Anjuran Merayakan Maulid Nabi Menurut Imam Jalaluddin as-SuyuthiKincai Media– Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di beragam bagian bumi kembali memperbincangkan dan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengah masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, peringatan merayakan Maulid Nabi biasanya diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, shalawat, pembacaan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, pengajian, serta beragam corak infak dan pemberian makanan.
Namun, gimana sebenarnya norma merayakan dan memperingati Maulid Nabi menurut perspektif fikih?
Persoalan ini telah dibahas oleh sejumlah ustadz sejak beratus-ratus tahun silam. Salah satu ustadz yang secara unik membahasnya adalah Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitab al-Hawi lil Fatawi, pada pembahasan yang diberi titel Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid (Tujuan yang Baik dalam Pelaksanaan Maulid).
Menurut Imam as-Suyuthi menilai bahwa penyelenggaraan Maulid dalam corak berkumpul, membaca Al-Qur’an, menceritakan sejarah Nabi, kemudian menyajikan makanan, merupakan bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala, selama kegiatan tersebut tidak disertai kemaksiatan.
Lebih jauh, Imam as-Suyuthi membuka pembahasannya dengan menjelaskan pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai norma Maulid Nabi:
الحمد لله وسلام على عباده الذين اصطفى، وبعد، فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟
“Segala puji bagi Allah dan keselamatan semoga tercurah kepada hamba-hamba-Nya yang telah dipilih-Nya. Amma ba’du, telah diajukan pertanyaan mengenai penyelenggaraan Maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Bagaimanakah hukumnya menurut syariat? Apakah dia merupakan sesuatu yang terpuji alias tercela? Dan apakah orang yang melaksanakannya memperoleh pahala alias tidak?” (Imam Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawa, (Beirut: Darul Fikr lit Thaba’ah wan Nasyr, 2004), Jilid I, laman 222.)
Imam as-Suyuthi kemudian memberikan jawaban:
الجواب: عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات، ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك، هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف.
“Jawaban: Menurut pendapat saya, pada dasarnya penyelenggaraan Maulid—yaitu berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah dibaca, meriwayatkan berita-berita tentang permulaan kehidupan Nabi ﷺ dan beragam tanda-tanda yang terjadi ketika kelahiran beliau, kemudian disediakan hidangan untuk mereka makan, lampau mereka pulang tanpa melakukan tambahan apa pun di luar perihal tersebut—merupakan bid‘ah yang baik (bid‘ah hasanah), yang pelakunya mendapatkan pahala. Hal itu lantaran di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi ﷺ, serta menampakkan kegembiraan dan rasa suka cita atas kelahiran beliau yang mulia.” (Imam Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawa, Jilid I, laman 222)
Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar krusial bagi ustadz yang membolehkan apalagi menganjurkan peringatan Maulid Nabi. Yang perlu diperhatikan, Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa nilai adalah corak kegiatan yang dilakukan dalam peringatan tersebut, seperti membaca Al-Qur’an, mempelajari sejarah Nabi, bershalawat, dan memberi makan orang lain.
Salah satu argumen Imam as-Suyuthi memandang Maulid sebagai bid’ah hasanah adalah lantaran kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat manusia. Melalui beliau, Allah SWT menyampaikan risalah Islam dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju sinar tauhid.
Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya; “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” QS Yunus [10]: 58.
Para ustadz yang membolehkan Maulid memahami bahwa kelahiran Rasulullah SAW merupakan nikmat yang sangat besar. Karena itu, menampakkan kegembiraan dengan cara-cara yang dibenarkan hukum dapat menjadi corak rasa syukur kepada Allah SWT.
Nabi SAW Sendiri Mengingat Hari Kelahirannya
Salah satu sabda yang sering dijadikan dasar pembahasan mengenai Maulid adalah sabda tentang puasa hari Senin.
Ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa pada hari Senin, beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Artinya; “Itu adalah hari ketika saya dilahirkan dan hari ketika saya diutus alias diturunkan wahyu kepadaku.”(HR, Imam Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengaitkan ibadah dengan hari kelahirannya. Dalam konteks itulah sebagian ustadz kemudian melakukan takhrij norma Maulid melalui prinsip syukur atas nikmat Allah. Lebih jauh, Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga mengutip pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani mengenai Maulid.
Ibnu Hajar menjelaskan:
أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا.
Artinya; “Pada dasarnya penyelenggaraan Maulid merupakan bid’ah yang tidak dinukil dari seorang pun dari kalangan salaf saleh pada tiga generasi pertama. Namun, kegiatan tersebut mengandung beragam kebaikan dan sebaliknya juga dapat mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat.
Maka, siapa yang berupaya memasukkan hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, Maulid yang dilakukannya menjadi bid’ah hasanah. Jika tidak, maka tidak demikian.”
Ibnu Hajar kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sabda tentang puasa Asyura. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau mengetahui bahwa orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai corak syukur lantaran Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan menenggelamkan Fir’aun.
Dari peristiwa tersebut, Ibnu Hajar memahami adanya prinsip berterima kasih kepada Allah atas suatu nikmat pada hari tertentu, kemudian melakukan corak ibadah yang sesuai sebagai ungkapan syukur.
Menurutnya, beragam corak ibadah dapat menjadi ekspresi syukur, seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, memberi makan, dan membaca puji-pujian kepada Nabi yang mendorong seseorang melakukan kebaikan.