5 Alasan Fast Fashion Harus Ditinggalkan, Tren Quality over Quantity Makin Dipilih

Portal Media Gen Z oleh Waktu baca 6 menit 508x dilihat
5 Alasan Fast Fashion Harus Ditinggalkan, Tren Quality over Quantity Makin Dipilih

Bagikan Postingan

Written by Adila Putri Anisya

1 Day Ago

Alasan fast fashion harus ditinggalkan semakin relevan di tengah perubahan langkah orang berbelanja pakaian. Koleksi baru yang terus bermunculan dan nilai yang terjangkau memang membikin fast fashion susah ditolak. Namun, kebiasaan membeli banyak busana dalam waktu singkat juga mempunyai dampak, mulai dari konsumsi berlebihan hingga menumpuknya limbah tekstil.

Di sisi lain, konsumen sekarang mulai mempertimbangkan kualitas dan nilai jangka panjang dari produk yang dibeli. Perubahan ini juga terlihat dari informasi Lazada Indonesia yang mencatat meningkatnya permintaan terhadap produk berbobot tinggi dari brand tepercaya dan ternama. Lantas, apa saja argumen fast fashion mulai ditinggalkan?

Baca juga: Menurut Stylist, 10 Tips Fashion Ini Wajib Dicoba Agar Terlihat Langsing! 

Ini Alasan Fast Fashion Harus Ditinggalkan

Ini Alasan Fast Fashion Harus Ditinggalkan Sumber foto:  Magnific

Fast fashion menawarkan kemudahan untuk mengikuti tren dengan nilai yang relatif murah. Namun, ada beberapa perihal yang perlu dipertimbangkan sebelum terus mengikuti siklus shopping busana yang cepat.

1. Mendorong Kebiasaan Belanja Impulsif

Dilansir dari Joe’s Daily, fast fashion membikin tren dan koleksi baru terus datang dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat mendorong konsumen untuk membeli secara impulsif, terutama ketika menemukan diskon, promo, alias busana yang sedang viral.

Beberapa perihal yang membikin seseorang mudah tergoda membeli fast fashion antara lain:

  • Harga yang terlihat murah.
  • Promo dengan waktu terbatas.
  • Tren yang sigap berubah.
  • Pengaruh media sosial dan influencer.

Akibatnya, Anda bisa membeli busana yang sebenarnya enggak terlalu dibutuhkan. Lemari pun semakin penuh, tetapi enggak semua busana betul-betul sering digunakan.

2. Rugi untuk Masa Depan 

Harga murah sering menjadi argumen utama seseorang membeli fast fashion. Namun, dilansir dari Joe’s Daily, model produksi fast fashion yang mengutamakan kecepatan dan jumlah dapat membikin produk lebih berfokus untuk mengikuti tren jangka pendek.

Pakaian dengan kualitas yang kurang baik berpotensi:

  • Lebih sigap pudar.
  • Mudah melar alias berubah bentuk.
  • Memiliki jahitan yang kurang awet.
  • Lebih sering perlu diganti.

Jika Anda kudu terus membeli busana baru untuk menggantikan peralatan yang sigap rusak, pengeluaran dalam jangka panjang justru bisa bertambah. Karena itu, membeli lebih sedikit busana dengan kualitas yang lebih baik dapat memberikan nilai pakai yang lebih panjang.

3. Memicu Konsumsi Pakaian Berlebihan

Salah satu argumen fast fashion kudu ditinggalkan adalah lantaran sistemnya mendorong konsumen untuk terus membeli. Ketika tren baru muncul nyaris setiap saat, busana yang sebelumnya dianggap menarik bisa terasa sigap ketinggalan zaman.

Model upaya fast fashion berangkaian dengan overconsumption dan overproduction. Pakaian diproduksi dalam jumlah besar, sementara konsumen terus didorong untuk menambah koleksi.

Sebelum checkout, coba tanyakan beberapa perihal berikut kepada diri sendiri:

  • Apakah saya betul-betul memerlukan busana ini?
  • Apakah saya bakal sering memakainya?
  • Apakah saya sudah mempunyai busana yang fungsinya mirip?
  • Apakah saya membelinya lantaran suka alias hanya lantaran sedang tren?

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu Anda berbelanja dengan lebih sadar.

4. Menambah Masalah Limbah Tekstil

Dampak fast fashion enggak berakhir ketika busana masuk ke lemari. Ketika busana hanya digunakan beberapa kali lampau dibuang, jumlah limbah tekstil pun semakin bertambah.

Dilansir dari Greenpeace, industri fashion mempunyai akibat terhadap lingkungan, termasuk emisi karbon, penggunaan air dalam jumlah besar, dan limbah tekstil. Greenpeace juga menyoroti penggunaan polyester yang memerlukan waktu sangat lama untuk terurai.

Siklusnya pun sering terjadi seperti ini:

  1. Membeli lantaran tertarik tren alias nilai murah.
  2. Memakai hanya beberapa kali.
  3. Tren berganti alias busana mulai rusak.
  4. Pakaian enggak lagi digunakan.
  5. Membeli busana baru sebagai gantinya.

Kebiasaan ini dapat terus berulang dan membikin busana semakin mudah diperlakukan sebagai peralatan sekali pakai.

5. Membuat Kita Terus Mengejar Tren yang Cepat Berlalu

Fast fashion berkembang dari tren yang bergerak sangat cepat. Sesuatu yang terkenal hari ini belum tentu tetap diminati beberapa bulan kemudian.

Fokus pada tren yang sigap berubah dapat membikin seseorang terus memperbarui isi lemari. Padahal, mempunyai busana dengan kreasi yang sesuai individual style dan mudah dipadukan bisa membikin Anda enggak selalu merasa perlu membeli sesuatu yang baru.

Membangun koleksi busana yang lebih timeless juga bisa membantu Anda menggunakan peralatan dalam waktu lebih lama.

Baca juga: Cara Menjadi Fashion Influencer Pemula agar Cepat Dilirik Brand, Berani Mulai dari Gimmick! 

Kini Tren Quality over Quantity Makin Dipilih

Kini Tren Quality over Quantity Makin DipilihSumber foto: Magnific

Menariknya, di tengah kebiasaan konsumsi yang mulai berubah, konsumen sekarang semakin mempertimbangkan kualitas dan nilai tambah dari produk yang dibeli.

Lazada Indonesia mencatat permintaan kuat terhadap produk autentik dari brand tepercaya dan ternama. Sepanjang semester I 2026, permintaan terhadap produk berbobot tinggi dari brand tergolong premium di LazMall, kanal official store Lazada, meningkat nyaris 3 kali lipat dibandingkan periode Januari–Juni 2025.

Pertumbuhan tersebut juga enggak hanya terjadi di satu kategori.

Fashion hingga Produk Kecantikan Sama-sama Tumbuh

Berdasarkan informasi Lazada Indonesia, pertumbuhan permintaan terhadap produk berbobot tinggi tercatat di sejumlah kategori, yaitu:

  • Fashion: subkategori busana wanita meningkat hingga 4 kali lipat.
  • Peralatan rumah tangga: subkategori peralatan dapur dan makan meningkat hingga 3 kali lipat.
  • Elektronik: subkategori kamera dan drone meningkat hingga 2,1 kali lipat.
  • FMCG: produk kecantikan meningkat hingga 1,5 kali lipat.

Data tersebut menunjukkan bahwa konsumen semakin mementingkan nilai tambah produk untuk mendukung alias meningkatkan kehidupan sehari-hari. Pergeseran ini pun enggak terbatas pada satu kebutuhan saja, tetapi terlihat mulai dari fashion hingga produk rumah tangga dan elektronik.

Produk Beauty Juga Menjadi Small Luxury

Di kategori kecantikan, Lazada Indonesia memandang tren permintaan terhadap produk autentik dari brand tepercaya dan ternama yang berangkaian dengan kejadian lipstick effect.

Produk berbobot tinggi dipandang sebagai small luxury, ialah produk yang dapat memberikan pengalaman dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi tetap relatif terjangkau.

Lazada Indonesia mencatat lonjakan permintaan tertinggi pada produk kecantikan berbobot tinggi dari brand premium, yaitu:

  1. Skincare wanita
  2. Bath & body care
  3. Makeup
  4. Fragrances
  5. Skincare pria

Tren tersebut menunjukkan bahwa konsumen mulai memandang produk yang dibeli bukan hanya dari jumlah alias nilai termurah, tetapi juga dari kualitas dan nilai yang diberikan.

Quality over Quantity Bukan Berarti Harus Beli Barang Mahal

Quality over Quantity Bukan Berarti Harus Beli Barang MahalSumber foto: Magnific

Memilih quality over quantity enggak berfaedah Anda kudu langsung mengganti seluruh isi lemari dengan peralatan mahal. Konsep ini lebih tentang mengubah langkah berbelanja agar lebih sadar.

Kamu bisa mulai dengan:

  • Membeli busana sesuai kebutuhan.
  • Memilih busana yang mudah dipadukan.
  • Memeriksa bahan dan kualitas jahitan.
  • Memilih peralatan yang kemungkinan bisa digunakan dalam waktu lama.
  • Merawat busana agar enggak sigap rusak.
  • Enggak langsung checkout hanya lantaran sebuah tren sedang viral.

Alasan fast fashion kudu ditinggalkan bukan berfaedah Anda kudu berakhir menikmati fashion alias enggak boleh membeli busana baru. Kamu tetap bisa tampil stylish dan mengikuti perkembangan fashion, tetapi dengan pilihan yang lebih sadar. Membeli lebih sedikit dan memilih produk dengan kualitas yang lebih baik bisa menjadi langkah sederhana untuk mengikuti perubahan tren menuju quality over quantity.

Baca juga: 5 Tren Fashion 2026 Versi Pinterest yang Diprediksi Bakal Viral 

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Portal Media Gen Z
↑
Close Right Ads
Close Left Ads