Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi Di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?

Aug 19, 2026 12:01 PM - 7 jam yang lalu 153
Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?Hukum Membaca Kitab Maulid Nabi di Bulan Rabiul Awal, Bolehkah?

Kincai Media— Bagaimana norma membaca kitab Maulid Nabi Muhammad di bulan Rabiul Awal. Pasalnya, bulan Rabiul Awal selalu menghadirkan suasana unik di tengah umat Islam.

Di beragam daerah, masyarakat berkumpul di masjid, musala, pesantren, majelis taklim, dan rumah-rumah untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Ada yang mengisinya dengan pembacaan shalawat, pengajian, sedekah, pembacaan sirah, hingga membaca kitab-kitab Maulid yang secara unik mengisahkan kelahiran dan perjalanan hidup Rasulullah.

Namun, di tengah tradisi tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang: gimana norma membaca kitab Maulid pada hari-hari Rabiul Awal peringatan Maulid Nabi?

Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada Syekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam, mantan Mufti Republik Mesir, melalui Dar al-Ifta al-Mishriyyah. Dalam fatwanya, dia menjelaskan bahwa membaca kitab Maulid merupakan bagian dari tradisi umat Islam dalam menghidupkan peringatan kelahiran Nabi SAW dengan beragam kebaikan kebajikan. Fatwa tersebut diterbitkan Dar al-Ifta pada 1 Desember 2016.

Menurut Syekh Syauqi ‘Allam menjelaskan bahwa umat Islam sejak abad keempat dan kelima Hijriah telah terbiasa memperingati Maulid Nabi dengan beragam corak ibadah dan kebaikan kebajikan.

Ia menyebut sejumlah kegiatan yang dilakukan masyarakat Muslim pada momentum tersebut, mulai dari memberi makan, berpuasa, melaksanakan ibadah malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga membaca kitab Maulid dan melantunkan syair-syair pujian kepada Rasulullah.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak berdiri tanpa akar dalam khazanah keilmuan Islam. Sejumlah ustadz dan sejarawan seperti Ibnu al-Jauzi, Ibnu Dihyah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan Imam as-Suyuthi telah mencatat praktik dan pembahasan mengenai Maulid dalam karya-karya mereka.

Dengan demikian, membaca kitab Maulid dapat dipahami sebagai salah satu corak majelis yang menghidupkan ingatan umat terhadap Rasulullah. Di dalamnya terdapat pembacaan sejarah kelahiran beliau, pengenalan terhadap sifat dan keistimewaan beliau, serta ungkapan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Maulid sebagai Ekspresi Cinta kepada Rasulullah

Bagi Syekh Syauqi ‘Allam, persoalan Maulid tidak hanya berangkaian dengan corak kegiatan, tetapi juga dengan makna yang hendak diwujudkan di kembali kegiatan tersebut.

Dalam fatwa lainnya, beliau menjelaskan bahwa memperingati Maulid Nabi merupakan corak kegembiraan atas kelahiran Rasulullah, sekaligus ungkapan cinta dan penghormatan kepada beliau.

Syekh Sauqi Ibrahim dalam Dar al-Ifta menyebut bahwa peringatan tersebut dapat diisi dengan beragam corak pendekatan diri kepada Allah, seperti zikir, membaca Al-Qur’an, membaca sirah Nabi, bershalawat, memberi makan, bersedekah, serta mempererat hubungan dengan family dan tetangga.

Karena itu, membaca kitab Maulid sesungguhnya bukan sekadar kegiatan membaca sebuah teks. Ia dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kembali sosok Rasulullah di tengah kehidupan umat: mengenang kelahiran beliau, mempelajari perjalanan hidupnya, mengenal akhlaknya, dan kemudian berupaya meneladaninya.

Di titik inilah tradisi Maulid memperoleh makna yang lebih mendalam. Kecintaan kepada Nabi SAW tidak berakhir pada ungkapan lisan, tetapi semestinya bersambung menjadi keteladanan dalam kehidupan.

Menariknya, tradisi membaca Maulid kemudian melahirkan khazanah literatur yang sangat luas. Para ustadz dari beragam generasi menulis karya yang secara unik mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad dan perjalanan hidup beliau.

Dalam fatwanya tentang norma membaca Maulid, Syekh Syauqi ‘Allam menyebut sejumlah karya tersebut. Di antaranya adalah at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir karya al-Hafizh Ibnu Dihyah; ad-Durr al-Munazhzham fi Maulid an-Nabiyy al-Mu’azhzham karya al-Hafizh al-‘Azafi; ad-Durrah as-Saniyyah fi Maulid Khair al-Bariyyah karya Imam al-‘Ala’i; dan al-Mawrid al-Hani fi al-Mawlid as-Sani karya al-Hafizh al-‘Iraqi.

Selain itu, terdapat pula Mawrid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi karya al-Hafizh Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, Kanz ar-Raghibin al-‘Ufat fi ar-Ramz ila al-Mawlid al-Muhammadi wal-Wafat karya al-Hafizh an-Naji, serta Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Mawlid karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi.

Banyaknya karya tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai Maulid bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi intelektual Islam. Sebaliknya, tema kelahiran Rasulullah telah menjadi bagian dari perhatian para ustadz yang dituangkan dalam karya-karya sejarah, sirah, hadis, maupun karya unik tentang Maulid.

Lebih jauh, dalam pandangan Syekh Syauqi ‘Allam, substansi peringatan Maulid adalah mengekspresikan kegembiraan dan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah dengan beragam kebaikan yang dibenarkan syariat.

Dalam fatwanya, beliau juga mengutip sabda tentang puasa hari Senin. Ketika Rasulullah ditanya mengenai puasa pada hari tersebut, beliau menjawab, “Itu adalah hari saya dilahirkan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah al-Anshari.

Dar al-Ifta menjadikannya salah satu landasan untuk menjelaskan bahwa kelahiran Nabi SAW dapat menjadi momentum untuk mengingat nikmat Allah dan mengungkapkan rasa syukur melalui ibadah.

Dengan perspektif tersebut, peringatan Maulid tidak semestinya berakhir pada seremonial. Pembacaan kitab Maulid idealnya membawa jamaah untuk lebih mengenal Nabi SAW, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah beliau, dan menghidupkan adab yang diajarkan Rasulullah.

Sebab, mencintai Nabi bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi juga dengan mengikuti jalan hidupnya.

Membaca Kitab Maulid, Sebuah Tradisi Keilmuan

Dari penjelasan Syekh Syauqi ‘Allam tersebut dapat dipahami bahwa membaca kitab Maulid pada momentum Maulid Nabi termasuk bagian dari tradisi keagamaan yang telah dikenal luas dalam sejarah umat Islam.

Tradisi itu mempunyai corak yang beragam. Ada yang membaca Barzanji, Diba’i, Simthud Durar, maupun karya-karya Maulid lainnya. Ada pula yang menggabungkannya dengan pembacaan Al-Qur’an, shalawat, pengajian sirah, sedekah, dan pemberian makanan kepada masyarakat.

Yang terpenting adalah memastikan bahwa kegiatan tersebut diisi dengan hal-hal yang sesuai dengan tuntunan syariat. Dar al-Ifta al-Mishriyyah sendiri menjelaskan bahwa peringatan Maulid dapat diwujudkan melalui berkumpul untuk berzikir, bershalawat dan memuji Rasulullah, membaca sirah beliau, bersedekah, memberi makan, serta mempererat silaturahmi.

Dengan demikian, membaca kitab Maulid pada hari-hari peringatan kelahiran Nabi dapat menjadi salah satu langkah untuk merawat ingatan kolektif umat terhadap sosok manusia agung yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Pada akhirnya, tujuan terbesar dari Maulid bukan sekadar mengetahui kapan Nabi dilahirkan, tetapi agar kita semakin mengenal, mencintai, menghormati, dan meneladani beliau.

Sebagaimana ditegaskan dalam beragam penjelasan Dar al-Ifta, kecintaan kepada Rasulullah merupakan bagian krusial dari iman. Karena itu, momentum Maulid dapat menjadi kesempatan untuk memperbarui kecintaan tersebut melalui ilmu, ibadah, shalawat, sedekah, dan keteladanan adab Nabi. Wallahu a’lam.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya