5 Mitos Setelah Melahirkan Yang Sering Bikin Salah Paham, Ketahui Faktanya

Apr 28, 2026 01:50 PM - 3 jam yang lalu 147

Jakarta -

Tubuh Bunda setelah melahirkan memasuki fase baru yang terkadang penuh kejutan. Namun, banyak mitos seputar tubuh Bunda setelah melahirkan yang beredar. Ini membikin sejumlah wanita khawatir. Karena itu, krusial untuk memahami faktanya.

Bunda mungkin pernah mendengar pernyataan ini, "Menyusui membantu ibu menurunkan berat badan lebih cepat," alias "Bunda perlu menunggu 6 minggu untuk berolahraga." Keduanya ini merupakan dua mitos umum yang beredar seputar periode setelah seseorang melahirkan.

Christine Feigal, MD, seorang master kandungan bersertifikasi dan wakil ketua Departemen Kebidanan dan Ginekologi di MemorialCare Long Beach Medical Center, merasa bahwa masa pasca persalinan sering disalahpahami. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Ini adalah salah satu transisi paling signifikan yang dialami tubuh," kata Dr. Feigal dilansir dari Parents. 

Menurutnya, setelah melahirkan bakal memberikan banyak perubahan baik fisik, hormonal, maupun emosional. Namun, banyak orang tidak percaya pemulihan yang normal seperti apa. Dan banyak info yang diterima orang tua baru berasal dari media sosial, teman, alias nasihat yang tujuannya baik namun tak selalu akurat.

Mitos seputar tubuh Bunda setelah melahirkan

Dr Feigal menjelaskan, mitos-mitos ini dapat memberikan akibat untuk kesehatan bentuk alias emosional orang tua baru. Padahal, dengan memahami apa yang normal, apa yang tidak normal, biaya kapan kudu meminta dukungan, dapat membantu proses pemulihan dan membantu orang konsentrasi pada penyembuhan.

Berikut beberapa mitos seputar tubuh setelah Bunda melahirkan:

Sebagian besar orang bakal kehilangan rata-rata 5 kilogram (13 pon) segera setelah melahirkan lantaran sudah tidak lagi membawa janin yang sedang berkembang, plasenta, dan cairan ketuban. Namun, penurunan berat badan normal bervariasi, terlepas dari metode menyusui alias tidak.

"Banyak orang diberi tahu bahwa menyusui secara otomatis bakal menyebabkan penurunan berat badan yang cepat, tetapi itu tidak betul untuk semua orang,” kata Dr Feigal. 

Dr Feigal bilang, menyusui tidak boleh dianggap sebagai strategi penurunan berat badan. Melainkan bermaksud untuk memberi nutrisi pada bayi dan mendukung ikatan.

Dr Feigal mengakui bahwa menyusui dapat membakar kalori. Tapi, pada saat yang sama, prolaktin ialah hormon yang membantu tubuh memproduksi ASI, dapat menyebabkan tubuh menahan lemak.

"Selain itu, faktor-faktor seperti kurang tidur, stres, genetika, dan nutrisi secara keseluruhan semuanya berperan," kata Dr Feigal.

2. Bunda tidak boleh berolahraga sama sekali selama 6 minggu

Ashley Reid, mahir fisiologi olahraga bersertifikasi ACSM, mengatakan sebagian besar ibu baru hanya mempunyai satu kali kunjungan pasca persalinan pada minggu ke-6. Saat itu penyedia jasa kesehatan bakal memberi tahu Bunda 'diizinkan' untuk berolahraga alias belum.

"Pesan ini sering disalahpahami sebagai perlunya menunggu hingga enam minggu sebelum melakukan aktivitas apa pun," kata Reid, penulis kitab Active Mom: Your Guide to Feeling Strong and Confident in Pregnancy, Postpartum, and Beyond. 

Menurutnya, kunjungan enam minggu itu pemeriksaan medis untuk memastikan rahim mengecil, pendarahan berkurang, dan sayatan telah sembuh. "Namun, kunjungan ini bukanlah penilaian olahraga yang komprehensif," ujar Reid.

Reid menunjukkan bahwa pemeriksaan tersebut tidak memastikan apakah otot dasar panggul ibu sudah siap untuk rutinitas kebugaran pra-persalinan alias apakah dia berada dalam kondisi emosional terbaik untuk memprioritaskan kebugarannya.

Pedoman Kanada 2025 untuk Aktivitas Fisik, Perilaku Sedenter & Tidur Sepanjang Tahun Pertama Pascapersalinan menyarankan peregangan dan melangkah kaki sejak dini. Bunda dapat meningkatkan kegiatan sesuai dengan kecepatan masing-masing berasas pemulihan individu.

"Ini mungkin berupa peregangan dada setelah membungkuk saat menyusui, alias melangkah kaki selama sepuluh menit sementara pasangan Anda memandikan bayi,” kata Reid. 

Namun, Bunda kudu menunggu lampu hijau sebelum meningkatkan intensitas menjadi sedang hingga berat. Dan jika diizinkan pada pemeriksaan enam minggu, ingatkan diri sendiri bahwa pengobatan tidak berhujung pada enam minggu.

"Otot dan jaringan memerlukan waktu beberapa bulan untuk mendapatkan kembali kekuatannya," katanya.

Karena itu, Reid menyarankan untuk menggunakan bulan-bulan awal setelah melahirkan untuk konsentrasi membangun fondasi yang kuat untuk kegiatan bentuk yang berkepanjangan dan mencapai tujuan kebugaran di kemudian hari.

3. Tidak bisa mengandung jika tidak menstruasi alias sedang menyusui

"Ini mempunyai jawaban yang sangat sederhana: Anda tetap bisa mengandung jika sedang menyusui (atau tidak menstruasi)," kata Suzanne Frasca, DO, FACOG, kepala kebidanan di Healthy Woman Obstetrics and Gynecology di Hackensack Meridian Health.

Dr Frasca mengatakan, ovulasi dapat terjadi pada wanita yang menyusui, apalagi jika tidak teratur. Faktanya, menstruasi yang dipicu hormon memerlukan ovulasi terjadi terlebih dahulu.

"Jika menyusui secara eksklusif, berada dalam enam bulan setelah melahirkan, dan belum mengalami menstruasi, kesempatan untuk mengandung jauh lebih rendah," kata Dr. Frasca.

Dr Frasca mengingatkan meski peluangnya jauh lebih rendah, bukan berfaedah tidak ada sama sekali. Bunda tetap bisa berovulasi sebelum menstruasi pertama. Cara terbaik untuk tetap aktif secara seksual dan mencegah kehamilan adalah melalui kontrasepsi.

"Ada banyak pilihan kontrasepsi yang kondusif dan efektif selama menyusui,” kata Dr Frasca. 

Untuk itu, pasangan suami istri (pasutri) kudu mendiskusikan pilihan ini dengan master kandungan untuk menentukan metode terbaik untuk Bunda.

4. Jahitan pasti bakal menyembuhkan robekan vagina

Jahitan pada robekan memek menjadi salah satu bagian dari proses penyembuhan, tetapi bukan keseluruhan proses. "Jahitan membantu jaringan menyatu dengan benar, tetapi tidak secara otomatis mengembalikan kekuatan, fleksibilitas, alias fungsi," kata Dr Feigal. 

Menurutnya, pengobatan berjuntai pada tingkat keparahan robekan, kesehatan jaringan, aliran darah, dan perawatan pasca persalinan.

Dr Feigal mengatakan bahwa robekan ringan seringkali dapat sembuh dengan baik dalam beberapa minggu, tetapi robekan yang lebih signifikan dapat menyantap waktu lebih lama. Ibu yang baru melahirkan untuk pertama kalinya mungkin juga mempunyai proses pengobatan yang lebih lama, tetapi pemulihan setelah melahirkan bervariasi.

"Nyeri, tarikan, alias ketidaknyamanan yang berkelanjutan, terutama saat berasosiasi intim, bukanlah sesuatu yang kudu diterima sebagai perihal yang normal," kata Dr. Feigal. 

Ia bilang, rehabilitasi kesehatan panggul, mobilisasi jejak luka, dan terapi yang tepat sasaran dapat memberikan perbedaan yang berarti, apalagi berbulan-bulan alias bertahun-tahun setelah melahirkan.

5. Stretch mark pasti lantaran kurang perawatan

Banyak orang yang menyalahkan stretch mark muncul lantaran kurang perawatan kulit. Faktanya, tidak sesederhana itu. Faktor genetik berkedudukan besar, begitu pula dengan perubahan hormon selama kehamilan. 

Meskipun Bunda sudah giat pakai lotion alias minyak, belum tentu bisa mencegah stretch mark sepenuhnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya