Kendaraan melintas di jalan yang retak akibat gempa bumi di area Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Manggarai Timur menjadi salah satu daerah yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah tercatat mengalami kerusakan.
Kincai Media, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memantau perkembangan akibat gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah kondisi tersebut, Kemenhaj memastikan jasa kepada jamaah haji tetap berjalan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di daerah terdampak.
Kepala Biro Umum Kementerian Haji dan Umrah, Slamet mengatakan, keberlangsungan pelayanan kepada jamaah menjadi perhatian Kemenhaj, termasuk ketika terjadi kondisi kedaruratan di daerah. Kemenhaj terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan jasa publik tetap dapat diberikan secara optimal.
“Kami memastikan jasa kepada jamaah haji tetap berlangsung. Pada saat yang sama, kami terus memantau perkembangan kondisi akibat gempa di NTT dan berkoordinasi dengan pihak mengenai untuk memastikan pelayanan dapat melangkah dengan baik sesuai situasi di lapangan,” kata Slamet di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Menurut Slamet, aspek keselamatan dan kondisi masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan pelayanan. Apabila kondisi di suatu daerah memerlukan penyesuaian teknis terhadap layanan, Kemenhaj bakal mengambil langkah sesuai perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan lembaga terkait.
“Kami memahami bahwa masyarakat di daerah terdampak saat ini menghadapi situasi yang tidak mudah. Karena itu, pelayanan kudu tetap melangkah dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, keselamatan petugas maupun masyarakat, serta kebutuhan jasa yang paling mendesak,” ujarnya.
Slamet juga menyoroti kondisi dua satuan kerja daerah yang terdampak paling parah akibat guncangan gempa, ialah Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj) Kabupaten Manggarai dan Kankemenhaj Kota Ende. Kemenhaj memberikan perhatian unik serta menyiapkan langkah mitigasi operasional bagi kedua daerah tersebut.
“Berdasarkan laporan dan pemantauan kami di lapangan, Kankemenhaj Kabupaten Manggarai dan Kankemenhaj Kota Ende merupakan dua titik yang mengalami akibat paling parah. Kami memastikan keselamatan para petugas dan jamaah di kedua daerah tersebut menjadi prioritas utama. Untuk itu, kami tengah menyiapkan skema penyesuaian jasa agar kebutuhan jamaah di Manggarai dan Ende tetap tertangani dengan baik dan aman,” ujar Slamet.
Dalam memastikan keberlangsungan layanan, Kemenhaj terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga mengenai untuk memperoleh info perkembangan kondisi di lapangan. Koordinasi tersebut diperlukan agar langkah pelayanan dapat dilakukan secara tepat dan responsif sesuai kebutuhan masyarakat.
Slamet mengimbau jamaah haji dan masyarakat di daerah terdampak untuk tetap tenang serta mengikuti info yang disampaikan melalui kanal resmi pemerintah. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan info yang belum terverifikasi.
“Jika terdapat perubahan alias penyesuaian jasa akibat kondisi di lapangan, info bakal disampaikan melalui kanal resmi Kemenhaj. Kami membujuk masyarakat untuk tetap mengikuti info resmi dan tidak terpengaruh oleh info yang belum dapat dipastikan kebenarannya,” ujar Slamet.
Kemenhaj memastikan pemantauan terhadap kondisi di daerah terdampak bakal terus dilakukan. Keberlangsungan jasa kepada jamaah tetap menjadi bagian dari komitmen Kemenhaj dalam memberikan pelayanan publik yang responsif, aman, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah dan masyarakat.