Kenali Tahapan Suasana Hati yang Dialami Ibu Hamil di Trimester 1, 2, hingga 3

Aug 13, 2026 07:30 AM - 6 jam yang lalu 5

Jakarta -

Kehamilan selalu membawa perubahan pada tubuh. Selain itu, kehamilan juga dapat memengaruhi suasana hati, emosi, hingga perilaku ibu hamil.

Ada ibu yang merasa senang di satu waktu, tetapi di waktu yang sama juga cemas. Ada pula yang mudah menangis, tersinggung, alias merasa kewalahan menghadapi beragam perubahan.

Kondisi emosional ibu mengandung bisa berbeda pada setiap trimester dan dipengaruhi beragam hal. Kehamilan juga dapat mengubah style hidup, aktivitas, alias kegemaran yang selama ini ibu jalani. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat turut memengaruhi emosi dan perilaku ibu hamil.


Lantas, seperti apa tahapan perubahan emosi yang mungkin dialami ibu mengandung pada trimester 1, 2, dan 3?

Perubahan emosi ibu mengandung pada trimester 1

Trimester pertama berjalan hingga sekitar usia kehamilan 12 minggu. Pada tahap ini, ibu mengandung sedang beradaptasi dengan beragam perubahan besar yang terjadi dalam waktu relatif singkat.

Menurut Patient.info yang ditelaah oleh master umum Dr Sarah Jarvis, trimester pertama bisa terasa sangat berat bagi sebagian ibu. Setelah mengetahui dirinya hamil, seorang ibu bisa merasakan beragam emosi sekaligus. Misalnya, senang dan antusias menyambut bayi, tetapi juga resah mengenai kondisi kehamilannya.

Keluhan bentuk yang umum dirasakan pada awal kehamilan, seperti mual, muntah, mudah lelah, sembelit, serta tetek yang terasa nyeri alias sensitif, juga dapat membikin ibu merasa lebih capek secara emosional.

Perasaan dan perilaku selama kehamilan dapat dipengaruhi oleh perubahan kadar hormon. Ibu mengandung mungkin menjadi lebih mudah tersinggung alias resah dan merasa kurang bisa menghadapi stres sehari-hari dibandingkan biasanya.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders menemukan bahwa indikasi depresi selama kehamilan dapat mempunyai pola yang berbeda pada setiap ibu. Peneliti mengikuti 1.832 wanita dan menilai indikasi depresi mereka pada setiap trimester kehamilan.

Sebagian besar peserta mempunyai indikasi depresi yang rendah dan stabil selama kehamilan. Namun, terdapat golongan yang mengalami penurunan maupun peningkatan indikasi depresi.

Riwayat bagian depresi sebelumnya, peristiwa kehidupan selama kehamilan, dan kehamilan yang tidak direncanakan merupakan beberapa aspek yang berangkaian dengan pola tersebut.

Dengan kata lain, merasa lebih sensitif secara emosional pada trimester pertama bisa saja terjadi. Namun, ibu tetap perlu memperhatikan jika rasa sedih alias resah mulai menetap, semakin berat, alias mengganggu kegiatan sehari-hari.

Perubahan emosi ibu mengandung pada trimester 2

Memasuki trimester kedua, ialah sekitar usia kehamilan 13–27 minggu, sebagian ibu mengandung mulai merasa lebih nyaman dibandingkan trimester pertama.

Mual dan muntah pada sebagian ibu mulai berkurang. Energi pun bisa kembali meningkat sehingga ibu mengandung lebih siap beraktivitas dan mempersiapkan beragam kebutuhan untuk menyambut bayinya.

Meski begitu, ini bukan berfaedah perubahan emosi otomatis berhenti.

Ibu mengandung tetap mungkin mengalami perubahan suasana hati, mudah menangis, merasa lebih sensitif, alias sesekali merasa khawatir. Kekhawatiran tersebut dapat berangkaian dengan kondisi janin, perubahan tubuh, hubungan dengan pasangan, pekerjaan, kondisi keuangan, maupun persiapan menjadi orang tua.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psicothema terhadap 385 ibu mengandung menunjukkan bahwa indikasi kekhawatiran tetap cukup umum terjadi sepanjang kehamilan.

Dalam penelitian tersebut, prevalensi indikasi kekhawatiran tercatat sebesar 19,5 persen pada trimester pertama, 16,8 persen pada trimester kedua, dan 17,2 persen pada trimester ketiga.

Temuan ini menunjukkan bahwa trimester kedua yang sering dianggap sebagai masa kehamilan yang lebih nyaman bukan berfaedah ibu pasti terbebas dari kekhawatiran alias perubahan emosi.

Perubahan emosi ibu mengandung pada trimester 3

Memasuki trimester ketiga, perubahan bentuk kembali semakin terasa. Perut yang semakin besar, aktivitas bayi, rasa tidak nyaman saat tidur, nyeri tubuh, serta kemauan buang air mini yang lebih sering dapat membikin ibu lebih mudah lelah.

Di sisi lain, semakin dekat dengan persalinan, sebagian ibu mulai merasa lebih cemas.

Pertanyaan seperti "Nanti persalinannya bagaimana?", "Apakah saya bisa melewatinya?", alias "Bagaimana kehidupan setelah bayi lahir?" dapat semakin sering muncul.

Rasa takut menghadapi persalinan dan perubahan besar setelah bayi lahir dapat menjadi bagian dari emosi yang muncul pada trimester ketiga. Persiapan persalinan dan support dari orang-orang yang berada dalam situasi serupa dapat membantu ibu menghadapi kekhawatiran tersebut. 

Pada tahap ini, sebagian ibu juga mulai mengalami apa yang dikenal sebagai nesting, ialah dorongan untuk menyiapkan rumah dan beragam kebutuhan bayi. Misalnya, membersihkan rumah, menata bilik bayi, mencuci busana bayi, alias memastikan perlengkapan persalinan sudah siap.

Menariknya, penelitian terbaru menemukan adanya perubahan struktur dan kegunaan otak selama kehamilan yang berangkaian dengan perubahan hormon serta beberapa aspek perilaku dan keterikatan maternal.

Temuan ini memberikan gambaran mengenai proses penyesuaian biologis dan psikologis yang terjadi selama kehamilan.

Meski demikian, nesting bukan sesuatu yang kudu dialami semua ibu hamil. Ada pula ibu yang justru merasa sangat capek dan tidak mempunyai dorongan untuk melakukan banyak persiapan.

Mengapa emosi ibu mengandung bisa berubah?

Perubahan emosi selama kehamilan tidak hanya berangkaian dengan hormon. Kehamilan membawa banyak perubahan sekaligus. Tubuh berubah, pola tidur dapat terganggu, kegiatan sehari-hari mungkin perlu disesuaikan, dan ibu juga mulai memikirkan peran baru sebagai orang tua.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis ibu.

Selain itu, pengalaman kehamilan sebelumnya juga dapat berpengaruh. Ibu yang pernah mengalami keguguran, mempunyai pengalaman persalinan yang sulit, alias menghadapi masalah pada kehamilan sebelumnya mungkin mempunyai kekhawatiran yang lebih besar.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kekhawatiran dapat muncul untuk pertama kalinya selama kehamilan. Beberapa kondisi, seperti riwayat kecemasan, kehilangan kehamilan sebelumnya, masalah kesehatan selama kehamilan alias persalinan, serta kurangnya dukungan, juga dapat meningkatkan akibat gangguan kecemasan.

Karena itu, perubahan emosi ibu mengandung sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akibat 'hormon saja'.

Perubahan emosi ibu mengandung tidak selalu sama

Meski kehamilan dibagi menjadi trimester pertama, kedua, dan ketiga, perubahan emosi tidak selalu melangkah mengikuti pembagian tersebut secara rapi.

Setiap ibu mengandung dapat mempunyai pengalaman emosional yang berbeda. Ada yang merasa lebih resah pada trimester pertama, mulai lebih nyaman pada trimester kedua, alias justru mengalami kekhawatiran menjelang persalinan. Sebagian lainnya mungkin mengalami perubahan suasana hati yang tidak terlalu mencolok alias berjalan dengan pola yang berbeda.

Karena itu, ibu tidak perlu membandingkan pengalaman emosionalnya dengan ibu mengandung lainnya. Yang lebih krusial adalah mengenali perubahan yang terjadi pada diri sendiri, terutama jika emosi yang dirasakan mulai terasa berat alias mengganggu kegiatan sehari-hari.

Kapan perubahan emosi saat mengandung perlu diperiksakan?

Perubahan suasana hati sesekali dapat terjadi selama kehamilan. Namun, ibu perlu mencari support jika perubahan tersebut terasa berat, berjalan terus-menerus, alias mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

ACOG menjelaskan bahwa kekhawatiran yang perlu mendapat perhatian bukan sekadar rasa cemas sementara, melainkan kekhawatiran yang intens alias berjalan lama hingga mengganggu kegunaan sehari-hari.

Gejalanya dapat berupa kekhawatiran yang susah dikendalikan, susah berkonsentrasi, gangguan tidur, merasa terus-menerus tegang, hingga menghindari kegiatan tertentu. 

Begitu juga dengan depresi. Sesekali merasa sedih berbeda dengan depresi yang berjalan setidaknya dua minggu dan disertai indikasi seperti kehilangan minat terhadap aktivitas, merasa tidak berbobot alias putus asa, susah berkonsentrasi, perubahan tidur dan nafsu makan, alias kelelahan yang berat. 

Dalam kondisi seperti ini, ibu mengandung sebaiknya tidak menunggu sampai melahirkan untuk mencari pertolongan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya