Jakarta -
Masa-masa awal setelah persalinan menjadi periode krusial dalam menentukan keberhasilan proses menyusui. Sayangnya, tetap ada beberapa dugaan dan praktik yang sering dilakukan setelah melahirkan, padahal belum tentu didukung oleh bukti ilmiah.
Kondisi ini dapat membikin Bunda merasa khawatir, apalagi memengaruhi kelancaran pemberian ASI kepada Si Kecil. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa support dan info yang tepat pada 72 jam pertama setelah melahirkan berkedudukan besar dalam membantu keberhasilan menyusui.
Lantas, apa saja perihal setelah melahirkan yang justru bisa menghalang proses menyusui? Simak penjelasan lengkapnya pada tulisan berikut, ya, Bunda.
3 Hal setelah melahirkan yang bisa menghalang proses menyusui
Mengutip dari laman Medical Xpress, penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine menemukan bahwa beberapa praktik yang umum dilakukan selama 48–72 jam pertama setelah persalinan rupanya tidak selalu didukung bukti ilmiah.
Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Sapienza University of Rome tersebut menganalisis 78 studi dari beragam negara dan menemukan tiga kesalahpahaman yang dapat menghalang keberhasilan menyusui pada bayi yang lahir pada waktu normal dan dalam kondisi sehat.
Masih banyak ibu yang cemas produksi ASI di hari-hari pertama terlalu sedikit sehingga memilih memberikan susu formula lebih awal. Padahal, menurut peneliti, kolostrum alias ASI pertama mempunyai kandungan nutrisi yang sangat tinggi dan volumenya memang telah disesuaikan dengan kapabilitas lambung bayi baru lahir.
Dokter anak sekaligus peneliti utama, Maria Di Chiara, menjelaskan bahwa dugaan ASI tidak cukup sering kali berasal dari ekspektasi yang kurang tepat, bukan lantaran produksi ASI betul-betul bermasalah.
Pemberian susu formula tanpa indikasi medis juga dapat mengurangi rangsangan pada tetek sehingga produksi ASI justru menurun.
2. Membatasi penggunaan empeng secara rutin
Sebagian akomodasi kesehatan tetap melarang penggunaan empeng lantaran dianggap dapat mengganggu proses menyusui. Namun, hasil uji klinis yang ditinjau dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan empeng pada bayi yang lahir cukup usia kehamilan dan sehat tidak terbukti mengurangi lama maupun keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Para peneliti menilai orang tua sebaiknya memperoleh info yang seimbang berasas bukti ilmiah sehingga dapat mengambil keputusan sesuai kebutuhan bayi, bukan sekadar mengikuti larangan yang berkarakter umum.
3. Terlalu awal menggunakan pompa ASI elektrik
Pompa ASI elektrik memang mempunyai faedah dalam kondisi tertentu, misalnya ketika ibu dan bayi kudu terpisah sementara alias bayi mengalami kesulitan menyusu langsung. Namun, penelitian ini menemukan belum ada bukti kuat yang mendukung penggunaan pompa ASI elektrik secara rutin pada hari-hari pertama setelah persalinan.
Bahkan, penggunaan pompa terlalu awal dapat memperkuat kekhawatiran ibu bahwa produksi ASI tidak mencukupi.
Jika memang diperlukan untuk mengeluarkan ASI pada masa awal menyusui, para peneliti menyarankan metode pemerahan dengan tangan sebagai pilihan pertama.
Keberhasilan proses menyusui tidak hanya ditentukan oleh banyaknya produksi ASI, tetapi juga dipengaruhi oleh support dan info yang tepat sejak hari-hari pertama setelah melahirkan.
Oleh lantaran itu, Bunda sebaiknya tidak mudah percaya pada mitos yang belum terbukti kebenarannya. Dengan pendampingan dari tenaga kesehatan serta edukasi yang sesuai dengan bukti ilmiah, Bunda dapat menjalani proses menyusui dengan lebih tenang dan percaya diri, sehingga kebutuhan nutrisi Si Kecil pun tetap terpenuhi secara optimal.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·