Jejak Koin Dinasti Umayyah Di Tapanuli: Ada Kisah Doktrin Tauhid Khalifah Melawan Bizantium

Aug 19, 2026 12:53 PM - 6 jam yang lalu 109

Kincai Media, Temuan koin antik dari masa Dinasti Umayyah hingga Abbasiyah di situs Bongal, Tapanuli Tengah, mengungkap sungguh luas syiar Islam yang dilakukan setelah akhir masa kenabian. 

Ekskavasi arkeologi di Situs Bongal, Desa Jagojago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, dinilai sukses menyingkap bukti konkret hubungan perdagangan maritim internasional antara Nusantara dan bumi Islam pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Tidak hanya dari Abbasiyah, tetapi pada masa lebih awal ialah Dinasti Umayyah.

Dalam artikel ilmiah berjudul 'Kontribusi Koin Umayyah Temuan Situs Bongal  terhadap Histiografi Islam di Sumatera Utara,' yang diterbitkan Historial Studies Journal Yupa, Vol.6, Ning Arrumdani, Hasan Asari, Nabila Yasmin, mengungkapkan, dinar dan dirham sebagai perangkat transaksi tetap terus digunakan oleh masyarakat Arab ketika aliran Islam sudah hadir.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah tentang penggunaan dinar dan dirham sebagai perangkat transaksi yang sah. Pada masa Khulafaurrasyiddin ialah pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, dimasukkan lambang Islam pada Dinar dan Dirham yang digunakan di kalangan Bangsa Arab. Pada tahun 18 H, mulailah dimasukkan kalimat-kalimat Islam dalam mata duit tersebut seperti  bismillah, Alhamdulillah, bismirobbika,  Muhammadurrasulullah. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa Islam sudah mulai berkembang dan mempunyai integritas.

Penggunaan mata duit dinar dan dirham masih terus bersambung ke pemerintahan Kekhalifahan Umayyah. Pada masa awal pemerintahan Kekhalifahan Umayyah ialah Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan, pencetakan mata duit tetap mengikuti pola Dinasti Sasanid sehingga hanya mencantumkan beberapa kata Islami saja (Syukur, 2020).

Pencetakan mata duit beruhkan Islam pertama kali dibuat oleh Khalifah Umayyah kelima ialah Abdul Malik bin Marwan yang memerintah tahun 685-701 M. Koin emas Umayyah pertama kali dicetak tahun 691 M dengan membubuhkan gambar Khalifah dan kalimat syahadat dipinggir koin. 

Hal tersebut menimbulkan perselisihan antara Khalifah Abdul Malik bin Marwan dengan Kaisar Bizantium. Koin Umayyah yang dibuat Abdul Malik bin Marwan menekankan keesaan pada Tuhan untuk melawan doktrin Trinitas Kristen. Kemudian Kaisar Bizantium Justian II menanggapi koin yang dicetak oleh Abdul Malik bin Marwan dengan menggambarkan kepala Kristus di bagian depan koin dan gambar dirinya yang memegang salib di bagian belakang koin.

Selengkapnya