Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus pengetahuan agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ustadz yang sangat berjasa terhadap pengetahuan yang kita pelajari, rahimahumullahu jami’an.
Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya ’Abbad bin ’Abbad; ada yang laqab (gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari mahir tafsir dan ada Ath-Thabari ustadz dari ajaran Syafi’i; ada pula yang kunyah-nya sama; dan seterusnya.
Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab riwayat hidup para ulama, dan kitab-kitab rijaalul hadis (para perawi hadis), seperti Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu’jam Al-Mufassirin, Siyar A’laamin Nubala, dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut pengetahuan dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya alias nama ayahnya.
Pentingnya mengetahui nama-nama para ulama
Dalam pembahasan pengetahuan hadis, terutama yang berangkaian dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ustadz sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ustadz alias perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.
Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan ”Dari Abu Abdirrahman”, sedangkan nama yang menggunakan kunyah Abu ’Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang tsiqah (terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, apalagi palsu. Lalu, siapa Abu ’Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat krusial untuk mengetahu nama para ustadz yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.
Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan alif lam) dengan Ibnu Arabi (tanpa alif lam). Karena keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.
Ibnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]
Nama beliau adalah Muhammad bin ’Abdillah bin Muhammad bin ’Abdillah bin Ahmad Al-Ma’arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul ’Arabi. Beliau adalah seorang qadhi, penghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaih wa sallam, di antara pembesar fuqaha mazhab Maliki.
Beliau dilahirkan pada 22 Sya’ban 468 H di kota إشبيلية (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh lantaran itu, beliau dikatakan الإشبيلي (Al-Isybili) lantaran beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil pengetahuan dari para ustadz setempat.
Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berumur tujuh belas tahun, beliau berangkat rihlah ke daerah timur berbareng ayahnya, untuk belajar pengetahuan kepada para ustadz di sana. Beliau mengambil pengetahuan dari para ustadz di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lamin Nubala menyebutkan nama dari pembimbing beliau di setiap tempat yang Ibnul ’Arabi kunjungi.
Beliau kembali pulang ke kampung laman pada tahun 495 H. Di antara argumen beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah lantaran ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut pengetahuan berdatangan kepadanya untuk mendengarkan sabda dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lampau beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan pengetahuan dan menulis karya.
Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,
- Ahkaamul Qur’an;
- An-Nasikh wal Mansukh fil Qur’an;
- Al-‘Awashim minal Qawashim;
- Qanun At-Ta’wil.
Dan karya tulis lainnya. Rahimahullah Ta’ala rahmatan wasi’ah.
Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]
Nama beliau adalah Muhammad bin ’Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i Al-Hatimi Al-Mursi. Kunyah beliau adalah Abu Bakr, laqab beliau adalah Muhyiddin (penghidup agama), masyhur-nya beliau adalah Ibnu ’Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.
Disebutkan kenapa gelar beliau adalah Ath-Tha’i, dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi (tasawuf) tulen. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,
العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ
”Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.” [3]
Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, ”Ibnu ’Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang pandai dan mempunyai pengetahuan yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di daerah Maroko. Kemudian dia memilih hidup zuhud, menyendiri, konsentrasi beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi daerah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).” [3]
Al-Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah juga menuturkan, “Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan “Al-Futuhaat Al-Makkiyah”. Beliau juga mempunyai karya tulis lainnya, di antaranya, “Fusush Al-Hikam”, serta banyak sya’ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai alias mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai aliran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan perihal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.” [4]
Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki. Demikianlah secara ringkas riwayat hidup alias latar belakang dari Ibnu ‘Arabi.
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan,
إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ
“Jika Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh dia telah beruntung, dan perihal itu bukanlah sesuatu yang susah bagi Allah.” [3]
Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi. Di antara persamaannya adalah:
- Berasal dari Andalus (Spanyol);
- Kunyah-nya Abu Bakr;
- Nama aslinya Muhammad;
- Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut pengetahuan ke daerah timur.
Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari alif lam-nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, ialah Ibnul ‘Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin ‘Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.
Wallahu a’lam.
[Bersambung]
***
Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026
Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi
Artikel Kincai Media
Catatan Kaki:
[1] Siyar A’amin Nubala dan Mu’jam Al-Mufassirin, hal. 109.
[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 9; Siyar A’lamin Nubala, 23: 48; Mizaanul I’tidal, 3: 659.
[3] Siyar A’lamin Nubala, 23: 48.
[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 11-12.
Referensi:
– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)
– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)
– Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un Fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.
– Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.
– Nuwaihidh, ‘Ādil. Mu‘jam al-Mufassirīn: min Shadr al-Islām hattā al-‘Ashr al-Hādhir. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu’assasah Nuwaihidh at-Tsaqāfiyyah, 1409 H/1988 M.