Jakarta -
Sering kali kata “maaf” terlontar begitu saja, apalagi ketika Bunda sebenarnya tidak melakukan kesalahan. Misalnya, tanpa sengaja tersenggol orang lain, hendak bertanya dalam rapat, alias ketika situasi yang terjadi sepenuhnya berada di luar kendali.
Kebiasaan mengucapkan “maaf” dalam situasi seperti itu kerap dianggap sebagai corak sopan santun alias keramahan.
Padahal, menurut psikolog, kebiasaan tersebut bisa menjadi respons otomatis yang muncul tanpa disadari lantaran sudah tertanam sejak lama. Hal ini pun disebut dapat menggambarkan kepribadian seseorang, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
7 Ciri kepribadian wanita yang terlalu sering ucapkan maaf
Dilansir The Times of India, psikolog mempelajari ada banyak kepribadian yang muncul di kembali permintaan maaf yang sering dilakukan beberapa perempuan. Berikut di antaranya:
1. Mampu membaca suasana sebelum orang lain menyadarinya
Perempuan yang terlalu sering mengatakan “maaf” umumnya mempunyai tingkat empati yang tinggi dan lebih peka terhadap emosi orang lain.
Hal ini sejalan dengan studi berjudul Associations between Empathy and Big Five Personality Traits among Chinese Undergraduate Medical Students yang dipublikasikan di PMC PubMed Central.
Studi tersebut menemukan bahwa empati berangkaian erat dengan sifat agreeableness (keramahan), salah satu dimensi dalam teori kepribadian Big Five.
Masalahnya adalah rasa bersalah menyelinap masuk dengan cepat, apalagi ketika Bunda sama sekali tidak melakukan kesalahan.
2. Selalu berupaya menyenangkan orang lain (people pleaser)
Para psikolog tidak menganggap perilaku people pleaser sebagai kekurangan. Mereka melihatnya sebagai kebiasaan yang dipelajari, sesuatu yang didapat dari lingkungan sekitar, didikan, dan ketidaknyamanan dalam menghadapi konflik.
Di suatu titik, kata “maaf” menjadi jalan pintas untuk menjaga perdamaian, langkah untuk meredakan situasi sebelum ketegangan meningkat.
3. Menganggap lebih banyak situasi sebagai sesuatu yang perlu dimintai maaf
Perempuan memang condong lebih sering minta maaf dibandingkan laki-laki. Namun, perihal ini bukan berfaedah mereka merasa lebih bersalah, melainkan mempunyai standar yang berbeda dalam menilai suatu tindakan.
Penelitian dalam jurnal Psychological Science menemukan bahwa wanita lebih sering menganggap situasi sehari-hari, seperti terlambat beberapa menit, meminta bantuan, alias merasa merepotkan orang lain, sebagai perihal yang layak diakhiri dengan ucapan “maaf”.
Sementara itu, laki-laki umumnya mempunyai pemisah yang lebih tinggi dalam menentukan apakah suatu tindakan betul-betul merupakan kesalahan yang perlu disesali.
4. Tumbuh dengan tekanan yang tak terlihat
Terdapat tekanan diam-diam dan tak terucapkan pada wanita untuk menjadi penyayang, kompetitif, dan disukai tanpa usaha, semuanya sekaligus, tanpa perlu berupaya terlalu keras.
Sebuah penelitian menemukan bahwa ketika tidak mungkin untuk menjadi ketiganya sekaligus, kebanyakan wanita tidak menyalahkan ekspektasi. Namun, malah menyalahkan diri sendiri.
Rasa itu tidak lenyap seiring bertambahnya usia. Hal tersebut hanya muncul dalam corak ucapan “maaf” yang spontan.
5. Mudah berbaur dan jujur
Sifat mudah berbaur sering kali mendapat reputasi buruk, tetapi sebenarnya itu bukan kelemahan. Justru sifat inilah yang membikin Bunda terlihat hangat, kooperatif, dan betul-betul pandai membangun hubungan.
Masalah mulai muncul ketika sifat mudah berbaur yang tinggi berpasangan dengan ketegasan yang rendah alias kecemasan, saat itulah perihal itu berubah menjadi apa yang disebut para peneliti sebagai akomodasi kompulsif, ialah terus-menerus minta maaf.
6. Takut dianggap berlebihan
Banyak wanita yang sering mengatakan “maaf” sebenarnya mempunyai sifat perfeksionis, meski tidak selalu terlihat.
Ucapan “maaf” menjadi semacam pelindung untuk mengantisipasi penilaian orang lain, baik saat melakukan kesalahan, meminta bantuan, maupun sekadar menyampaikan pendapat dalam percakapan.
Sejumlah penelitian mengaitkan kebiasaan ini dengan rasa takut dianggap sebagai orang yang susah alias merepotkan.
Pola tersebut sering kali terbentuk lantaran mereka terbiasa merasa bahwa penerimaan alias penghargaan dari orang lain kudu diperoleh dengan selalu bersikap menyenangkan dan tidak merepotkan.
7. Harga diri berjuntai pada orang lain
Kebiasaan meminta maaf terus-menerus sering dikaitkan dengan kebutuhan bakal pengesahan dari luar. Perasaan terpendam bahwa nilai diri Bunda berjuntai pada disukai oleh semua orang di ruangan itu.
Para peneliti kesehatan mental menunjukkan bahwa pola ini biasanya berakar sejak dini, di rumah-rumah, di mana kasih sayang terasa bersyarat, sesuatu yang kudu Bunda peroleh melalui perilaku baik.
Nah, itulah beberapa karakter kepribadian wanita yang sering kali mengucapkan “maaf”. Bunda juga termasuk?
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·