Penyebab Preeklamsia yang Selama Ini Misterius Mulai Terungkap, Disebut jadi Harapan Baru

Aug 13, 2026 11:05 AM - 2 jam yang lalu 4

Jakarta -

Preeklamsia selama kehamilan merupakan penyebab utama kelahiran prematur serta kematian janin dan ibu. Preeklamsia ditandai dengan tekanan darah tinggi, yang gejalanya sering kali tidak terdeteksi, Bunda.

Penyebab pasti preeklamsia belum diketahui. Namun, sejumlah penelitian baru mengungkapkan potensi pemicunya yang disebut jadi angan baru dalam bumi medis.

Dokter kulit dan guru besar imunologi di University of Michigan Taubman Medical Research Institute, Johann Gudjonsson, berupaya menjawab pertanyaan tentang penyebab preeklamsia. Pasalnya, banyak dari gangguan ini menunjukkan indikasi pada kulit.


Namun, minat Gudjonsson mulai berkembang setelah berbincang dengan master kandungan yang berspesialisasi dalam kardio-obstetri, Ashley Bartell. Gudjonsson tertarik ketika mengetahui sungguh sulitnya membedakan antara pasien dengan gangguan autoimun dan preeklamsia.

"Pikiran pertama yang terlintas di akal saya adalah, saya kudu memandang ini, pasti ada sesuatu di sana. Itu seperti momen pencerahan," kata Gudjonsson, dilansir National Geographic.

Bersama intelektual dan mahir imunologi Olesya Plazyo, Gudjonsson mengeksplorasi bagian penelitian ini. Mereka baru-baru ini mempublikasikan temuan di jurnal Circulation.

Studi ini menunjukkan bahwa disregulasi gen yang disebut VGLL3, yang diekspresikan secara tinggi, baik di kulit maupun di plasenta, bisa jadi akar penyebab preeklamsia. Jika mereka dapat menargetkan dan mengendalikan VGLL3, perihal itu dapat membuka kemungkinan baru untuk mendiagnosis, mengobati, dan apalagi berpotensi mencegah preeklamsia.

Ada banyak perdebatan tentang penyebab preeklamsia. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa preeklampsia dan semua gejala-gejalanya yang melemahkan dapat berasal dari plasenta .

Plazyo, yang juga pernah mengalami preeklamsia, mengatakan bahwa perihal itu disebabkan oleh 'jenis sel yang sangat unik yang hanya muncul selama kehamilan'. Sel yang disebut trofoblas ini hanya ditemukan di plasenta.

"Interaksi tersebut dianggap sangat krusial dalam perkembangan preeklamsia," ujarnya.

Perlu diketahui, trofoblas membantu embrio menempel pada tembok rahim dan membantu pertumbuhan pembuluh darah untuk menopang plasenta. Tofoblas juga menghasilkan aspek sinyal yang dapat masuk ke dalam darah ibu. Salah satunya, protein yang disebut sFLT-1, yang terlibat dalam disregulasi vaskular.

"Ini adalah salah satu biomarker kunci preeklampsia," kata Gudjonsson.

Pada tahun 2023, Food and Drug Administration (FDA) menyetujui tes darah yang mendeteksi sFLT-1 dan biomarker lain untuk memprediksi pasien mana yang mungkin berisiko terkena preeklamsia. Namun, meskipun tes-tes ini tidak dapat menjelaskan semua perihal yang salah di dalam trofoblas.

Gudjonsson percaya bahwa VGLL3 dapat memberikan penjelasan dan berpotensi untuk menyembuhkan. Ia juga berambisi temuan molekuler baru ini dapat membantu master membikin keputusan yang lebih tepat ketika dihadapkan dengan indikasi dan biomarker yang saling bertentangan.

"Sangat menggembirakan bahwa sekarang kita mendapatkan beberapa langkah untuk membuka kotak hitam itu. Itulah sebenarnya makna VGLL3 bagi saya," ungkapnya.

"Hal itu memberi kita beberapa perihal yang bisa kita jadikan referensi saat betul-betul membikin diagnosis."

Untuk memahami gimana VGLL3 dapat mengendalikan sistem biologis di kembali preeklamsia, tim peneliti menggunakan beragam model eksperimental, termasuk kultur sel in vitro, sampel jaringan plasenta manusia, dan model tikus.

"Kami mau memandang dari beragam perspektif pandang agar bisa mengatakan, oke, ya, kami mempunyai sesuatu di sini, dan ini bukan sekadar kebetulan alias sistem model tunggal yang tidak mewakili apa yang terjadi di kehidupan nyata," kata Plazyo.

Temuan studi menjanjikan meski ada kekurangan

Meski temuan ini menjanjikan, studi tetap mempunyai keterbatasan. Model eksperimental menghasilkan kekurangan, Bunda.

Penelitian ini merupakan awal dari penyelidikan yang sudah lama tertunda mengenai penyebab mendasar dari kondisi preeklamsia. Tim peneliti tetap bakal terus melanjutkan penelitian pada VGLL3 sebagai biomarker potensial untuk pemeriksaan alias pengobatan.

Uji klinis pada manusia memang tetap jauh. Tapi, Gudjonsson percaya bahwa setiap langkah mini ke depan dapat menghasilkan informasi yang kuat yang bisa mendukung uji klinis.

"Hampir tidak ada indikasi bahwa ini tidak bakal berhasil," katanya.

"Kami telah menargetkan sistem ini dan menunjukkan bahwa mini dapat membalikkan banyak indikasi preeklamsia. Jadi, tanpa ragu, saya pikir kita dapat mencegahnya," lanjutnya.

Demikian studi terbaru yang mengungkap kemungkinan penyebab preeklamsia pada kehamilan. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya