa mengatakan, "Ibu/Ayah sudah menanyakan perihal ini beberapa kali. Coba bantu Ibu/Ayah memahami apa yang membikin perihal ini terasa susah bagimu.”
Kalimat ini jauh lebih efektif lantaran pertanyaan yang dilontarkan saat merasa frustrasi sering kali mengasumsikan bahwa anak sengaja bersikap sulit. Padahal, apa yang tampak sebagai sikap membangkang sebenarnya bisa jadi merupakan corak kebingungan, hilangnya koneksi, alias adanya keahlian yang belum berkembang dengan optimal, Beauties.
Mengubah langkah pandang seperti ini mendorong upaya mencari solusi alih-alih saling menyalahkan dan langkah inii juga yang menyasar akar permasalahannya.
---
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
| Pilihan Redaksi
|