5 Cara Mengenalkan Anak tentang Pertemanan Toxic di Sekolah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 506x dilihat
5 Cara Mengenalkan Anak tentang Pertemanan Toxic di Sekolah

Bagikan Postingan

Jakarta -

Pertemanan toxic bisa merusak karakter anak dan apalagi membuatnya jadi tidak percaya diri. Bagaimana cara mengenalkan pertemanan toxic pada anak?

Bagi anak-anak, pertemanan merupakan salah satu bagian krusial dalam kehidupannya. Dari afiliasi pertemanan, anak berguru berbagi, bekerja sama, memahami emosi orang lain, sekaligus mengenal batasan.

Namun kenyataannya, tidak semua pertemanan memberikan pengalaman yang positif. Ada kalanya anak terjebak dalam pertemanan toxic yang membuatnya merasa tertekan.


Apa itu pertemanan toxic?

Seiring bertambahnya usia, anak terus tumbuh dan berubah. Oleh karena itu, afiliasi pertemanan pun tidak selalu berjalan mulus. Bahkan dalam pertemanan yang dekat, bisa saja ada masa ketika anak merasa kecewa, sedih, alias tidak nyaman.

Tidak jarang pula anak merasa dekat dengan seseorang yang sekaligus menjadi kawan dan saingan, alias biasa disebut frenemy.

"Sebuah pertemanan bisa dikatakan toksik jika afiliasi tersebut memberikan akibat buruk bagi kedua pihak," ungkap psikolog klinis, Laura Kastner, Ph.D, dikutip dari Parent Map.

Menurutnya, dalam pertemanan toksik, orang tua mungkin melihat adanya manipulasi, perilaku mengontrol, serta akibat negatif terhadap kesejahteraan emosional anak. 
Tak cuma bisa dialami oleh salah satu pihak, tetapi sering kali juga dapat berakibat pada keduanya.

Dalam pertemanan seperti ini, setidaknya salah satu anak mungkin merasa direndahkan, tidak mendapat dukungan, alias terus-menerus dikritik. 

Ciri-ciri tersebut sebenarnya dapat muncul pada beragam usia, tetapi bentuknya biasanya menjadi semakin kompleks ketika anak bertambah besar.

Perbedaan pertemanan toxic dan bullying

Pertemanan toksik juga berbeda dengan bullying alias perundungan, Bunda. Kastner mengklarifikasi bahwa bullying umumnya merupakan afiliasi yang diwarnai aksi menyakiti alias menyiksa secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dengan adanya ketimpangan kekuatan antara kedua pihak.

Sementara itu, kawan yang toksik tidak selalu bersikap buruk sepanjang waktu. Ia apalagi bisa membikin anak merasa didukung, mengajaknya bermain, dan membikin anak statis ingin berada di dekatnya. 

Akan tetapi di tengah afiliasi tersebut juga dapat muncul perilaku yang merendahkan. Bisa juga anak jadi berasa ditekan alias dibuat merasa tidak berharga.

Ciri-ciri pertemanan toxic

Terapis pernikahan dan keluarga, Emily Zeller, LMFT, mengklarifikasi bahwa kawan toksik adalah seseorang yang secara konsisten memberitahu perilaku yang memanipulasi, alias menyakiti anak, baik secara emosional, sosial, maupun fisik.

Menurut Zeller, pertemanan toksik juga biasanya ditandai dengan pola perilaku yang tidak sehat. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Selalu bersikap negatif (contohnya sering merendahkan anak, mengejek, alias membuatnya merasa tidak betah dengan dirinya sendiri).
  • Suka mengontrol alias bersikap pencemburu (contohnya seperti menentukan dengan siapa anak boleh berkawan alias berang berlebihan ketika anak bermain dengan kawan lain).
  • Menciptakan drama dan berbuat manipulasi (misalnya membikin anak merasa bersalah, menyebarkan rumor, alias menguji untuk membuktikan kesetiaan).
  • Hubungan yang cuma berjalan satu arah (contohnya selalu ingin mendapatkan perhatian alias bantuan tetapi jarang memberikan dukungan kepada anak).
  • Memberikan tekanan negatif (seperti membujuk anak berbuat perilaku berisiko, bolos sekolah, alias berbuat bullying).

Bagaimana tanda anak mengalami pertemanan toxic?

Seiring bertambah usia, anak statis terus berguru memahami beragam hal dalam kehidupan, termasuk bagaimana menjalin pertemanan yang baik. Karena itu, sangat wajar jika sesekali anak berbuat kesalahan alias tanpa sengaja menyakiti emosi temannya.

Kastner mengklarifikasi bahwa sejak usia dini, anak sebenarnya sudah mulai berguru memahami dinamika dominasi dalam afiliasi sosial. Beberapa perilaku yang kurang baik dalam pertemanan juga bisa menjadi bagian dari proses berguru tersebut.

Meski begitu, Bunda perlu lebih waspada ketika perilaku negatif tersebut muncul berulang kali. Salah satu hal krusial untuk diperhatikan adalah seberapa sering, seberapa intens, dan seperti apa pola perilaku tersebut terjadi dalam pertemanan anak.

Perubahan perilaku anak juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Amati apakah anak mulai mengalami fluktuasi dalam kebiasaan sehari-hari.

Misalnya, anak yang sebelumnya tidur dan makan dengan baik tiba-tiba mengalami perubahan. Anak yang biasanya bahagia bermain di taman sepulang sekolah juga mendadak ingin segera pulang.

Begitu pula jika anak tiba-tiba tidak ingin mengikuti aktivitas olahraga yang sebelumnya sangat disukainya.

Mengenali pertemanan toxic pada anak

Anak Ketahuan Bolos Sekolah? Ini 7 Cara Tepat Orang Tua MenghadapinyaIlustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/takasuu

Mengenali bahwa sebuah pertemanan tidak sehat bukan hal yang gampang bagi anak. Bahkan ketika mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, anak belum tentu bisa mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua sebaiknya tidak langsung memberitahu reaksi yang terlalu keras.

"Meski rasanya sulit, tapi sebaiknya orang tua jangan langsung menjelek-jelekkan kawan anak. Hal itu justru bisa membikin anak semakin dekat dengan temannya," ungkap terapis trauma dan kecemasan, Cheryl Groskopf, LMFT, LPCC.

Alih-alih langsung menyalahkan teman, Groskopf menyarankan orang tua untuk memberitahu rasa ingin tahu. Cobalah mengajukan pertanyaan yang membantu anak memahami pengalamannya sendiri.

Misalnya, 'Apakah Anda merasa aman dan bisa menjadi dirimu sendiri saat berbareng kawan itu?' alias 'Kalau kalian punya gagasan berbeda, apakah Anda bisa menyampaikan pendapatmu?'

Bunda juga dapat bertanya mengenai apa yang dirasakan anak ketika berada di dekat kawan tersebut. Apakah dia merasa tegang, takut, sedih, alias justru betah dan biasa saja?

Cara mengenalkan anak tentang pertemanan toxic di sekolah

Menurut Groskopf, tujuan pembicaraan bukan untuk buru-buru memberi label bahwa seseorang adalah kawan toksik. Hal yang lebih krusial adalah membantu anak mengenali dan mendengarkan 'alarm' dari dalam dirinya ketika menghadapi pertemanan yang tidak sehat.

Berikut beberapa cara mengenalkan anak tentang pertemanan toksik di sekolahnya:

1. Jelaskan tentang pertemanan sehat 

Sebelum membujuk anak mengenali pertemanan toksik, orang tua sebaiknya terlebih dahulu mengklarifikasi seperti apa afiliasi pertemanan yang sehat.

Misalnya afiliasi pertemanan yang saling menghargai, ingin bergantian, tidak memaksa, bersedia meminta ampun ketika berbuat kesalahan, dan membikin satu sama lain merasa aman.

Dengan memahami ciri-ciri tersebut, anak akan memiliki gambaran mengenai bagaimana seharusnya seorang kawan memperlakukannya.

2. Ajarkan anak mengenali perilaku yang tidak baik

Jelaskan kepada anak bahwa setiap kawan tentu bisa berbuat kesalahan. Namun, ada perilaku yang tidak seharusnya dianggap wajar jika dilakukan berulang kali.

Contohnya seperti sering mengejek alias mempermalukan, mengancam, mengucilkan, memaksa anak berbuat sesuatu, mengatur siapa yang boleh menjadi temannya, alias membikin anak merasa harus selalu mengikuti keinginan orang lain.

Gunakan contoh yang dekat dengan hayat sehari-hari agar anak lebih gampang memahami perbedaan antara bentrokan pertemanan biasa dan perilaku yang sudah tidak sehat.

3. Ajak anak mendengarkan perasaannya sendiri

Anak juga perlu memahami bahwa emosi yang mereka alami juga sesuatu yang penting. 

Jika anak berulang kali merasa takut, tertekan, sedih, alias kehilangan rasa percaya diri setelah berhubung dengan seseorang, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian orang tua.

4. Latih anak berani menolak dan membikin batasan

Anak perlu memahami bahwa dia memiliki kewenangan untuk menolak perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Ajarkan beberapa kalimat sederhana yang bisa digunakan, seperti, "Aku tidak demen jika Anda mengejekku" alias "Aku tidak ingin berbuat itu".

Orang tua dapat melatihnya melalui roleplay di rumah. Dengan begitu, anak bisa lebih terbiasa dan percaya diri ketika harus menghadapi situasi serupa di sekolah.

5. Pastikan anak tahu kapan harus meminta bantuan

Terakhir, pastikan anak memahami bahwa dia tidak harus menghadapi masalah pertemanan sendirian.

Jika ada kawan yang terus mengganggu, mengancam, berbuat kekerasan, mengucilkan, alias membuatnya merasa tidak aman, ajarkan bahwa dia boleh dan perlu beriwayat kepada orang dewasa yang dipercaya.

Dikutip dari Psychology Today, ketika anak sedang beriwayat tentang masalah pertemanannya, cobalah terlebih dahulu memahami dan memvalidasi emosi anak.

Respons yang memberitahu empati dapat membikin anak merasa dipahami dan lebih dekat dengan orang tua. Anak pun bisa merasa bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi masalah tersebut.

Itulah klarifikasi mengenai cara-cara mengenalkan anak tentang pertemanan toxic di sekolah. Dalam kasus yang lebih serius, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan pihak sekolah alias guru.

Bagi Bunda yang ingin sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads