Apakah bos Bunda punya EQ tinggi? Mari mengenali pemimpin dengan EQ tinggi di tempat kerja.
Bunda mungkin pernah merasakan perbedaan bekerja di bawah pemimpin yang mudah diajak berbincang dan tidak. Kemampuan seorang pemimpin dalam memahami perasaan, berkomunikasi, hingga menghadapi bentrok rupanya dapat memengaruhi suasana kerja secara keseluruhan.
Salah satu keahlian yang berkedudukan krusial dalam perihal tersebut adalah emotional intelligence (EQ) alias kepintaran emosional. Menurut Margaret Andrews, master kepemimpinan, pemimpin akademik, instruktur, sekaligus penulis Manage Yourself to Lead Others: Why Great Leadership Begins with Self-Understanding, kepintaran emosional menjadi salah satu aspek krusial yang membedakan pemimpin yang disukai dan dipercaya.
Andrews apalagi telah mengajarkan program kepemimpinan di Harvard selama bertahun-tahun. Ia menilai, keahlian memimpin orang lain sebenarnya dimulai dari keahlian seseorang dalam memahami dan mengelola dirinya sendiri.
Menurut Andrews, banyak orang menilai dirinya berasas niat yang dimiliki. Sementara orang lain menilai berasas perilaku yang terlihat. Oleh lantaran itu, seorang pemimpin mungkin merasa sudah bermaksud baik, namun langkah menyampaikan pesan alias merespon karyawannya bisa saja memberikan kesan berbeda.
Seperti apa karakter pemimpin dengan EQ tinggi? Berikut beberapa sikap yang dapat Bunda kenali di tempat kerja.
Apa itu kepintaran emosional?
Istilah emotional intelligence pertama kali diperkenalkan Peter Salovey dan John D. Mayer pada 1990. Andrews menjelaskan, kepintaran emosional merupakan keahlian untuk mengenali dan memahami emosi diri sendiri maupun orang lain, kemudian menggunakan pemahaman tersebut sebagai dasar dalam berpikir dan bertindak.
"Ini berfaedah kita menyadari ketika sedang mengalami suatu emosi dan mengetahui emosi apa yang sedang dirasakan. Kita juga dapat memahami emosi orang lain melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada bunyi mereka," ujar Andrews dilansir dari Parade.
Menurutnya, keahlian tersebut juga mencakup pengelolaan emosi diri sehingga seseorang dapat berkomunikasi secara lebih produktif. Andrews menyukai arti dari organisasi Six Seconds yang menyebut EQ sebagai keahlian untuk 'cerdas dalam menghadapi perasaan'.
Dalam konteks kepemimpinan, keahlian ini menjadi semakin krusial lantaran seorang pemimpin tidak hanya berhadapan dengan sasaran pekerjaan, tapi juga beragam karakter, kebutuhan, dan kondisi emosional orang-orang di dalam tim.
Mengapa EQ krusial bagi seorang pemimpin?
Andrews menyebut ada dua argumen utama kenapa kepintaran emosional krusial bagi pemimpin. Pertama, orang condong senang bekerja berbareng pemimpin yang mempunyai kepintaran emosional. Kedua, ketika tenaga kerja merasa nyaman dengan pemimpinnya, mereka condong lebih terlibat sehingga tim dapat bekerja dengan lebih baik.
Dalam sebuah latihan yang dilakukan Andrews selama nyaris dua dasawarsa kepada ribuan orang dari beragam industri dan organisasi, dia meminta peserta mengingat sosok pemimpin terbaik yang pernah mereka miliki.
"Rata-rata 85 persen argumen yang mereka berikan berangkaian dengan orang tersebut yang mempunyai kepintaran emosional," katanya.
Beberapa karakter yang paling sering disebut, antara lain pemimpin yang memberikan kepercayaan, mau mendengarkan, peduli terhadap tenaga kerja sebagai individu, memberikan support dan empati, bisa berkomunikasi dengan baik, memberikan tantangan yang sesuai, serta memberi ruang bagi tenaga kerja untuk bekerja secara mandiri.
Dengan kata lain, keahlian interpersonal dan kepintaran emosional justru sering kali lebih membekas dibandingkan keahlian teknis seorang atasan.
Menariknya, ketika Andrews bertanya apakah para peserta bersedia bekerja kembali dengan pemimpin terbaik mereka, kebanyakan mengangguk. Menurutnya, perihal tersebut merupakan salah satu tanda pemimpin yang hebat.
7 Ciri pemimpin dengan EQ tinggi
Berikut karakter pemimpin dengan EQ tinggi.
1. Mampu mengenali dan menerima emosinya
Atasan dengan EQ tinggi tidak selalu terlihat tenang setiap saat. Mereka tetap bisa merasa sedih, cemas, kecewa, marah, alias iri. Bedanya, mereka tidak berupaya menyangkal emosi tersebut.
Andrews menjelaskan, seseorang mungkin tidak menyukai emosi sedih, cemburu, alias cemas, namun tetap dapat menerima bahwa emosi tersebut sedang dirasakan.
"Ketika kita menerima emosi apa pun yang sedang kita rasakan, kita melepaskannya dan emosi tersebut dapat berlalu. Ketika kita melawannya, emosi itu justru condong bertahan," tuturnya.
Dalam bumi kerja, keahlian ini membikin pemimpin tidak serta-merta melampiaskan emosi kepada bawahannya. Ia dapat menyadari bahwa sedang jengkel sebelum mengambil tindakan alias berbincang kepada tim.
2. Memiliki kosakata emosi yang beragam
Bunda mungkin mengira seseorang yang mempunyai EQ tinggi hanya pandai mengendalikan kemarahan. Padahal keahlian tersebut dimulai dari mengenali emosi dengan lebih spesifik.
Andrews mengatakan, orang yang memahami emosinya biasanya mempunyai banyak kata untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakan. Misalnya saja, mereka dapat membedakan antara rasa jengkel alias jengkel dengan kemarahan yang sangat kuat hingga merasa geram.
Semakin bisa mengenali nuansa emosi, semakin mudah pula seseorang memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Atasan yang mempunyai keahlian ini biasanya lebih mudah menjelaskan perasaannya kepada tim tanpa menyalahkan orang lain.
Dibanding mengatakan, "Saya marah lantaran kalian tidak becus," dia dapat menjelaskan persoalan secara lebih terarah dan mencari jalan keluarnya bersama.
3. Tidak membiarkan emosi mengendalikan tindakan
Merasa marah bukan berfaedah kudu langsung memarahi orang lain. Begitu pula ketika merasa takut, seseorang tidak kudu langsung menghindari semua persoalan.
Andrews menjelaskan bahwa orang dengan kepintaran emosional memahami emosi sebagai informasi. "Emosi adalah data, bukan arahan," ujarnya.
Menurut Andrews, kemarahan dapat menjadi tanda bahwa seseorang merasa tujuannya terhalang alias batasannya dilanggar. Ketakutan dapat mengingatkan seseorang terhadap bahaya.
Kesedihan membantu manusia menyadari sesuatu yang krusial dan mencari dukungan, sementara kebahagiaan membikin seseorang menyadari hal-hal yang memberikan rasa nyaman dan sejahtera.
Atasan dengan EQ tinggi bakal menggunakan info tersebut untuk menentukan respon, bukan membiarkan emosi mengambil alih. Oleh karena itu, ketika menghadapi kesalahan karyawan, dia tidak otomatis bereaksi dengan amarah.
4. Tegas tanpa agresif
EQ tinggi bukan berfaedah selalu lembut, mengiyakan semua permintaan, alias menghindari konflik. Justru pemimpin dengan kepintaran emosional bisa menyampaikan apa yang diinginkan secara jelas tanpa merendahkan orang lain.
"Mereka mengatakan apa yang dimaksud dan betul-betul menjalankan apa yang mereka katakan, serta menyadari nilai-nilai yang mereka miliki," kata Andrews.
Menurutnya, orang yang asertif tidak berada di posisi pasif maupun agresif. Mereka bisa menyampaikan kebutuhan dan pendapat sembari mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Di tempat kerja, sikap ini bisa terlihat ketika seorang pemimpin memberikan pemisah waktu, membahas performa karyawan, alias menolak sebuah usulan tanpa membikin musuh bicara merasa tidak dihargai.
5. Mau mendengarkan dengan baik
Atasan dengan EQ tinggi tidak merasa dirinya selalu mempunyai jawaban paling benar. Mereka justru mempunyai rasa mau tahu terhadap perspektif pandang orang lain.
Andrews mengatakan, pemimpin yang mempunyai kepintaran emosional memahami bahwa setiap orang dapat memandang sebuah situasi dari perspektif yang berbeda. Untuk itu, mereka terbuka untuk mendengarkan pandangan tersebut.
Kebiasaan mendengarkan juga membantu pemimpin memahami persoalan secara lebih utuh. Karyawan pun condong merasa pendapatnya dihargai, bukan sekadar diminta menjalankan instruksi.
6. Punya empati tinggi
Hubungan yang baik di tempat kerja tidak hanya dibangun dengan bersikap ramah. Menurut Andrews, terdapat perbedaan antara menjadi 'baik' dalam makna menyenangkan dan seseorang yang betul-betul peduli serta membantu orang lain.
Untuk itu, pemimpin dengan EQ tinggi tetap dapat melakukan percakapan susah alias memberikan kritik ketika dibutuhkan. Bedanya, dia berupaya mengelola emosinya sendiri dan menyampaikan masukan dengan langkah yang dapat diterima karyawan.
Bagi karyawan, kritik dari pemimpin seperti ini biasanya terasa lebih konstruktif lantaran tujuannya bukan sekadar menyalahkan, melainkan membantu seseorang berkembang.
7. Mampu mempertahankan hubungan dengan sehat
Kecerdasan emosional juga terlihat dari keahlian seorang pemimpin mempertahankan hubungan kerja yang sehat. Mereka dapat memahami emosinya sendiri sekaligus menangkap kondisi emosional orang lain.
Andrews menjelaskan bahwa orang dengan kepintaran emosional bisa menggunakan info tersebut untuk merespon secara efektif. Kemampuan inilah yang membantu mereka menjaga hubungan dengan orang lain dalam jangka panjang.
Tak heran jika tenaga kerja lebih mungkin memperkuat dan kembali bekerja dengan pemimpin yang membikin mereka merasa dipercaya, didengarkan, serta dihargai. Sebaliknya, pemimpin yang kurang mempunyai kepintaran emosional dapat menciptakan suasana kerja dengan moral tim yang rendah.
Bisakah menjadi pemimpin dahsyat tanpa EQ tinggi?
Menurut Andrews, seseorang dengan beragam style kepemimpinan tetap bisa efektif, terutama dalam jangka pendek. Namun memimpin dalam jangka panjang berfaedah kudu berhadapan dengan manusia dan segala kompleksitasnya.
"Memimpin dalam jangka panjang berfaedah bekerja dengan manusia dalam segala kompleksitasnya. Mereka yang tidak mempunyai kepintaran emosional biasanya tidak terlalu baik menghadapi kompleksitas tersebut, baik kompleksitas dirinya sendiri maupun orang lain," kata Andrews.
Ia menjelaskan bahwa pemimpin dengan EQ rendah sering kali tidak menyadari gimana emosinya memengaruhi perilaku dan gimana perilaku tersebut berakibat kepada orang lain. Dampaknya pun kerap tidak positif dan dapat membikin semangat tim menurun.
Menurutnya, tenaga kerja berbakat mempunyai banyak pilihan. Mereka juga termasuk golongan yang paling mungkin meninggalkan pemimpin yang tidak bisa memimpin dengan baik.
Salah satu parameter yang dapat diperhatikan ketika sebuah perusahaan mau menemukan manajer yang bermasalah adalah tingkat pergantian tenaga kerja yang tinggi dalam timnya.
Jadi, pemimpin dengan EQ tinggi bukan berfaedah seseorang yang tidak pernah marah, kecewa, alias melakukan kesalahan. Justru mereka bisa mengenali emosi tersebut, memberi jarak sebelum bertindak, mendengarkan orang lain, serta tetap tegas ketika diperlukan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·