7 Ciri Karakteristik Orang yang Menolak Pakai AI dan ChatGPT, Bukan karena Gaptek

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 9 menit 29x dilihat
7 Ciri Karakteristik Orang yang Menolak Pakai AI dan ChatGPT, Bukan karena Gaptek

Bagikan Postingan

Zaman kini setiap orang dipermudah memakai kecerdasan buatan maupun artificial intelligence (AI). Namun, statis ada orang yang memilih tidak menggunakan ChatGPT dan beragam AI lainnya. Alasannya bukan karena nggak melek teknologi, justru sebagian besar memahami metode kerja dan khasiat AI. 

Orang-orang yang menolak memakai AI dan ChatGPT baik untuk pekerjaan, belajar, maupun hayat sehari-hari memiliki karena yang beragam. Ada yang merasa lebih betah mengerjakan sesuatu dengan kapasitas sendiri, mau mempertahankan sentuhan manusia, cemas dengan ketelitian AI, maupun punya penilaian etis dan lingkungan.

Hal ini sejalan dengan riset mengenai penggunaan AI dalam hayat sehari-hari. Sebuah studi yang menganalisis hingga 90 hari histori penelusuran web menemukan bahwa penggunaan situs AI rata-rata cuma sekitar satu persen dari aktivitas web mahasiswa, dan 0,44 persen pada penduduk umum.


Melansir YourTango, ada sejumlah ciri khas yang sering dikaitkan dengan orang yang memilih menjauhi ChatGPT dan beragam AI lainnya. Namun, daftar ini bukan berarti semua orang yang menolak AI memiliki kepribadian yang sama. Setiap orang bisa punya karena berbeda, mulai dari soal prinsip, kenyamanan, sampai kecemasan terhadap dampaknya.

Karakteristik orang yang menolak pakai AI dan ChatGPT

tidak semua orang yang mengerti teknologi merasa perlu memakai AI dalam setiap urusan. Ada yang statis betah berpikir sendiri, ada yang lebih percaya pada sentuhan manusia, dan ada pula yang merasa belum percaya dengan akibat penggunaan AI.

Berikut beberapa ciri khas yang sering dikaitkan dengan orang yang memilih tidak menggunakan ChatGPT dan AI lainnya.

1. Mereka menghargai sentuhan manusia dan pemikiran sendiri

Sebagian orang merasa bahwa proses mengerjakan sesuatu sama pentingnya dengan hasil akhirnya. Mereka mau menulis dengan kata-kata sendiri, mencari keterangan sendiri, menyusun ide sendiri, maupun memecahkan masalah tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Misalnya, seseorang mungkin lebih memilih menulis email sendiri karena merasa ada emosi tertentu yang mau disampaikan. Begitu juga ketika membikin tulisan, kartu ucapan, maupun karya kreatif. Menurut mereka, ada sesuatu yang hilang ketika seluruh proses tersebut dibuat AI.

Sikap seperti ini tidak otomatis berarti mereka anti-teknologi. Mereka bisa saja cuma memiliki batas tertentu tentang bagiankecil pekerjaan yang mau statis dilakukan manusia.

Penelitian mengenai daya cipta manusia dan AI juga memberitahu bahwa AI nggak selalu membikin proses imajinatif jadi lebih baik. Studi yang menganalisis lebih dari 4 juta karya seni dari lebih dari 50 ribu pelanggan menemukan bahwa AI dapat menaikkan kreativitas kreatif. Namun, rata-rata kekhasan visual dan konten karya justru menurun dalam beberapa aspek.

Temuan tersebut mengindikasikan adanya ruang ide yang meluas, tetapi tidak selalu diikuti proses yang efisien. Peneliti menekankan pentingnya kapasitas manusia dalam menghasilkan ide dan menyaring hasil AI.

Dari klarifikasi di atas, orang yang memilih tidak memakai AI bisa saja sedang mempertahankan bagiankecil dari proses imajinatif yang menurut mereka penting.

2. Mereka tidak gampang percaya begitu saja pada teknologi

Orang yang menolak menggunakan ChatGPT mungkin bukan karena menganggap AI selalu buruk. Mereka cuma tidak mau menerima begitu saja setiap balasan dari teknologi tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Ini cukup masuk pikiran karena AI memang bisa menghasilkan balasan yang terdengar meyakinkan, meskipun belum tentu benar. Sebuah studi dari Washington State University juga menemukan bahwa ChatGPT belum selalu konsisten memberikan jawaban.

Peneliti menguji 719 asumsi dari riset ilmiah dan memberikan pertanyaan yang sama sebanyak 10 kali. Hasilnya, ChatGPT memberikan balasan yang konsisten sekitar 73 persen dari pengujian.

Temuan ini memberitahu bahwa kecemasan terhadap ketelitian dan konsistensi AI bukan tanpa alasan. ChatGPT memang bisa membantu mencari dan mengolah informasi, tetapi akibatnya statis perlu diperiksa, terutama untuk hal-hal yang membutuhkan ketepatan.

Studi lain tentang AI aversion menemukan bahwa sebagian orang memang memberitahu respons emosional yang lebih negatif terhadap AI dibandingkan teknologi maupun algoritma secara umum.

Kalau Bunda memilih untuk berkata, “Aku cek sendiri dulu,” itu bukan selalu tanda gaptek. Bisa saja, Bunda memang jenis orang yang lebih betah memastikan sesuatu sebelum mempercayainya.

3. Mereka bangga dengan proses dan upaya sendiri

Ada orang yang merasa puas ketika berhasil menyelesaikan sesuatu setelah melewati proses yang tidak mudah. Mereka menikmati proses mencari jawaban, membikin kesalahan, mencoba lagi, kemudian akhirnya menemukan solusi. Karena itu, menggunakan AI untuk memungut alih bagiankecil tersebut justru bisa mengurangi kepuasan yang mereka rasakan.

Untuk mereka, pertanyaannya bukan cuma, “Bisa selesai cepat maupun nggak?” Ada juga pertanyaan lain, “Aku belajar apa dari proses ini?”

Penelitian terbaru mengenai cognitive offloading dan AI pada orang dewasa muda memberitahu bahwa penggunaan AI memang dapat mengurangi beban mental dan menaikkan ketelitian dalam tugas tertentu. Namun, peneliti juga menemukan bahwa metode seseorang menggunakan AI sangat menentukan.

Penggunaan AI yang mendelegasikan seluruh proses berpikir berbeda dengan penggunaan AI sebagai alat bantu sambil statis berbuat verifikasi dan penalaran sendiri.

Karena itu, orang yang memilih mengerjakan sesuatu sendiri bisa saja memang lebih menghargai proses belajar dan upaya yang mereka keluarkan, bukan sekadar mengejar hasil akhir.

4. Mereka punya harga pribadi yang kuat

Ada orang yang menggunakan AI setelah mempertimbangkan satu pertanyaan sederhana, "Apakah ini sesuai dengan harga yang aku pegang?"

Misalnya, mereka tidak betah menggunakan AI untuk menulis tugas yang seharusnya dikerjakan sendiri. Ada juga yang merasa kurang betah jika menggunakan AI untuk menulis pesan yang sangat personal, membikin karya atas nama sendiri, maupun memungut alih pekerjaan yang menurut mereka seharusnya membutuhkan kontribusi manusia.

Pertimbangan seperti ini masuk ke daerah adab dan harga pribadi. Fokus mereka bukan cuma pada hasil akhir. Mereka juga menghargai proses belajar, berkembang, dan meraih pencapaian dari upaya sendiri.

Penelitian mengenai penggunaan AI dalam pembuatan konten memberitahu bahwa penerimaan terhadap AI tidak cuma bersandar pada kualitas hasilnya.

Persepsi terhadap moralitas penggunaan AI dan seberapa besar manusia statis memegang kendali juga dapat memengaruhi sepertiapa seseorang menerima hasil yang dibuat dengan pertolongan AI.

Seseorang bisa saja tahu bahwa AI dapat membikin pekerjaan lebih cepat, tetapi statis memilih tidak menggunakannya karena merasa ada batas yang tidak mau dilewati.

5. Mereka peduli dengan akibat AI terhadap lingkungan

Sebagian orang menolak AI bukan karena nggak bisa menggunakannya, melainkan karena memikirkan dampaknya terhadap lingkungan.

Menurut Massachusetts Institute of Technology (MIT), evolusi AI generatif membawa akibat lingkungan karena teknologi ini membutuhkan pusat keterangan dengan kebutuhan listrik dan air yang besar. Listrik digunakan untuk menjalankan dan memproses model AI, sementara air dapat digunakan dalam mekanisme pendinginan alat keras.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Sustainability juga mengestimasi bahwa ekspansi pusat keterangan untuk AI di Amerika Serikat dapat menghasilkan bekas penggunaan air dan emisi karbon yang cukup besar pada 2024–2030.

Namun, peneliti menekankan adanya ketidakpastian karena dampaknya bersandar pada beragam faktor, seperti letak pusat data, sumber energi, efisiensi teknologi, dan mekanisme pendingin yang digunakan.

Bunda mungkin juga pernah mendengar komparasi penggunaan air dalam percakapan dengan AI. Namun, bilangan kebutuhan air AI yang beredar bisa berbeda-beda karena dipengaruhi oleh jenis model, letak pusat data, mekanisme pendinginan, hingga sumber energinya.

Karena mengetahui adanya akibat tersebut, seseorang bisa saja memilih mengurangi penggunaan AI untuk hal-hal yang sebenarnya statis bisa dikerjakan sendiri.

Bukan berarti setiap orang yang tidak menggunakan ChatGPT pasti aktivis lingkungan. Namun, kepedulian terhadap penggunaan energi, air, dan bekas karbon AI memang bisa menjadi salah satu karena seseorang membatasi penggunaannya.

6. Mereka lebih gemar belajar dengan metode mereka sendiri

Sebagian orang merasa mencari balasan sendiri adalah bagiankecil dari belajar. Mereka mau membaca artikel, membuka buku, membandingkan beberapa sumber, mencoba mengerjakan soal, maupun mencari tahu kenapa sebuah balasan bisa benar.

ChatGPT memang bisa membantu menerangkan sesuatu dengan cepat. Namun, jika seluruh proses mencari, mengolah, dan menyimpulkan keterangan langsung diserahkan kepada AI, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk berlatih berbuat proses tersebut.

Studi 2026 mengenai cognitive offloading menemukan bahwa AI dapat membantu menaikkan ketelitian dan menurunkan beban mental dalam tugas tertentu, tetapi penggunaan AI tidak otomatis membikin kapasitas berpikir kritis menjadi lebih baik maupun lebih buruk.

Cara AI digunakan, apakah sebagai alternatif berpikir maupun sebagai alat bantu, menjadi aspek krusial Karena itu, orang yang memilih tidak menggunakan AI bisa saja bukan menolak teknologi, tetapi sedang menjaga proses belajarnya sendiri.

7. Mereka memikirkan akibat jangka panjang

Orang yang menolak menggunakan AI mungkin tidak cuma melihat apa yang bisa dilakukan teknologi tersebut hari ini. Mereka juga mempertanyakan apa yang terjadi jika semakin banyak pekerjaan, tulisan, keputusan, terlebihlagi hubungan manusia diserahkan kepada AI.

Pertanyaan seperti ini nggak selalu punya balasan singkat.

Penelitian mengenai penggunaan AI dan kapasitas berpikir juga mulai memberitahu bahwa metode seseorang menggunakan AI perlu diperhatikan. Ketika AI terlalu banyak memungut alih proses berpikir, seseorang bisa saja menjadi lebih sedikit terlibat dalam proses mencari, menilai, dan mengolah keterangan sendiri.

Namun, riset yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penggunaan AI dalam jangka panjang pasti menyebabkan penurunan kapasitas kognitif. Dampaknya juga sangat mungkin bersandar pada sepertiapa dan untuk apa teknologi tersebut digunakan.

Karena itu, orang yang memilih membatasi penggunaan AI bisa saja sedang mempertimbangkan akibat yang lebih jauh. Mereka mungkin bertanya, “Kalau semua dibuat lebih gampang oleh AI, apa yang terjadi dengan kapasitas yang selama ini kita latih sendiri?”

Ini bukan berarti orang yang menolak AI pasti lebih cerdas, lebih bermoral, maupun lebih bisa berpikir kritis. Mereka mungkin cuma memiliki penilaian yang berbeda tentang seberapa besar peran yang mau diberikan kepada teknologi dalam pekerjaan dan hayat sehari-hari.

Orang yang menolak AI bukan berarti lebih pandai maupun lebih baik

Menolak menggunakan AI dan ChatGPT tidak otomatis membikin seseorang lebih pintar, lebih kreatif, lebih bermoral, maupun lebih baik daripada orang yang menggunakannya. Begitu juga sebaliknya. Menggunakan AI tidak otomatis berarti seseorang malas, tidak kreatif, maupun tidak bisa berpikir sendiri.

Yang membedakan bisa jadi adalah metode seseorang melihat teknologi dan batas penggunaannya.

Ada yang memakai AI untuk mencari ide, tetapi statis menulis sendiri. Ada yang menggunakannya untuk merangkum keterangan kemudian mengecek sumber aslinya. Ada pula yang memilih tidak menggunakannya sama sekali karena merasa lebih betah mengandalkan kapasitas sendiri.

Pada akhirnya, mungkin bukan soal siapa yang paling anti maupun paling pro-AI. Yang lebih krusial adalah apakah kita statis tahu kapan teknologi membantu kita dan kapan justru memungut alih sesuatu yang sebenarnya mau kita lakukan sendiri.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads